Semburat Merah Jingga Di Kalibiru (Bagian 4)

"Den Adinata, bolehkah saya jadi muridmu? tanya Gembul. "Oh, boleh saja, tapi aku sedang ada tugas ke Kalibiru" jawab Adinata. "Oh, benarkah, mata Gembul berbinar-binar, saya sangat ingin sekali kesana, kebetulan kakek saya asalnya dari sana tetapi saya belum pernah sekalipun kesan". "Kenapa belum pernah" tanya Adinata keheranan. "Maklum Den, saya hanya orang dusun, belum pernah pergi jauh, tapi kalau Den Adinata menijinkan, saya ingin ikut Den Adinata ke Kalibiru" jawab Gembul. "Sebenarnya saya tidak keberatan kamu ikut ke Kalibiru, tetapi perjalanan saya penuh resiko, karena kabarnya disana sedang ada pemberontakan" jawab Adinata ragu-ragu. "Den Adinata tidak usah ragu-ragu, saya siap menanggung resikonya, lagipula saya percaya Den Adinata pasti akan membantu saya jika saya sedang ada kesulitan" jawab Gembul meyakinkan. "Baiklah kalau kamu memaksa ingin ikut mari kita segera melanjutkan perjalanan" ajak Adinata. "Tunggu dulu Den, ini kan sudah sore hampir menjelang malam, sebaiknya Den Adinata menginap dulu di rumah saya, baru besok kita melanjutkan perjalanan ke Kalibiru" saran Gembul. "Baiklah Gembul, aku ikuti saranmu, dimana rumahmu" tanya Adinata. "Dekat kok Den, itu rumah saya di pinggiran desa kelihatan dari sini" jawab Gembul sambil menunjuk rumah sederhana namun rapi di pinggiran desa. Sesampainya di rumah Gembul, orangtua Gembulpun sangat senang ada tamu yang tampan dan gagah ke rumahnya. Orangtua Gembul berusaha menjamu Adinata dengan makanan dan minuman terbaik yang dimilikinya. Paginya Gembul meminta ijin kepada kedua orangtuanya untuk ikut Adinata menuju ke Kalibiru dan kedua orangtuanyapun memberi ijin dan memberikan sedikit bekal makanan dan minuman diperjalanan.

Bersambung
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Semburat Merah Jingga Di Kalibiru (Bagian 3)

Hari berikutnya, pagi-pagi sekali Adinata pamit kepada gurunya Ki Satya. "Mohon pamit guru, doakan agar saya dapat menjalankan tugas dengan lancar tanpa kurang suatu apapun dan selalu sehat walafiat". "Doaku selalu menyertaimu Ngger Adinata, semoga kamu dapat menjalankan tugas dengan lancar, tak kurang suatu apapun dan selalu sehat selamat sampai tujuanmu tercapai, Aamiin" doa Ki Satya untuk Adinata. Adinatapun kemudian berangkat menuju Kalibiru dengan membawa bekal seadanya. Kebetulan Ni Satya telah membuatkan bekal nasi megono lauk tempe mendoan kegemaran Adinata.

Adinata berjalan kaki dengan riang gembira. Ada rasa senang dihatinya karena dapat untuk sementara keluar dari rutinitas seperti yang dijalaninya di padepokan. Ia merasa seolah seperti burung yang terbang bebas. Setelah lelah berjalan, ia beristirahat di bawah pohon beringin yang rimbun sambil menikmati bekal yang dibawanya. Baru beberapa suap ia makan, tiba-tiba ia mendengar suara orang berteriak minta tolong.

"Tolong-tolong, jangan ambil punyaku, kasihanilah aku" ratap seorang pemuda bertubuh gendut. "Jangan banyak cakap, mana harta bendamu, sini, serahkan padaku semuanya" jawab seorang perampok bertubuh kurus sambil menodongkan golok. "Atau kamu tidak sayang nyawamu, he" gertak perampok itu.

"Hentikan" teriak Adinata pada pemuda perampok itu. "He, kamu cari mati ya" teriak perampok itu marah. Ia tanpa basa-basi langsung menyerang Adinata dengan ganasnya. Perampok itu mengayun-ayunkan goloknya dengan terampil. Siapapun yang melihatnya pasti bergidik ngeri. Namun yang dihadapinya bukanlah pemuda sembarangan. Adinata dengan mudahnya menghindari setiap serangan perampok itu. Kemudian dengan gerakan yang sangat cepat, sekali pukul, perampok itu sudah terkapar pingsan. 

Pemuda bertubuh gendut yang dirampok itu terkagum-kagum dengan kehebatan ilmu silat Adinata. "Terimakasih Kisanak karena telah bersedia menolongku, kalau boleh tahu siapakah namamu" pemuda gendut itu berterimakasih sambil bertanya. "Namaku Adinata, aku murid dari padepokan lereng merapi, kamu siapa" tanya Adinata. "Perkenalkan nama saya Gembul. saya pemuda daerah sini" pemuda gendut itu memperkenalkan diri. Adinata tertawa tertahan mendengar nama Gembul, cocok dengan badanya yang gendut dan wajahnya yang kelihatan lucu.

Bersambung
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Semburat Merah Jingga Di Kalibiru (Bagian 2)

"Mari Tumenggung Sadawira, kita ngobrol sambil makan siang, kebetulan Ni Satya sudah masak sayur lodeh dan ikan asin kesukaanmu" ajak Ki Satya kepada Tumenggung Sadawira. "Terimakasih sekali guru, Ni Satya masih saja ingat makanan kesukaan saya" jawab Tumenggung Sadawira. "Adinata, ajak adik-adikmu sekalian makan siang. Kebetulan Ni Satya masak banyak ini" perintah Ki Satya kepada Adinata. "Baik guru" jawab Adinata. "Adik-adikku seperguruan, mari semuanya, kita diundang makan siang oleh guru" ajak Adinata kepada adik-adik seperguruanya. Tidak berapa lama kemudian semuanya sudah makan dan minum dengan riang gembira sambil diselingi canda dan tawa.

Setelah selesai makan siang, Ki Satya bertanya. "Tumenggung Sadawira, maafkan aku jika lancang, sebenarnya apakah tujuanmu sebenarnya datang kemari, apakah benar hanya sekedar ingin bersilaturahmi atau ada keperluan lain yang penting?". "Benar guru, sebenarnya disamping saya ingin bersilaturahmi, saya diutus oleh Kanjeng Sultan untuk menyampaikan pesan beliau" jawab Tumenggung Sadawira. "Pesan apakah itu Tumenggung Sadawira, saya jadi semakin penasaran" tanya Ki Satya. 

"Begini guru, saat ini sedang ada pemberontakan di daerah Kalibiru. Di sana banyak bercokol tokoh penjahat dari dunia hitam yang mengusik ketentraman di sana. Bahkan mereka juga sudah berani menyerang prajurit Kerajaan Mataram. Sudah banyak rakyat dan prajurit  Mataram yang mati karena kekejaman mereka", Tumenggung Sadawira menerangkan panjang lebar.

"Lalu, apakah kaitannya dengan Tumenggung datang kemari" tanya Ki Satya. "Begini guru, kisah Adinata murid perguruan lereng merapi yang mampu mengalahkan Ki Gardapati tokoh yang paling disegani di dunia hitam, sudah sampai ket elinga Kanjeng Sultan. Beliau meminta pertolongan pada guru agar berkenan mengirimkan Adinata untuk menumpas pemberontakan di sana dengan dukungan Senopati dan prajurit dari Mataram"

"Oh, sekarang saya baru paham, bagaimana Ngger, apakah kamu bersedia untuk membantu Kerajaan Mataram menumpas pemberontakan di Kalibiru?" tanya Ki Satya kepada Adinata. "Saya bersedia guru, apapun perintah guru akan saya laksanakan" jawab Adinata dengan tegas dan pasti. "Bagus Adinata, kamu memang bisa diandalkan" kata Ki Satya bangga.

Bersambung
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Semburat Merah Jingga Di Kalibiru (Bagian 1)

Kisah Adinata, murid padepokan lereng merapi yang mampu mengalahkan Ki Gardapati tokoh dunia hitam secara perlahan namun pasti terdengar ke seluruh pelosok kerajaan Mataram. Hingga pada suatu hari datanglah seorang utusan dari Kerajaan Mataram. Ki Satya menyambut kedatangan utusan itu dengan riang gembira. "Selamat datang Tumenggung Sadawira, sudah lama sekali ananda tidak berkunjung kemari" sapa Ki Satya menyapa tamunya. "Maafkan saya guru, saya berjanji akan lebih sering berkunjung kemari" jawab Tumenggung Sadawira dengan sopan. Sambil membungkukkan badan ia mencium tangan gurunya. Adinata dan seluruh adik seperguruannya terheran-heran. "Ketahuilah semua muridku, Tumenggung Sadawira ini adalah salahsatu muridku yang mengabdi di kerajaan Mataram" Ki Satya menerangkan jati diri tamunya. "Oh, begitu guru, saya baru paham" jawab Adinata mewakili adik seperguruannya. "Hormat hamba kepada Tumenggung Sadawira" Adinata sedikit membungkukkan badan memberi hormat kepada Tumenggung Sadawira. "Ah, jangan sungkan begitu, aku adalah kakak seperguruanmu" jawab Tumenggung Sadawira.

Bersambung
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Popular Posts

Blog Archive

Diberdayakan oleh Blogger.
Copyright © Cerita Silat Harimau Merapi | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com