Dua Hati tertaut di Hargowilis (Bagian 5)

Malam harinya Adinata benar-benar memenuhi janjinya. Salahsatu syarat untuk belajar ilmu getar bumi adalah telah menguasai dengan baik meskipun belum sempurna jurus kepalan geledek ataupun jurus tendangan halilintar. Jurus getar bumi sendiri merupakan gabungan dari jurus kepalan geledek dan tendangan halilintar yang telah dirangkai menjadi satu menjadi jurus yang dashyat. Karena Ambarwati telah menguasai jurus tendangan halilintar maka ia dapat langsung belajar jurus getar bumi. Namun untuk senopati puspanidra dan gembul, mereka harus mempelajari dasar-dasar ilmu kepalan geledek dan tendangan halilintar terlebih dahulu.

Ambarwati dapat dengan cepat belajar jurus getar bumi. Ia ternyata perempuan yang cerdas. Ia dapat melahap semua materi yang diberikan oleh Adinata dengan cepatnya. Senopati Puspanidra pun tidak kalah hebatnya. Karena sebelumnya ia memang telah menguasai ilmu kanuragan tingkat tinggi maka ia dapat dengan mudah menguasai dasar-dasar jurus kepalan geledek dan tendangan halilintar  dalam waktu singkat.

Beda lagi dengan gembul, ia belajar dasar-dasar jurus kepalan geledek dan tendangan halilintar dengan tertatih-tatih. Namun dengan semangat belajar yang tinggi perlahan-lahan namun pasti ia dapat menguasai dasar-dasar ilmu kepalan geledek dan tendangan halilintar dengan baik.

Hampir tiga bulan telah berlalu. Ambarwati telah menguasai sebagian dari jurus getar bumi dengan sempurna. Begitupun Puspanidra. Namun berbeda dengan gembul, ia belum bisa belajar jurus getar bumi karena ia belum menguasai dasar-dasar jurus kepalan geledek dan tendangan halilintar dengan sempurna. Namun gembul yang dulu bukanlah gembul yang sekarang. Ia sekarang tampak gagah dengan badan yang kekar meskipun masih sedikit kegemukan. Nyi Lastripun jadi terpana melihatnya. Sering Ambarwati melihat pengasuhnya itu mencuri-curi pandang pada paman gembul yang sedang berlatih silat.

Bersambung


Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Dua Hati tertaut di Hargowilis (Bagian 4)

Pagi hari berikutnya Adinata melatih sebagian dari para pemuda itu berlatih kelincahan dan daya tahan tubuh. Dengan pengalamannya menjadi pelatih di padepokan lereng gunung merapi dan juga latih tandingnya dengan si loreng, harimau muda sahabatnya, ia tampak tidak menemui kesulitan dalam melatih para pemuda itu. Senopati Puspanidrapun puas melihat bakat yang dimiliki Adinata dan kemajuan pesat yang diperoleh para pemuda itu setelah berlatih di bawah bimbingan Adinata. "Kamu memang hebat Adinata, gerakanmu lincah seperti harimau, kamu pantas aku juluki harimau muda dari merapi" kata Puspanidra. "Kawan-kawan, setujukah kalian jika Dimas Adinata ini aku juluki Harimau Muda dari Merapi?" tanya Puspanidra meminta pendapat para pemuda desa yang sedang berlatih. "Setuju, hidup harimau merapi, hidup harimau merapi" teriak para pemuda desa itu. "Terimakasih sekali Kakang Puspanidra atas perhatiannya kepadaku" kata Adinata. "Kamu memang pantas mendapatkannya Adi" jawab Puspanidra.

"Kakang, jangan lupa ya mengajariku ilmu getar bumi seperti yang kamu janjikan waktu itu" tiba-tiba Ambarwati ada disampingnya dan menagih janjinya. "Iya, aku tidak lupa Nimas, kapan kamu siap berlatih, aku ngikut saja" jawab Adinata. "Ilmu getar bumi, ilmu apakh itu, bolehkah aku turut mempelajarinya" tanya puspanidra. "Boleh sekali kakang, nanti kita berlatih bersama". "Aku juga jadi dilatih ilmu beladiri kan den nata?"tanya gembul menagih janji. "Memangnya buat apa paman gembul, kamu kan jarang terlibat dalam perkelahian?" tanya Ambarwati. "Nanti, kalau ada yang menggoda nyi lastri, aku bisa menolongnya" jawab gembul merajuk. "Ha ha ha" Adinata dan Puspanidra tertawa. Nyi Lastri yang ada disamping Ambarwati hanyatersipu malu. "Itu bi lastri, ada yang naksir sama kamu" kata Ambarwati menggoda Lastri. "Ah. Ni Mas Ambarwati bisa saja" jawab Nyi Lastri masih saja tersipu malu.

Bersambung

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Dua Hati tertaut di Hargowilis (Bagian 3)

 "Adinata, aku ingin tahu pendapatmu tentang para pemuda desa yang sedang berlatih ilmu keprajuritan ini?" tanya Ki Gede Aryaguna. "Sebelum saya menjawab, kalau boleh ananda tahu, dalam rangka apakah mereka berlatih ilmu keprajuritan?" jawab Adinata. "Boleh sekali, mereka sengaja dilatih untuk menghadapi gerombolan penjahat yang sedang mengganggu ketentraman di wilayah tanah perdikan kalibiru ini" jawab Ki Gede Aryaguna. "Oh begitu, ananda baru paham. Menurut ananda, gerakan jurus silat mereka sudah tepat, dan gerakannya bertenaga, namun saya perhatikan, ada sedikit yang kurang" kata Adinata. "Apakah yang kurang itu Adinata, aku jadi penasaran?" tanya Puspanidra. "Kakang, menurutku mereka kurang lincah dan sepertinya daya tahannya masih lemah, terlihat mereka menjadi kurang bertenaga setelah berlatih sekian lama" jawab Adinata dengan jelas. "Bagus sekali Adinata, memang saya perhatikan seperti itu, apakah kamu bersedia untuk melatih mereka, terutama melatih kelincahan dan daya tahan tubuh?" tanya Puspanidra. "Dengan senang hati saya bersedia kakang, kapan saya bisa mulai melatih mereka" tanya Adinata bersemangat. "Mulai besok, kamu bisa melatih para pemuda desa itu, nanti kita kelompokkan menjadi dua, satu berlatih olah keprajuritan, sebagian lagi berlatih kelincahan daya tahan tubuh denganmu" jawab Puspanidra panjang lebar. "Siap kakang" jawab Adinata. 

Bersambung


Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Dua Hati tertaut di Hargowilis (Bagian 2)

Pagi harinya di halaman belakang rumah Ki gede Aryaguna yang cukup luas terlihat banyak anak muda yang sedang berlatih ilmu keprajuritan. Tampak seorang pemuda yang gagah memimpin jalannya latihan. Setelah selesai mandi dan berganti pakaian yang bersih Adinata dan Gembul menuju ke belakang rumah untuk melihat apa yang terjadi. "Adinata kemari, aku perkenalkan engkau dengan senopati dari Mataram" Teriak Ki Gede Aryaguna. "Baik Ki Gede" jawab Adinata dengan sopan. Adinata langsung menghampiri Ki Gede Aryaguna dan seorang pemuda yang diperkenalkan sebagai senopati mataram. "Perkenalkan, nama saya Adinata dari padepokan lereng merapi kanjeng senopati" kata Adinata dengan sopan memperkenalkan diri. "Oh, kamukah Adinata yang terkenal itu, perkenalkan namaku Puspanidra, senopati dari kerajaan mataram". "Apakah kamu yang diutus oleh tumenggung sadawira untuk membantuku menumpas pemberontakan di Kalibiru ini" tanya senopati puspanidra. "Daulat kanjeng senopati" jawab Adinata mengiyakan. "Sudahlah, panggil aku dengan nama Kakang Puspanidra saja,kita kan masih seumuran, kalau di depan prajuritku bolehlah kamu memanggilku dengan jabatanku". "Baiklah Kakang Puspanidra, aku ikuti saranmu" jawab Adinata mengiyakan permintaan senopati puspanidra.

Tidak berapa lama kemudian Ambarwati dan seorang emban yang masih muda datang membawakan makanan dan minuman ala kadarnya untuk para pemuda yang sedang berlatih olah keprajuritan. "Bopo, ini makanan dan minumannya sudah siap" kata Ambarwati kepada Ki Gede Aryaguna. "Oh, terimakasih anakku, taruhlah di meja teras belakang" jawab Ki Gede Aryaguna. Gembul langsung tertarik dengan emban yang menemani Ambarwati. Karena rasa penasarannya yang tidak tertahankan, ia memberanikan diri bertanya kepada Ki Gede Aryaguna. "Ki Gede, bolehkah aku bertanya". "Ada apa paman gembul, apa yang ingin kamu ketahui" jawab Ki Gede Aryaguna. "Siapakah gadis yang menemani Den ayu Ambarwati itu" tanya Gembul penasaran. "Ha ha ha, kamu suka ya, itu namanya Lastri, yang selalu menemani dan mengasuh Ambarwati sejak masih kecil. "Oh, Nyi Lastri ya namanya" jawab Gembul masih terbengong-bengong. "Tenang saja paman gembul, kesempatanmu masih terbuka lebar, dia belum bersuami sampai sekarang"  kata Ki Gede Aryaguna membesarkan hati Gembul. "Syukurlah kalau begitu" jawab Gembul berseri-seri. Adinata dan Puspanidra hanya tersenyum-senyum melihat tingkah polah Gembul.

Bersambung

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Dua Hati tertaut di Hargowilis (Bagian 1)

Setelah selesai makan malam, acara dilanjutkan dengan berbincang-bincang santai. "Ambarwati, Bopo dan Biyung masih penasaran, bagaimana awal mula kamu dikeroyok oleh gerombolan penjahat itu? tanya Ki Gede Aryaguna, Bopo dari Ambarwati. "Begini Bopo, saya kan minta ijin kepada guru saya ki Adanu untuk menengok ke Hargowilis karena saya khawatir di sini sedang ada pemberontakan. Nah, ketika saya sudah akan sampai ke dusun Hargowilis ini tiba-tiba di tengah perjalanan saya dicegat oleh sekitar 10 orang penjahat dengan pemimpin grombolannya bernama Madhupa. Mereka mengeroyok saya dan mau melecehkan saya. Saya sudah melawan sekuat tenaga namun saya tetap kalah, karena disambing anggota gerombolan itu berilmu tinggi juga saya kalah jumlah dan kehabisan tenaga, saya sudah hampir putus asa dan untung saja kakang Adinata dan paman gembul segera datang menolong saya" jawab Ambarwati panjang lebar. "Oh, begitu ceritanya, sekali lagi saya atas nama orangtua dari Ambarwati menyampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya atas pertolongan Nak Adinata dan paman gembul terhadap anak saya" kata Ki Gede Aryaguna berterimakasih. "Ah, jangan sungkan begitu Ki Gede, setiap orang wajib tolong menolong" jawab Adinata dengan sopan. "Bagaimanapun kami tetap berterimakasih Nak" jawab ki Gede Aryaguna. "Oh ya, hari ini sudah malam, beristirahatlah kalian, perbincangannya kita lanjutkan besok karena hari sudah malam". "Ambarwati, tolong kamu antar Nak Adinata dan paman gembul ke kamarnya" perintah Ki Gede kepada Ambarwati. "Baik Bopo". "Mari Kakang, saya antar ke kamar" ajak Ambarwati. "Ehm Ehm, saya tidak diantar ini Nyi" goda Gembul. "Ah, paman bisa saja" kata Ambarwati tersenyum malu. Adinata hanya tersenyum saja melihat gembul menggoda Ambarwati.

Bersambung

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Semburat Merah Jingga Di Kalibiru (Bagian 8)

"Ambarwati, sebenarnya kamu mau kemana, kenapa sampai dikeroyok oleh gerombolan itu?" tanya Adhinata. "Aku sebenarnya mau menjenguk orangtuaku di dusun Hargowilis kakang, aku khawatir dengan keselematan mereka karena aku dengar di tanah perdikan banyubiru ini sedang ada pemberontakan" jawab Ambarwati panjang lebar. "Kalau kamu mau kemana kakang, malam-malam kok ada disini?" tanya Ambarwati. "Sebenarnya aku mengemban tugas dari kerajaan Mataram untuk memadamkan pemberontakan di tanah perdikan kalibiru ini Nimas" jawab Adhinata. "Oh, begitu ceritanya kakang, tapi kan kabarnya pemberontakan disini dipimpin oleh para tokoh hitam dunia persilatan, jujur aku mengkhawatirkanmu kakang" kata Ambarwati sedikit resah. "Tenanglah Nimas, kakang tahu apa yang aku lakukan dan resikonya, semuanya sudah aku pikirkan masak-masak" jawab Adhinata berusaha menenangkan Ambarwati. "Syukurlah kakang, kalau begitu aku bisa sedikit tenang". "Eh, lalu kenapa kakang dan paman gembul menuju ke dusun Hargowilis" tanya Ambarwati kebingungan. "Sebenarnya kami lapar, jadi kami mau cari warung nasi di sana, saya dengar-dengar di sana meskipun malam hari masih ada yang buka" jawab Adhinata panjang lebar. "Iya den ayu, perut paman gembul sudah berbunyi dari tadi" kata Gembul. Adhinata dan Ambarwatipun tertawa bersama. "Ah, Gembul-gembul, makanan saja yang kamu pikirkan" kata Adhinata sambil bercanda.

"Kita sekarang langsung kerumahku saja, orangtuaku tentu sudah menungguku. Sekalian aku perkenalkan Kakang kepada kedua orang tuaku" kata Ambarwati. "Ciye-ciye, mau bertemu calon mertua niye" kata Gembul menggoda Adhinata dan Ambarwati. "Ah, paman gembul bisa saja" jawab Ambarwati tersipu malu. "Lalu makan malamnya bagaimana?" kata Gembul penuh tanda tanya. "Tenang saja, Bopo dan Biyung sudah masak yang spesial untuk kedatanganku" jawab Ambarwati meyakinkan.

Tidak berapa lama kemudian sampailah mereka bertiga di depan sebuah rumah yang paling besar di dusun Hargowilis. "Ini rumahku kakang" kata Ambarwati. Nampaknya orang tua Ambarwati adalah orang yang terpandang dan paling kaya di desa itu. "Bopo Biyung, ini aku Ambarwati". Ambarwati langsung sungkem pada Bopo dan Biyungnya. "Ambar, siapa mereka, apakah yang gagah dan tampan ini Anakmas Adhinata yang sering kau ceritakan itu?" tanya Biyung dari Ambarwati. "Iya Biyung, ini kakang Adhinata, dan ini paman Gembul, yang menemani kakang Adhinata selama di Banyubiru. "Sungkem ananda buat Bopo Biyung berdua" kata Adhinata dengan lemah lembut sambil sungkem. Gembulpun tidak lupa sungkem kepada Bopo Biyung Ambarwati.

"Kalian tentu sangat lelah di perjalanan, silahkan kalian mandi dan istirahat, biar Biyungmu dan Ambarwati menghangatkan makanan". "Terimakasih Bopo" jawab Adhinata. Adhinata dan Gembulpun segera mandi, berganti pakaian dan bersistirahat. Kebetulan Rumah Ambarwati besar dan banyak kamar yang kosong. Tidak berapa lama kemudian Ambarwati mengetuk kamar Adhinata. "Kakang, paman, makanan sudah siap, marilah ke ruang makan" kata Ambarwati. "Terimakasih Nimas,beruntung sekali kakang dan Gembul bisa datang kemari".

Di meja makan aneka hidangan telah terhidang di meja. Ada nasi putih, nasi jagung, gatot, thiwul, gudeg manggar, semur telur, ayam bakar, sayur lompong, hampir semua makanan ada di meja. Minumannyapun sangat lengkap, ada teh panas, kopi panas, wedang jahe, wedang sere, semuanya ada, tinggal pilih. Gembul berbinar-binar melihat semua makanan dan minuman yang ada dimeja. Tidak berapa lama kemudian mereka berlima Bopo dan Biyung, Ambarwati, Adhinata dan Gembul segera makan malam dengan lahap sambil bercerita panjang lebar tentang peristiwa malam itu.

Bersambung





Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Semburat Merah Jingga Di Kalibiru (Bagian 7)

 "Tidak usah banyak cakap, majulah kalian semua" jawab adinata dengan tenangnya. Melihat ketenangan Adinata, pemimpin gerombolan itu menjadi berhati-hati. "Kakang Madhupa, biarlah kami yang menghajar dan menghabisinya" kata salahsatu anggota gerombolan itu. "Baiklah, tapi berhati-hatilah Matsara, dia sepertinya berilmu tinggi". Matsara beserta seluruh kawan-kawan gerombolannya kecuali Madhupa langsung bersiap-siap untuk menyerang Adhinata. "Ayo serang" Matsara memberi aba-aba kepada grombolannya. "Berhati-hatilah kakang" teriak Ambarwati khawatir. "Tenanglah Nimas, biar aku hajar mereka semua" jawab Adinata dengan tenangnya. Tanpa basa-basi seluruh anggota gerombolan itu kecuali Madhupa, pemimpinnya langsung menyerang Adinata dengan senjatanya. Adinata dengan tangkasnya menghindari setiap serangan dari lawan-lawannya. Dengan tangan kosong ia menghadapi anggota gerombolan yang bersenjatakan pedang, golok ataupun belati. Adinata biasanya tenang dalam berkelahi dan tidak terburu-buru untuk menyelesaikan pertandingan, namun karena hatinya sedang marah karena gerombolan itu telah mempermainkan Ambarwati, saudara seperguruannya, iapun ingin segera menyelesaikan pertandingan. Adhinata sengaja menggunakan unsur jurus silat tendangan halilintar kebanggaan padepokan tebing breksi. Dengan gerakan yang cepat, ia menendang tangan-tangan dari anggota gerombolan yang mengeroyoknya hingga senjatanya terlempar dari arena pertandingan kemudian dengan tendangan yang secepat kilat, ia menggunakan unsur jurus tendangan halilintar untuk menendang perut aggota gerombolan yang mengeroyoknya sehingga hampir bersamaan. semuanya berteriak kesakitan dan pingsan seketika. Adhinata memang sengaja tidak menggunakan seluruh kekuatannya karena memang tidak berniat membunuhnya. Madhupa yang melihat seluruh anak buahnya pingsan kaget luar biasa dan ketakutan. Iapun segera melarikan diri sambil berteriak "Tunggu pembalasannku cecunguk kecil". Adhinata hanya terdiam tanpa membalas teriakan Madhupa.

Namun ia segera menghampiri Ambarwati karena khawatir dengan keadaannya. "Kamu tidak apa-apa Nimas?" tanya Adhinata khawatir. "Aku tidak apa-apa kakang, untunglah kakang segera menolongku, kalau tidak, aku tidak tau akan seperti apa kejadiannya" jawab Ambarwati sambil menutup wajahnya dan sedikit menitikkan air mata. "Tidak usah dipikirkan lagi Nimas, yang penting kamu tidak kurang suatu apapun. Melihat baju Ambarwati yang sobek-sobek karena ulah gerombolan yang mengeroyoknya, iapun segera mengambil pakaian yang ada di bungkusan kain yang berisi perbekalannya. "Ini kamu pakai ya Nimas, karena bajumu kan sobek-sobek, tapi maaf ini pakaian laki-laki" kata Adhianta dengan lemah lembut. "Terimakasih kakang, inipun sudah cukup bagiku" jawab Ambarwati. Ambarwatipun segera memakai pakaian yang diberikan Adhinata. Melihat Ambarwati memakai pakaiannya, Adhinatapun tidak dapat menahan tawanya. "Ah, kakang, aku kan jadi malu" kata Ambarwati sambil tersipu-sipu manja. "Iya maaf ya Nimas' jawab Adinata.

"Kakang, boleh aku bertanya" kata Ambarwati. "Silahkan, ada apa?" jawab Adhinata. "Tadi aku perhatikan ketika kakang melawan gerombolan itu menggunakan unsur gerak dari tendangan halilintar, bagaimana kakang bisa menguasainya dengan sempurna, bahkan akupun belum sampai ke tingkatan itu" tanya Ambarwati penasaran. "Oh, itu karena aku telah menguasai ilmu silat Getar Bumi, yang merupakan gabungan dari jurus kepalan geledek dan tendangan halilintar" jawab Adhinata. "Oh begitu, lalu siapa yang mengajarimu kakang?" tanya Ambarwati penasaran. "Eyang Jagratara yang mengajariku.Beliau adalah guru dari Ki Satya dan Ki Adanu guru kita berdua". "Oh begitu, aku sekarang jadi paham". "Kakang, bolehkah aku punya satu permintaan" tanya Ambarwati. "Apa sih yang enggak buat kamu Nimas, semuanya akan aku penuhi" jawab Adhinata sedikit menggoda. "Ah kakang. Maukah kakang mengajariku ilmu silat getar bumi, karena aku sangat tertarik kakang" pinta Ambarwati. "Boleh, aku akan mengajarimu" jawab Adhinata. "Den Nata, bolehkah aku juga ikut belajar, aku juga pengen jadi orang hebat seperti den nata" kata Gembul. "Tentu saja boleh, tapi kamu harus belajar dulu dasar-dasar ilmu silat kepalan geledek dan tendangan halilintar" jawab Adinata. "Siap den nata" jawab gembul dengan gembira.

Bersambung

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Semburat Merah Jingga Di Kalibiru (Bagian 6)

 Hari ini sudah malam. Hawa dingin begitu terasa. Adinata dan Gembul merasa lapar. "Mbul, kita cari makan di warung yuk, sudah lapar ini" ajak Adinata kepada Gembul. "Siap Den Nata, kebetulan saya juga sudah sangat lapar" jawab Gembul. Keduanya berjalan kaki dipekatnya malam untuk sekedar mencari warung makan untuk menghilangkan lapar. Mereka berdua mau menuju ke dusun Hargowilis karena disana masih ada warung nasi yang buka meskipun di malam hari. Namun ditengah perjalanan dari kejauhan Adinata dan Gembul mendengar orang yang sedang berkelahi. Dari suaranya sepertinya ada seorang wanita yang dikeroyok oleh banyak laki-laki. "Mari kita tolong Den Nata, kasihan" ajak Gembul. "Ayo Mbul" jawab Adinata. lalu keduanya bergegas menuju arena perkelahian. Dari kejauhan tampak seorang gadis yang masih muda dikeroyok oleh kurang lebih sepuliuh orang laki-laki. Meskipun gadis itu mempunyai ilmu silat yang cukup tinggi namun karena lawannya banyak dan juga berkemampuan tinggi gadis itu kelihatan kelelahan. Sepertinya gerombolan itu seperti mempermainkannya karena gadis itu bajunya sudah robek-robek. "Ayolah cah ayu, bersenang-senanglah dengan kami, kamu tidak akan kami sakiti bahkan akan kami beri kenikmatan" goda anggota gerombolan yang badannya tinggi besar. Rupanya dia pemimpin dari gerombolan itu. "Huh, najis, lebih baik aku mati daripada kalian sentuh" jawab gadis itu marah disertai rasa putus asa. Adinata seperti mengenal gadis itu. Ia memperhatikannya. Adinata baru ingat bahwa gadis itu adalah Ambarwati, murid Ki Adanu dari padepokan tebing breksi.

"Berhenti kalian, jangan ganggu saudara seperguruanku" teriak Adinata. Gerombolan itupun kaget, Ambarwatipun juga kaget. Sepintas ia seperti mengenalnya. "Kakang Adinata, kaukah itu" tanya Ambarwati dengan penuh rasa gembira, harapannya seketika bangkit kembali. Ia yakin Adinata dengan ilmunya yang tinggi akan mampu mengalahkan seluruh anggota gerombolan itu. "Iya Nimas Ambarwati, ini aku Adinata". "Gembul, ajak Nimas Ambarwati menyingkir dari arena pertempuran, biar mereka aku yang hadapi" perintah Adinata kepada Gembul. 'Baik Den Nata, mari nyi, menyingkirlah dari arena bertempuran, biar Den Nata yang menghajar mereka" ajak Gembul kepada Ambarwati. Ambarwatipun mengangguk dan segera menghampiri Gembul menyingkir dari arena pertempuran. "Kurang ajar cecunguk kecil, kamu sudah bosan hidup ya?" teriak pemimpin gerombolan itu marah.

Bersambung

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Semburat Merah Jingga Di Kalibiru (Bagian 5)

Adinata dan Gembul berjalan dengan riang gembira. Gembul orangnya memang lucu sekali, Adinata dibuat tak berhenti tertawa dibuatnya. Jalanan tanah yang masih lengang dan pepohonan menghijau di kiri kanan jalan serta kicauan burung di pagi hari membuat keduanya bersemangat. Ada rasa damai dalam hati dan bersyukur atas karunia Tuhan Yang Maha Esa. Tidak terasa waktu telah beranjak siang. Keduanya mampir ke langgar untuk melaksanakan ibadah dan sekalian beristirahat sejenak. Kebetulan di dekat Langgar ada warung makan, keduanya segera menuju ke warung makan untuk sekedar mengisi perut.

Adinata memesan nasi megono dengan lauk mendoan dan ikan asin, sedangkan Gembul memesan nasi megono dengan lauk telur dadar dan peyek teri. Tidak lupa juga keduanya memesan minuman teh dengan gula kelapa. Keduanya makan dan minum dengan nikmat dan lahap sekali. Tidak berapa lama kemudian keduanya melanjutkan perjalanan.

Sore harinya keduanya telah memasuki batas wilayah Kalibiru yang termasuk wilayah pegunungan Menoreh. Sungguh indah pemandangan Pegunungan Menoreh sore itu, setelah satu harian berjalan, hawa dingin menyegarkan dipersembahkan kepada Adinata dan Gembul sebagai salam pembuka. Waktu paling tepat untuk datang ke Kalibiru adalah sore hari, saat matahari mulai ramah dan suasana menjadi syahdu. Di sini ada sebuah pohon pinus yang terletak di pinggir jurang, dari pohon inilah kita bisa bebas lepas memandang pesona pegunungan menoreh. Pada pohon pinus, oleh penduduk sekitar, tampaknya sengaja dibuatkan papan kayu untuk sekedar beristirahat dan menikmati keindahan alam.

Adinata dan Gembul menyempatkan diri untuk naik ke papan kayu lewat sebuah tangga kecil. Keduanya duduk beristirahat dan menikmati keindahan alam sembari makan dan minum bekal yang diberikan orangtua Gembul. Tak henti-hentinya keduanya mengagumi keindahan alam ciptaan Tuhan.

Matahari memang sangat bersahabat untuk wilayah pegunungan Menoreh ini. langit yang tadinya biru berubah menjadi oranye dengan semburat merah. Inilah lukisan alam yang sayang untuk dilewatkan. Menariknya lagi saat proses senja tenggelam ini. Biasanya kabut tipis akan turun sehingga, saat Adinata dan Gembul berada di Kalibiru rasa-rasanya seperti berada di negeri yang berbeda. Negeri di atas awan yang menghadirkan decak kagum tanpa henti.

Bersambung

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Popular Posts

Blog Archive

Diberdayakan oleh Blogger.
Copyright © Cerita Silat Harimau Merapi | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com