Prahara di Tebing Breksi (Bagian 8)

Setelah hawa dingin dari ilmu tapak es penghancur raga dapat diatasi, kini Adinata tinggal melawan tapak es penghancur raga yang sudah kehilangan tajinya yaitu hawa dingin yang serasa menusuk tulang belulang. Meskipun begitu tapak es penghancur raga tetaplah berbahaya dan sama sekali tidak bisa diremehkan. Karena dengan dilambari tenaga dalam yang sangat tinggi, maka ilmu tapak es tetaplah mematikan. 

Dalam kemarahannya yang amat sangat, Ki Gardapati langsung menyerang Adinata dengan ilmu andalannya itu. Namun Adinata dapat menghindarinya dengan lincah. Ia sama sekali tidak gentar menghadapi lawannya tokoh persilatan dari dunia hitam. Ki Gardapati dalam kemarahannya yang meluap-luap, menyerang Adinata dengan ganasnya menggunakan ilmu andalannya Tapak Es Penghancur Raga. Adinata yang sedari tadi menghindar, perlahan-lahan mulai terdesak dan lama-lama menjadi terdesak hebat. Adinatapun tidak mau mati konyol. Iapun melompat jauh ke belakang untuk mengeluarkan ilmu pamungkasnya Tapak Geledek. Menyadari Adinata menyiapkan ilmu pamungkasnya, Ki Gardapatipun mempersiapkan diri. Ia meloncat mundur dan mempersiapkan ilmu Tapak Es Penghancur Raga pada tingkatan tertinggi dan bersiap membenturkanya dengan ilmu tapak geledek kebanggaan padepokan lereng merapi. "Rupanya kamu akan menggunakan ilmu pamungkasmu tapak geledek anak muda, bersiaplah untuk berbenturan dengan ilmu pamungkasku tapak es penghancur raga" kata Ki Gardapati. "Bersiap-siaplah Ki Gardapati, jangan salahkan aku jika kamu menjadi terluka karenanya" jawab Adinata. "Jangan banyak sesumbar anak muda, bersiaplah". Para penontonpun bergidik ngeri melihat pertarungan hebat yang terjadi diantara keduanya. Terlebih Ki Satya dan saudara perguruan Adinata yang lain yang menjadi sangat kagum bercampur khawatir terhadap Adinata.

Tidak berapa lama kemudian keduanya meloncat ke depan dengan kecepatan tinggi sambil mengangkat tangan kanan masing-masing yang sudah dilambari dengan ilmu pamungkas tapak es melawan tapak geledek. Keduanya membenturkan telapak tangan kanannya sambil meloncat diudara. Ada asap yang mengepul keudara ketika benturan terjadi. Dan hasilnya sungguh mengejutkan. Ki Gardapati langsung terlempar ke belakang dan pingsan. Sedangkan Adinata masih bisa berdiri meskipun terhuyung-huyung dan mau jatuh. Ki Satya segera menangkap Adinata tubuh supaya tidak terjatuh. "Kamu tidak apa-apa Ngger?" tanya Ki Satya kepada murid kesayangannya itu. "Badanku terasa lemas sekali guru dan tulang ku serasa sakit semua" jawab Adinata. "Tidak apa-apa Ngger, beristirahatlah, nanti kita obati lukamu dan bisa sembuh seperti sediakala" jawab ki Satya menghibur muridnya.

Ki Saraga melihat kawannya pingsan kemudian membopongnya pergi. "Tunggu pembalasanku" teriak Ki Saraga dengan marah. Ki Satya, Ki Adanu dan beserta murid-murid dari dua perguruan tidak menghiraukan teriakan Ki Satya dan segera menuju ke pendopo padepokan untuk beristirahat dan makan minum sekedarnya.

Ki Satya dan saudara seperguruannya yang lain, serta Ki Adanu dengan murid-muridnya mendekati Adinata yang sedang beristirahat. "Ini minumlah obatnya Ngger biar cepat sembuh" kata Ki Satya dengan lembut. "Terimakasih guru" jawab Adinata dengan suara pelan karena badannya masih lemah. "Kamu hebat Adinata, kamu bisa melawan Ki Gardapati, padahal ilmunya jauh lebih tinggi dari kami berdua" puji Ki Satya. "Terimakasih Guru, itu semua berkat bimbingan dan doa dari guru berdua" jawab Adinata masih merendah. Ambarwati murid Ki Adanu terkagum-kagum dengan Adinata. Adinatapun menyadarinya. Ki Satya dan Ki Adanu yang memperhatikan mereka berdua tersenyum-senyum. "Ambarwati, cobalah kau suapi Adinata, badannya masih lemah, tidak bisa menyendok nasi sendiri" perintah Ki Adanu. "Ah, guru" Ambarwati tertunduk malu dan pipinya memerah. Adinatapun juga tertunduk malu. "Ah, jangan begitu guru, masak aku tidak kuat menyendok nasi" jawab Adinata dengan lugunya. Dan seisi pendopo tertawa melihat tingkah laku mereka berdua.

Bersambung
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Prahara di Tebing Breksi (Bagian 7)

Berkata Adinata kepada Ki Gardapati dengan sopan. "Mohon ijin Ki Gardapati, berikanlah anak muda ini sejurus dua jurus untuk menambah khazanah ilmu kanuraganku". "Hem, bagus anak muda. Kamu masih punya unggah-ungguh dengan orang yang lebih tua. Sudahkah kamu siap dengan resikonya melawanku. Aku tidak akan segan-segan melenyapkanmu" kata Ki Gardapati. "Aku sudah siap Ki, bersiaplah menerima seranganku".

Tidak berapa lama kemudian Adinata sudah berhadap-hadapan dengan Ki Gardapati di gelanggang pertandingan. Orang-orang yang tadinya ketakutan mulai mendekat karena penasaran dengan pertarungan selanjutnya yang akan terjadi. Adinata langsung saja meloncat menyerang dengan lincahnya. Ki Gardapati terkejut dengan serangan yang dilancarkan oleh Adinata. Bahkan beberapa kali ia terpaksa meloncat mundur untuk sedikit menjaga jarak. "Hem, anak muda, aku akui kamu memang punya cukup bekal ilmu. Aku tak akan segan-segan lagi menyerangmu, terimalah seranagn balasanku ini anak muda". Ki Gardapati langsung menyerang dengan ganasnya. Tendangan dan pukulannya sangat berbahaya karena dilambari dengan tenaga dalam tingkat tinggi. Namun ternyata Adinata mampu mengimbanginya. Tanpa disadari oleh Adinata, kebiasaannya selama ini berlatih dengan Induk Harimau Jawa dan Si Loreng telah melipatgandakan ilmunya. Ki Satya beserta saudara seperguruan Adinata yang lainpun takjub dengan kemampuan ilmu kanuragan yang dimiliki oleh Adinata. Sesekali adinata menghindar dan sesekali menangkis serangan dari Ki Gardapati. Benturan kekuatan diantara keduanya begitu hebat dan membuat para penonton menjadi bergidik ketakutan dan mulai agak menjauh dari arena pertandingan.

Tak terasa siangpun telah berganti malam. Namun pertandingan diantara keduanya belumlah selesai. Ki Gardapati yang sudah mulai tidak sabar mulai mempersiapkan diri untuk mengeluarkan ilmu pamungkasnya "Tapak Es Penghancur Raga". Ki Gardapati meloncat jauh ke belakang. Kemudian ia memasang kuda-kuda dan mengatur pernafasannya. Tangannya direntangkan seolah-olah sedang mengumpulkan hawa dingin disekitarnya. Perlahan-lahan namun pasti hawa dingin mulai menyelimuti kawasan disekitar padepokan tebing breksi. Butiran-butiran es mulai muncul di sekitar arena pertandingan. Adinatapun merasakan hawa dingin yang teramat sangat. Badannyapun mulai membiru karena kedinginan.  

Penonton pertandinganpun turut merasakan hawa dingin yang menusuk tulang. "Kalian menjauhlah, jangan sampai badan kalian membeku" Ki Satya memperingatkan. Para penontonpun segera menjauh dari arena peratrungan. Mereka melihat pertandingan dari jarak yang cukup jauh. "Bersiaplah menerima ajalmu anak muda" Ki Gardapati berkata kepada Adinata. Ki Satya yang melihat Adinata badannya membiru karena kedinginan menjadi khawatir. Jika terkena pukulan tapak es penghancur raga bisa-bisa badan Adinata akan langsung membeku dan dapat menemui ajal. Adinatapun menjadi khawatir. Badanya terasa beku dan seluruh tulang-belulangnya terasa sakit. Namun dalam keputusasaannya tanpa ia sadari Adinata mengeluarkan auman harimau yang sangat keras dan menggetarkan. "Hrrr..... Hrr..... Hrr......". Tiba-tiba hawa dingin yang tadi menyelimuti tebing breksi perlahan-lahan pudar dan akhirnya hilang berganti menjadi hawa hangat. Badan Adinatapun perlahan-lahan menjadi normal kembali dan sudah tidak membiru lagi. Ki Gardapati, Ki Satya, Ki Adanu, murid-murid Ki Satya dan Ki Adanupun terkejut. "Kurang ajar kamu anak muda, terimalah seranganku ini" teriak ki Gardapati.

Bersambung
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Prahara di Tebing Breksi (Bagian 6)

"Sekarang siapa yang akan melawanku, atau apakah kalian akan mengeroyoku juga, ayo maju, aku sama sekali tidak takut" tanya Ki Gardapati kepada Ki Satya dan Ki Adanu. Ki Gardapati adalah tokoh dunia persilatan dari golongan hitam yang sangat ditakuti. Ia sangat kejam dan tidak segan-segan untuk membunuh lawannya. Tingkatan ilmunya jauh melampaui Ki Saraga sahabatnya. Ki Gardapati terkenal dengan julukan bayangan hitam dari laut selatan. Ilmunya yang terkenal adalah Tapak Es Penghancur raga. Setiap orang yang terkena ajian Tapak Es Penghancur Raga bisa beku seluruh badannya dan terluka dalam yang sangat sulit dapat dipulihkan. Ki Satya dan ki Adanu berpandang-pandangan. Sejujurnya keduanya ngeri kalau harus melawan Ki Gardapati. Keduanya sudah kehilangan banyak tenaga ketika melawan Ki Saraga. Apalagi harus melawan Ki Gardapati yang kesaktianya jauh melampaui Ki Saraga belum lagi keadaannya masih segar bugar. "Kenapa kalian tidak menjawab, apakah kalian takut menghadapiku, kalau begitu menyerahlah, biarkan aku menghancurkan padepokan kalian, karena kalian sudah tidak pantas lagi memimpin?" tanya Ki Gardapati mulai tidak sabar. "Baiklah Ki Gardapati, kami berdua akan melawanmu" jawab ki Satya. Mendengar jawaban Ki Satya, Adinata khawatir dengan kondisi kesehatan Ki Satya yang kelelahan dan memberanikan diri untuk tampil melawan Ki Gardapati. "Tunggu guru, ijinkanlah ananda yang melawan Ki Gardapati. Guru berdua silahkan beristirahat dulu" Kata Adinata. Ki Satyapun agak kaget mendengar permintaan Adinata anak muridnya. "Apakah kamu yakin Adinata, sudah tahukah akamu resikonya?" tanya Ki Satya meyakinkan. "Ananda sudah tahu guru, ijinkahnlah ananda untuk melawannya, saya sangat yakin dengan kemampuan ananda" jawab Adinata meyakinkan gurunya. "Baiklah, kamu akan aku beri kesempatan, berhati-hatilah, Ki Gardapti sangat berbahaya" nasihat Ki Satya. "Baiklah guru, mohon ijin guru, saya akan melawannya" jawab Adinata.

Bersambung
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Prahara di Tebing Breksi (Bagian 5)

"Mana murid-murid perempuan kalian yang cantik-cantik dan masih muda, akan aku bawa ke Nusakambangan untuk menemaniku bersenang-senang" tiba-tiba Ki Saraga berkata dengan keras sambil matanya jelalatan mencari-cari murid perempuan Ki Satya dan ki Adanu dengan mata cabulnya. "Jaga mulutmu Saraga, dasar mulut sampah" Ki Satya marah sekali. "Dasar pendekar kurang ajar, sudah bosan hidup ya?" Ki Adanu juga marah sekali. Indraswari dan Ambarwati bergidik ngeri tak dapat membayangkan bila bersama Ki Saraga. "Buktikan, omongan besar kalian, maju kalian berdua hadapi seranganku ini" kata Ki Saraga sambil menyerang Ki Satya dan Ki Adanu. Ki Saraga langsung menyerang dengan senjata andalanya rantai panjang yang ujungnya terdapat mata kampak yang sangat tajam. Ki Adanu dan Ki Satya harus berhati-hati jika tidak ingin terkena senjata andalan dari Ki Saraga. Ki Saraga memutar-mutar senjatanya dengan cepat dan sesekali seperti mematuk dengan derasnya menuju badan Ki Satya dan ki Adanu. Tidak dapat dibayangkan apabila senjata itu dapat mengenai korbannya. Pertempuranpun menjadi tidak seimbang, karena perlahan tapi pasti Ki Satya dan Ki Adanu terdesak oleh rantai berujung kampak yang berputar-putar dan mematuk mengerikan mencari mangsa. Untuk mengimbangi senjata dari Ki Saraga dengan terpaksa Ki Satya mengeluarkan senjata pusaka andalannya sepasang pedang tipis yang kelihatannya sangat tajam sekali. Ki Adanu juga tidak mau kalah juga mengeluarkan senjata pusaka andalannya tombak pendek dari kayu sonokeling yang ujungnya terdapat mata pisau yang sangat tajam. Setelah kedua pendekar beraliran putih itu mengeluarkan senjata pusakanya secara perlahan-lahan Ki Saraga mulai terdesak. Ki satya dan ki Adanu dengan padu silih berganti menyerang Ki Saraga. Benturan senjatapun lebih sering terjadi. Setelah bertarung sekian lama ketiganyapun mulai kelelahan. Ki Satya dan Ki Adanu ingin segera menyelesaikan pertarungan. Keduanya meningkatkan serangan dan pada akhirnya pada satu kesempatan, Ki Satya dengan sepasang pedang tipisnya berhasil menggores lengan dari Ki saraga. "Aduh, kurangajar kalian" teriak Ki Saraga kesakitan dan senjatanya terlepas dari genggamannya. "Berhenti, apakah kalian tidak malu mengeroyok sahabatku Ki Saraga" teriak Ki Gardapati menghentikan pertandingan. Mendengar teriakan itu Ki Satya dan Ki Adanu segera meloncat mundur dan menghentikan serangan terhadap Ki Saraga.

Bersambung
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Prahara di Tebing Breksi (Bagian 4)

Sebelum pertandingan selanjutnya dimulai, tiba-tiba terdengar suara tawa yang keras menggelegar namun sangat menyakitkan untuk didengarkan. "Hai Adanu, Satya, kalian bermain-main kenapa kami tidak diundang" terdengar suara yang berat dan mengerikan. "Hei, kamu siapa, kesini kalau berani" Ki Satya menjawab. "Tampakan batang hidungmu hai tamu tak diundang" Kata Ki Adanu menimpali. "Ha ha ha ha, siapa takut" tiba-tiba muncul dua kelebat bayangan yang langsung turun ke gelanggang pertandingan. "Oh, rupanya kamu Ki Gardapati dan Ki Saraga, ada apa berani membuat keributan di sini" tanya Ki Satya. "Aku ingin tahu seberapa dashyat kepalan geledekmu Satya" jawab Ki Gardapati. "Kalau aku ingin tahu seberapa hebat tendangan halilintarmu Adanu" jawab Ki Saraga. Dunia persilatan sudah mengenal dua tokoh yang sangat terkenal di dunia hitam. Ki Gardapati adalah tokoh hitam yang terkenal kejam dan bengis dan menebar kejahatan dimana-mana. Ki Gardapati terkenal dengan julukannya bayangan hitam dari pantai selatan. Sedangkan Ki Saraga terkenal dengan julukannya pemetik bunga dari nusa kambangan karena kegemarannya dengan gadis-gadis muda yang masih perawan

Bersambung
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Prahara di Tebing Breksi (Bagian 3)

Pertandingan berikutnya adalah dua lawan dua. Ki Satya dan Ki Adanu telah sepakat, biar pertandingan tidak membosankan maka polanya di rubah dari satu lawan satu diubah menjadi dua lawan dua. Bhadrika dan Nismara murid Ki Satya dari Padepokan Lereng Merapi akan melawan Abiyasa dan Admaja murid Ki Adanu dari Padepokan Tebing Breksi. "Silahkan persiapkan diri kalian masing-masing" perintah Ki Adanu dengan tegas. Bhadrika, Nismara, Abiyasa dan Admaja segera bergegas mempersiapkan diri. Tidak berapa lamapun mereka berempat telah bersiap di gelanggang pertandingan. Penontonpun bersorak-sorak memberi semangat.

"Bersiaplah Kakang berdua, aku akan segera menyerang" kata Bhadrika kepada Abiyasa dan Admaja. "Baik Adi, kami berdua sudah siap menanti serangan dari kalian" jawab Abiyasa. Tidak berapa lama kemudian Bhdarika dan Nismara dengan gerak hampir serentak telah melompat menyerang dengan pukulannya yang cepat dan dahsyatnya. Inilah yang menjadi ciri khas perguruan lereng merapi, kepalan geledek. Namun Abiyasa dan Admaja bergerak dengan lincahnya menghindari kadang menangkis setiap serangan dari Bhadrika dan Nismara. Kemudian sesekali keduanya juga melakukan serangan balik dengan kekuatan dan kecepatan tendangan yang menjadi ciri khas perguruan tebing breksi, tendangan halilintar.

Penontonpun bersorak sorai memberi semangat kepada peserta yang sedang bertanding. Pertandingan ini makin lama makin memanas. Kedua kubu ini saling jual beli serangan. Gerakan keempatnya yang cepat bahkan sulit diikuti oleh mata biasa. Mata awam hanya akan melihat seperti lingkaran yang bergulung-gulung disertai dengan suara benturan yang keras. 

Namun setelah sekian lama bertanding, nampak bahwa Abiyasa dan Admaja mengungguli Bhadrika dan Nismara. Serangan keduanya semakin sering mendarat ke badan murid Ki Satya. Menyadari hal ini Ki Satya segera berteriak. "Berhenti". Keempatnya segera menghentikan pertandingan. "Setelah saya dan Ki Adanu mengamati, Abiyasa dan Admaja ternyata lebih unggul dari Bhadrika dan Nismara. Nah sekarang kalian berempat bisa beristirahat untuk mengobati luka kalian" lanjut Ki Satya memberi perintah.

Mereka berempat segera bergegas menuju pendopo untuk sekedar beristirahat dan mengobati luka-luka yang diderita akibat mengikuti pertandingan.

Bersambung
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Prahara di Tebing Breksi (Bagian 2)

Pertandingan berikutnya adalah Wilalung yang bertubuh tinggi besar melawan Danurdara. Keduanya segera masuk ke gelanggang pertandingan dan masing-masing segera mempersiapkan diri. "Bersiaplah Kangmas Wilalung, aku tidak akan segan-segan untuk menyerangmu" kata Danurdara memperingatkan. "Baiklah Adi Danurdara, aku sudah siap menerima seranganmu" jawab Wilalung dengan penuh percaya diri. Tanpa banyak basa-basi Danurdara langsung menyerang Wilalung dengan dashyatnya. Danurdara lebih banyak mengandalkan serangan lewat tendangan kakinya sesuai dengan ciri khas perguruannya yaitu Tendangan Geledek. Dengan tubuhnya yang tinggi besar, Wilalung agak kesulitan dalam menghindari setiap serangan dari Danurdara. Untuk itu Ia lebih banyak bertahan dengan cara menangkis setiap serangan dari Danurdara. Tidak terelakan, diantara keduanya sering terjadi benturan kekuatan. perlahan-lahan, keduanyapun mulai diliputi kelelahan.

Setelah sekian lama bertahan, Wilalung mulai kehilangan kesabarannya. Iapun meloncat kebelakang untuk mempersiapkan diri menggunakan ilmu pamungkasnya. Ia mengatur pernapasannya. Meskipun Wilalung baru mencapai tingkat ketiga dari jurus Kepalan Geledek namun Ia tidak bisa diremehkan. "Bersiaplah Adi Danurdara" teriak Wilalung. Menyadari Wilalung telah menyiapkan jurus pamungkasnya Danurdarapun tidak mau ketinggalan segera memasang kuda-kuda untuk mengeluarkan jurus andalannya "Tendangan Geledek". Tidak berapa lama kemudian Wilalungpun telah mulai menyerang dengan pukulan tangannya yang telah dilambari dengan ilmu Kepala Geledek". Serangannya meskipun agak lambat namun cukup bertenaga. Menyadari bahwa akan sangat fatal jika ia sampai terkena pukulan kepalan geledek dari wilalung maka Danurdarapun berusaha menghindari setiap serangan dari wilalung. Danurdara dengan lincahnya berloncatan kesana kemari menghindari pukulan-pukulan yang berbahaya dari Wilalung. Namun meskipun begitu beberapa kali telah terjadi benturan kekuatan diantara keduanya dan Danurdarapun mulai merasakan nyeri di sekujur badannya.

Lambat namun pasti, serangan Wilalungpun semakin lama semakin mengendor. Rupanya ia mulai kehilangan banyak tenaga. Tidak menyia-nyiakan kesempatan itu dengan secepat kilat Danurdara menendang  bagian pinggang dari Wilalung dan iapun tidak sempat menghindar. "Aduh, sakit" teriak Wilalung tanpa sengaja. Iapun meloncat mundur dan merasakan nyeri dipinganggnya. "Aku mengaku kalah Adi" kata Wilalung kepada Danurdara. "Berhenti, pertandingan kalian sudah cukup" teriak Ki Adanu. Penontonpun bersoraksorai menyemangati keduanya. "Bagaimaka Kakang wilalung, tidak terluka parah kan?" tanya Danurdara. "Tidak Adimas, kamu memang hebat, suatu saat nanti kamu bisa menjadi pendekar yang tangguh" puji Wilalung kepada Danurdara. "Terimakasih Kakang. Kangmas juga hebat, saya juga terluka ini, mari kita ke pendopo biar kita bisa beristirahat dan dapat segera diobati lukannya" ajak Danurdara. "Mari Adi Danurdara" jawab Wilalung. Keduanyapun berjalan agak tertatih-tatih menuju ke pendopo padepokan.

Bersambung
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Prahara di Tebing Breksi (Bagian 1)

Pagi harinya pertandingan segera dimulai. Lebih tepatnya latih tanding. Karena sejatinya pertandingan ini bukan untuk mencari siapa menang siapa kalah, namun lebih ke pertandingan persahabatan saja, untuk meningkatkan paseduluran diantara padepokan-padepokan yang ada di tlatah Mataram. Yang akan bertanding pertama kali adalah Indraswari murid dari padepokan lereng merapi melawan Ambarwati dari padepokan tebing breksi. Kedua-duanya sama-sama cantik dengan pesonanya masing-masing. Keduanya segera bersiap menuju gelanggang yang telah dipersiapkan. Gelanggang untuk pertandingan terletak di depan Pendopo Padepokan Tebing Breksi. Adapun peserta yang lain menonton mengitari lapangan. Ada juga penduduk desa disekitar padepokan yang turut menyaksikan pertandingan karena memang diperbolehkan oleh Ki Adanu. Ki Satya beserta Ki Adanu, dan tamu undangan yang lain duduk lesehan di Pendopo  di atas tikar yang disediakan untuk menyaksikan jalannya pertandingan dari kejauhan sambil menikmati hidangan makanan dan minuman ala kadarnya.

"Bersiaplah Nimas, jangan ragu-ragu untuk menyerangku" kata Indraswari. "Baiklah Adinda, beri petunjuk kepada sahabatmu ini" jawab Ambarwati. Kedua-duanya kemudian mengatur pernafasan dan memasang kuda-kuda. "Bersiaplah Adinda" Ambarwati langsung meloncat menyerang dengan lincahnya. Ia banyak menyerang menggunakan kekuatan kakinya yang merupakan ciri khas dari perguruannya. Indraswaripun meladeni serangan Ambarwati dengan tenangnya. Serangan Ambarwati yang bergulung-gulung mengurungnya dihindarinya dengan tangkas. Kadang-kadang iapun menangkis dengan tangannya. "Hati-hati Nimas, terimalah serangan balasan dariku" Indraswari balik menyerang dengan mengandalkan kekuatan dan kelincahan pukulan tangannya yang merupakan ciri khas dari perguruannya. Keduanyapun saling jual beli pukulan dan serangan. Pertandingan berjalan sangat seru. Penonton bersorak-sorai memberi semangat.

Setelah sekian lama bertarung, nampak bahwa Indraswari lebih unggul. Perlahan-lahan Ambarwati terdesak oleh serangan-serangan yang dilancarkan oleh Indraswari. Satu dua pukulan dan tendangan mulai bersarang di badannya. Badanya mulai lebam-lebam karena terluka. "Berhenti" teriak Ki Satya dan Ki Adanu secara hampir bersamaan. Sebelum Ambarwati mengalami cidera yang serius, Ki Satya dan Ki Adanu dengan bijaksana telah menghentikan jalannya pertandingan. Mendengar perintah dari Ki Satya, Indraswari dan Ambarwatipun segera berhenti bertarung dan masuk ke dalam bangunan yang ada di padepokan untuk bersistirahat dan mengobati luka-luka yang diperoleh selama pertandingan berlangsung.

Bersambung
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Auman Harimau Muda (Bagian 8)

Satu hari kemudian Ki Satya mengumpulkan kelima muridnya. "Anak-anakku, sudah genap 3 kali bulan purnama kalian berlatih dengan keras untuk menghadapi pertandingan di Tebing Breksi. "Apakah kalian sudah siap untuk mengikuti latih tanding itu?" tanya Ki Satya ingin mengetahui kebulatan tekad murid-muridnya. "Siap Guru" jawab Adinata dan keempat adik seperguruannya dengan serempak. Bagus, kalau begitu kita kesana dengan berjalan kaki saja, karena jaraknya tidak terlalu jauh. Kalau semuanya lancar, nanti sore kita sudah sampai kesana. Tidak berapa lama Ki Satya dan kelima muridnya berangkat dengan berjalan kaki dan membawa bekal seadanya. Lama waktu perjalanan dari lereng bukit Merapi hingga ke tebing Breksi kira-kira setengah hari jika ditempuh dengan berjalan kaki. Ditengah perjalanan mereka menyempatkan diri beristirahat dan memakan bekal nasi sayur lodeh lauk ikan asin yang dibuatkan Nini Satya sambil minum Dawet Sor Ringin Kalasan yang segarnya tiada duanya. 

Sore harinya mereka telah sampai di Padepokan Tebing Breksi. Ki Adanu menyambutnya dengan suka cita dan ramah tamah. Maklum, Ki Satya adalah kakak seperguruan dari ki Adanu dan beliau sangat menhormati kakak seperguruannya itu. Sesudah beramah tamah sebentar keenam tamunya itu segera dipersilahkan untuk mandi dan beristirahat dulu kemudian dilanjutkan dengan makan malam bersama.

Ki Adanu juga mempunyai lima murid, satu diantaranya juga perempuan. Dari yang tertua namanya Bayuaji, Abiyasa, Admaja, Danurdara dan yang terakhir bernama Ambarwati. Kelimanya juga diajak makan malam bersama untuk menjamu tamu dari padepokan lereng Merapi. Nini Adanu yang terkenal pintar memasak telah menyuguhkan nasi hangat dan sayur nangka serta ayam goreng Kalasan. Tidak lupa pula Nini Adanu membuatkan sayur tempe tahu krecek yang menjadi makanan yang sangat disukai Ki Satya. Dan merekapun makan dengan riang gembira dengan diselingi canda dan tawa.

Sebenarnya yang datang dan akan mengikuti pertandingan tidak hanya dari padepokan lereng Merapi namun ada juga dari perguruan lain diantaranya padepokan Tambakbayan, padepokan Karangsari dan masih banyak lagi, mereka juga sudah dijamu dengan baik selayaknya seorang tamu. Rencananya acara latih tanding akan digelar dipagi hari sampai malam tergantung jumlah peserta dan perkembangan situasi yang ada. Peserta yang diundang adalah yang berasal dari aliran perguruan putih yaitu perguruan silat yang mengajarkan kebaikan dan bukan jalan yang sesat.

Bersambung
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Auman Harimau Muda (Bagian 7)

Hari demi hari, bulan berganti bulan Adinata secara rutin berlatih olah kanuragan dengan induk harimau jantan. Namun ternyata tanpa disadari oleh Adinata, Si Loreng turut belajar mengikuti gerakan-gerakan induknya dan mulai belajar mengaum. Auman harimau muda Si Loreng memang belum sekeras dan sehebat induknya namun sudah mampu untuk menggetarkan hati dan membuat ciut nyali siapapun yang mendengarkannya. Setelah berlatih bersama induk harimau jantan, biasanya Adinata melanjutkannya dengan latihan ringan bersama si Loreng. Si Loreng kini sudah tumbuh semakin besar dan kelihatan tanda-tanda kegagahannya seperti induknya. Tanpa disadari oleh Adinata, ilmunya jurus kepalan geledek dengan dipadukan oleh unsur kecepatan dan kelincahan gerak harimau jawa, ia telah mencapai tataran ilmu yang sama dengan yang dimiliki oleh Ki Satya gurunya, bahkan mungkin jauh lebih tinggi. Gurunya Ki Satya dan adik-adik seperguruannya tahu bahwa Adinata berlatih ilmu beladiri di pinggir hutan untuk mempersiapkan diri menghadapi pertandingan, namun mereka tidak mengetahui bahwa Adinata memperdalam ilmunya dengan dibantu oleh induk harimau jantan bersama Si Loreng teman berlatih sekaligus kawan bermainnya.

Setelah berlatih sekian lama, suatu hari Adinata sedang berlatih bersama Si Loreng. Namun tiba-tiba datang sepasang harimau jantan dan betina induk dari Si Loreng menyerangnya dengan ganas. Keduanya menngereng dan mengaum dengan keras seperti sedang marah besar. Serangan sepasang harimau itu bergulung-gulung disekitar Adinata. Adinata terkejut sekali, ia biasanya berlatih hanya satu lawan satu namun sekarang ia harus menghadapi sepasang harimau yang sama ganasnya. Namun meskipun dihinggapi rasa khawatir, ia tetap tenang dan berusaha menghindari setiap serangan dari sepasang harimau jawa itu. Sebenarnya ia tidak ingin melukai induk Si Loreng, maka ia menahan diri untuk tidak menggunakan ilmu pamungkasnya Jurus Kepalan Geledek. Dengan lincah dan cekatan ia menghindari setiap serangan dari sepasang harimau jawa ini namun perlahan-lahan hal ini ternyata menguras tenaganya.

Untuk secepatnya menyelesaikan pertarungan sebelum tenaganya habis, ia dengan terpaksa menggunakan jurus kepalan geledek andalanya, meskipun dengan menggunakan seperempat tenaganya. Tendangan dan pukulannya menyambar-nyambar kearah sepasang harimau jawa itu namun ternyata setiap serangannya juga dapat dihindari dengan mudah. Bahkan beberapa serangan sepasang harimau jawa itu satu persatu mulai mengenai badannya. Menyadari dirinya kian terdesak, Adinatapun mundur meloncat kebelakang dan mengatur pernafasannya. Ia mulai menyiapkan diri untuk mengeluarkan jurus Kepalan geledek dengan menggunakan seluruh sisa-sisa tenagannya. Namun tiba-tiba seolah menyadari adanya bahaya, sepasang harimau jawa itu berhenti menyerangnya dan hanya memandangnya. Adinatapun teringat pesan Ki Satya gurunya agar tidak mudah marah tetap tenang dan harus mampu mengendalikan diri. Mengingat hal itu Adinatapun mengurungkan niatnya menyerang sepasang harimau jawa itu. Setelah berpikir sejenak, ternyata ia baru menyadari bahwa sepasang harimau itu hanya ingin berlatih dengannya tidak sepenuhnya benar-benar menyerangnya terbukti ia hanya mengalami luka cakar yang ringan.

Setelah pertarungan yang hebat dengan sepasang harimau jawa induk dari Si Loreng Adinatapun kelelahan dan tertidur di pinggir hutan. Si Lorengpun menemaninya dengan ikut tertidur manja di dekat Adinata. Sorenya iapun baru terbangun dan segera pergi ke sungai untuk mandi kemudian kembali ke padepokan. Adapun Si Loreng tidak pernah mau mengikuti sampai padepokan. entah kenapa ia tidak mau bertemu dengan orang lain selain Adinata.

Bersambung
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

AUMAN HARIMAU MUDA (BAGIAN 6)

Pada suatu sore, Adinata sedang mencari kayu bakar di pinggir hutan. Tiba-tiba ia melihat seekor anak harimau yang hampir terperosok ke bibir jurang. Anak harimau itu seperti menangis meminta tolong. Adinata kasihan melihatnya dan menolong anak harimau yang malang itu. Setelah di tolong Adinata anak harimau itu seperti melompat-lompat kegirangan sambil mengitari tubuh Adinata yang melihatnya keheranan. Anak harimau itu mengibas-kibaskan ekornya dan mengusap-usap kaki Adinata seolah-olah ingin bermanja-manja. Tidak berapa lama kemudian munculah sepasang Harimau yang berbadan besar menghampiri anak harimau itu. Namun anehnya seolah-olah tahu berterimakasih, sepasang harimau itu tidak menyerang Adinata sama sekali. Setelah menyadari tidak ada bahaya yang akan menimpanya Adinatapun pulang kembali ke padepokan dan sepasang harimau beserta anaknya itu masuk kembali kedalam hutan.

Di pagi harinya Adinata melatih jurus-jurus Kepalan Geledek yang telah diajarkan oleh Ki Satya. Ia berlatih tepat dipinggir hutan ketika ia menemukan anak harimau yang hampir terperosok ke dalam jurang, Dalam hatinya ia ingin bertemu dengan anak harimau itu karena menurutnya anak harimau itu sangat lucu dan menggemaskan. Setelah berlatih sekitar 3 kali waktu sepeminum teh tiba-tiba muncul anak harimau beserta sepasang induknya. Mengetahui Adinata sedang berlatih jurus Kepalan Geledek induk harimau jantan malah menyerangnya dengan lincah dan bertenaga. Adinata sebenarnya tidak ingin menyakiti harimau jantan itu namun ia terpaksa menghadapinya. Demi keselamatannya iapun balas menyerang harimau jantan itu dengan menggunakan jurus kepalan geledek yang ia pelajari dari Ki Satya. Namun ia hanya menggunakan sekitar seperempat tenaganya sehingga tidak akan membahayakan harimau jantan itu pikirnya.

Namun ternyata diluar perkiraanya harimau jantan itu bisa mengimbangi serangan kepalan geledek dari Adinata. Dan harimau jantan itu seperti meningkatkan serangannya ke Adinata. Ia menyerang Adinata dengan cakaran dan gigitannya secara bertubi-tubi. Menyadari situasi yang semakin berbahaya, dengan terpaksa ia menggunakan ilmu puncaknya kepalan geledek dengan tenaga sekuat-kuatnya. Adinata telah mencapai tingkat ketujuh dari jurus Kepalan Geledek. Siapa saja yang terkena pukulannya bisa menyebabkan kematian setidak-tidaknya akan terluka parah. Bahkan batu sebesar anak kambingpun pasti akan hancur lebur jika terkena pukulannya.

Aneh sekali, induk harimau jantan itu sama sekali tidak gentar dengan jurus kepalan geledek Adinata. Bahkan setiap serangan dari Adinata seolah-olah hanya mengenai angin kosong. Harimau itu seperti menari-nari menghindari serangan Adinata sambil sesekali menyerang Adinata dengan cakarannya. Setelah sekian lama bergulat mengadu ilmu dengan harimau itu Adinata perlahan-lahan menyadari bahwa induk harimau jantan itu seperti sedang melatihnya. Harimau itu tidak sungguh-sungguh menyerangnya namun seperti sedang mengulang-ulang jurus tertentu. Tidak berapa lama Adinatapun kelelahan dan induk harimau jantan itu seolah-olah mengerti dan berhenti menyerangnya. Harimau jantan itu kemudian mengeluarkan auman yang sangat keras dan setiap orang yang mendengarnya pasti akan dibuat bergidik ngeri. Setelah mengaum induk harimau jantan beserta induk harimau betina itupun masuk kembali kedalam hutan. Tetapi si anak harimau ternyata tidak ikut masuk kedalam hutan. Ia justru mendekati Adinata sambil mengibas-kibaskan ekornya dan mengusap-usapkan badannya ke kaki Adinata seolah-olah ingin bermanja-manja. Adinatapun tertawa melihatnya. "Kamu aku namakan si Loreng ya" kata Adinata seperti sedang berbicara dengan anak harimau itu. Dan Si Loreng pun melompat-lompat kegirangan seperti menyetujui nama yang diberikan Adinata untuknya. Adinatapun kemudian memakan bekal yang ia bawa, nasi bakar lauk ayam goreng. Dan Si lorengpun tidak lupa di beri jatah ayam goreng dan ia segera memakannya dengan lahap.

Bersambung.
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Auman Harimau Muda (Bagian 5)

"Murid-muridku, saya telah cukup melihat apa yang kalian tampilkan dan peragakan, saya sangat bangga bahwa kalian telah sampai tataran tingkat yang cukup membuatku kagum. Namun aku ingin mengingatkan pada kalian, dari yang kulihat tadi ternyata kalian belum punya cukup sifat rendah hati dan ketenangan diri. Terbukti dengan kalian terbawa perasaan dan saling menyerang antara sesama saudara sendiri bukan lagi dalam tataran taraf latih tanding namun sudah menuju kearah adu kuat, adu kemampuan, dan saling ingin menunjukan kemampuan di atas lawan. Ketahuilah muridku, hal ini tidaklah baik. Kalian harus belajar menahan diri dan melatih ketenangan batin dalam situasi apapun. Sekarang kalian hanya berlatih melawan saudara seperguruan sendiri, namun nantinya tidak terbayangkan jika kalian bertanding dengan orang lain, kalian akan mudah terbawa emosi, terbawa nafsu jahat untuk sesegera mungkin menjatuhkan lawan, dan nantinya hanya akan menyebabkan kalian kehilangan kewaspadaan dan akan membahayakan kalian sendiri. Untuk melatih ketenangan dan pengendalian diri, perbanyaklah beribadah dan berdoa kepada Tuhan, semoga Tuhan meridhoi apa yang menjadi hajat kalian" Ki Satya memberi wejangan dan nasihat. "Baiklah guru, saya mewakili diri pribadi dan adik-adik seperguruan akan selalu mengingat nasihat dari guru dan akan berusaha semaksimal mungkin untuk melaksanakannya" jawan Adinata mewakili saudara-saudaranya.

"Satu lagi yang ingin saya tekankan disini, kalian kelihatan sekali belum menguasai teknik pernafasan yang baik sehingga pukulan dan tendangan kalian seperti kurang bertenaga, latihlah teknik pernafasan kalian dengan baik sehingga nanti dengan sendirinya akan timbul kekuatan yang besar dari diri kalian sendiri dan jika sudah sampai pada tingkatan tertentu, kalian dapat menyalurkan kekuatan itu pada bagian-bagian dari anggota badan kalian untuk menyerang ataupun bertahan" lanjut Ki Satya memberi nasihat. "Baik guru, akan kami laksanakan" kelima murid Ki Sayta menjawab serempak. "Baiklah sekarang kalian lihat peragaan jurus Kepalan Geledek tingkat 10 dariku, aku akan menyerang bongkahan batu sebesar anak kerbau itu dengan kepalan tanganku"

Ki Satya kemudian mengatur pernafasannya. Ia memasang kuda-kuda untuk menyerang batu sepesar anak kerbau yang ada di hadapannya. Tangannya mengepal erat. Seolah-olah seluruh kekuatannya dialirkan keangannya yang mengepal. Kemudian dengan secepat kilat ia memukul batu sebesar anak kerbau itu dengan cara meninjunya dengan tangan yang terkepal. Dan terkejutlah Adinata beserta keempat adik seperguruannya, batu sebesar anak kerbau itu menjadi hancur berkeping-keping. Sungguh mengagumkan sekali. Tidak terbayang jika pukulan itu mengenai badan manusia. Tidak heran jurus Ki Satya ini dinamakan kepalan geledek, karena kecepatannya dan kekuatannya. Ki Satya mengatur nafas kembali. Setelah nafasnya teratur Ia segera berujar kepada muridnya.

"Nah, kalian lihat kan, batu sebesar anak kerbau itu bisa hancur lebur ditanganku, suatu saat nanti jika kalian rajin berlatih, maka tidak mustahil kalian juga akan mampu menguasainya, bahkan lebih hebat dari saya". Adinata menjawab "Baik Guru, saya dan adik-adik seperguruan akan rajin berlatih supaya bisa mempunyai kemampuan seperti guru". "Nah, sekarang istirahatlah kalian, nanti kalau kalian sudah mandi dan berganti pakaian kita makan siang bersama-sama, kebetulan Nini tadi memasak pepes gurami kesukaan kalian" Ki Satya memberi perintah. "Baik Guru, terimakasih" jawab kelima murid Ki Satya serempak. Ternyata Ki Satya adalah orang yang sangat baik hatinya. Ia menyediakan makanan-makanan yang terbaik dan bergizi untuk kelima murid kesayangannya. Adinata dan keempat saudaranya yang lainpun dapat merasakan kasih sayang gurunya itu meskipun Ki Satya tidak pernah mengungkapkannya.

Bersambung

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

AUMAN HARIMAU MUDA (BAGIAN 4)

"Selanjutnya Wilalung dan Indraswari, tunjukan kemampuan kalian kepadaku" ujar Ki Satya. "Baik Guru" jawab keduanya serempak. Indraswari menguasai jurus Kepala Geledek setingkat lebih tinggi dari Wilalung. Indraswari telah menguasai jurus Kepalan Geledek tingkat ke empat sedangkan Wilalung menguasai jurus Kepalan Geledek tingkat 3. Namun meskipun menguasai tingkatan jurus yang lebih rendah Wilalung tidak bisa diremehken karena badannya yang tinggi besar sesuai dengan namanya. Keduanya segera mempersiapkan diri. "Bersiaplah Kakang, aku tidak segan-segan menyerangmu" kata Indraswari. "Silahkan Nimas, Kakang sudah siap" jawab Wilalung. Inraswari segera menyerang Wilalung dengan cekatan. Tendangan dan pukulan kepalan tangan datang silih berganti menyambar-nyambar di sekitar Wilalung. Namun dengan badannya yang tinggi besar dan tenaganya yang kuat, Wilalung menangkis setiap serangan dari Indraswari. Setiap benturan yang terjadi membuat tangan dan kaki Indraswari terasa sakit karena serasa membentur batu karang yang kokoh. Menyadari hal itu Iapun berusaha menghindari setiap benturan tenaga dengan Wilalung, Ia lebih banyak mengandalkan kecepatan tubuhnya dan kelincahannya dalam menyerang dan menghindari. Sesekali pukulan dan tendangannya mengenai tubuh Wilalung. Menyadari hal ini Wilalung lama kelamaan mulai agak panas hatinya dan mulailah Ia membalas serangan dari Indraswari. Dengan sekuat tenaga ia menyerang Indraswari dengan mengandalkan kekuatan pukulan tangan dan tendangan kakinya. Meskipun lambat, namun jelas-jelas serangannya sangat berbahaya. Meleng sedikit saja Indraswari bisa terluka dalam jika terkena pukulannya. Perlahan-lahan Wilalung bisa mengimbangi Indraswari dan jual beli pukulan serta tendangan mulai membuat mereka berdua luka-luka dan lebam di badan. Menyadari hal itu Ki Satya segera menghentikan latih tanding itu. "Cukup, berhenti" Teriak Ki Satya. "Baik Guru" jawab Indraswari dan Wilalung hampir bersamaan.

Bersambung 
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

AUMAN HARIMAU MUDA (BAGIAN 3)

"Adinata, kamu maju, lawan dua adikmu Bhadrika dan Nismara" perintah Ki Satya. "Baik guru" jawab Adinata. Adinata yang telah menguasai tingkat ketujuh dari jurus kepalan geledek ditunjuk untuk berlatih tanding dengan dua adik seperguruannya, Bhadrika dan Nismara yang menguasai tingkat kelima dari jurus kepalan geledek. "Bersiaplah Kakang Adinata" kata Bhadrika dan Nismara serempak. "Baiklah Adi, kalian jangan sungkan-sungkan, keluarkan semua ilmu yang kalian miliki" jawab Adinata kepada dua adik seperguruannya itu. Ketiganya segera bersiap di halaman padepokan untuk berlatih tanding dengan disaksikan langsung oleh Ki Satya. Bhadrika dan Nismara dengan lincahnya langsung menyerang Adinata. Pukulan dan tendangan dari Bhadrika dan Nismara datang silih berganti dengan kecepatan yang mengagumkan menggulung Adinata. Namun Adinata, yang merupakan murid pertama dari Ki Satya meladeni serangan dari adik-adik seperguruannya dengan tenang. Ia bergerak dengan lincah dan seolah menari-nari menghindari serangan bertubi-tubi dari Bhadrika dan Nismara. Beberapa kali terjadi benturan antara Adinata dan dua adik seperguruannya namun karena Adinata belum menggunakan tenaga sepenuhnya maka benturan-benturan itu masih terasa berimbang. Setelah sekian lama bertarung Bhadrika dan Nismara mulai tidak sabar. Segera mereka bersiap mengeluarkan jurus andalan mereka Kepalan Geledek. "Bersiaplah Kakang" Bhadrika memperingatkan Adinata. Bhdarika dan Nismara langsung menyerang dengan Adinata dengan jurus kepalan geledek. Meskipun baru mencapai tingkatan kelima, namun gabungan serangan dari keduannya cukup merepotkan Adinata. Namun dengan penuh ketenangan Adinata berusaha menghindari benturan kekuatan diantara mereka. Gerakannya masih saja lincah menari-nari diantara gulungan serangan adik seperguruannya itu. Namun melawan dua orang yang mempunyai tingkatan ilmu yang hampir sama lama-kelamaan Adinata kelelahan juga. Pukulan dan tendangan dari Bhadrika dan Nismara sedikit-sedikit mulai mengenai tubuh Adinata hingga menyebabkan badannya sedikit lebam. Menyadari hal itu Adinata terpaksa membalas serangan dari kedua adik seperguruannya. Dengan jurus kepalan geledek tingkat ketujuh, ia mulai balas menyerang. Benturan diantara mereka bertiga mulai sering terjadi. Bhadrika dan Nismara mulai kerepotan juga setelah Adinata menggunakan ilmu tertinggi yang dikuasainya. Pukulan dan tendangan dari Adinata mulai mendarat di badan mereka dan menimbulkan rasa sakit dan menimbulkan lebam di badan. Jika diteruskan, pertandingan ini akan menyebabkan luka dalam yang serius bagi mereka bertiga. "Berhenti, sudah cukup latih tanding kalian" menyadari hal ini Ki Satya langsung menghentikan adu olah kanuragan diantara mereka bertiga.

Bersambung
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Auman Harimau Muda (Bagian 2)

Ki Satya memanggil murid-muridnya. "Adinata, Bhadrika, Nismara, Wilalung, Indraswari kemari semua". "Baik guru" jawab murid-murid Ki Satya serempak. Aku mendapat undangan dari perguruan sahabatku Ki Adanu untuk berlatih tanding. Ki Adanu terkenal dengan ilmu andalan perguruannya yaitu Tendangan Halilintar. Nah, kalian berlima saya suruh ikut latih tanding itu untuk menambah pengalaman. Namun sebelumnya aku ingin melihat kemampuan kalian terlebih dahulu" kata Ki Satya menyampaikan maksud dan tujuannya. "Baik guru, kami sanggup dan akan mematuhi perintah guru" Jawab Adiwinata mewakili saudara seperguruannya.

Bersambung
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Auman Harimau Muda (Bagian 1)

Pada suatu hari yang cerah, di hutan di lereng gunung merapi, nampak sekitar 5 orang pemuda sedang belajar ilmu beladiri. Mereka adalah murid dari Ki Satya, pendekar sepuh dari lereng gunung Merapi yang terkenal dengan jurusnya kepalan geledek. Jurus kepalan geledek sendiri ada 10 tingkatan, tingkatan 1 adalah tingkat dasar dan tingkatan 10 adalah jurus pamungkas dari kepalan geledek. Ki Satya mempunyai 4 murid laki-laki yaitu Adinata, Bhadrika, Nismara, Wilalung, dan 1 murid perempuan bernama Indraswari.

Bersambung
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Popular Posts

Blog Archive

Diberdayakan oleh Blogger.
Copyright © Cerita Silat Harimau Merapi | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com