Bangkitnya Ksatria Mataram (Bagian 5)

Dua kekuatan berbenturan diudara. Keduanya sama-sama terlempar dan terdorong kebelakang. Namun dengan cepat Senopati Puspanidra sudah dapat menguasai keseimbangannya dan langsung menyerang Ki Jagratara yang masih terhuyung-huyung dengan jurus tendangan halilintar, ciri khas perguruan tebing breksi. Tendangan halilintar Puspanidra, dengan telak mengenai uluhati Ki Jagratara yang tidak sempat untuk menghindar. Ki Jagratara terjatuh terlentang sambil berteriak kesakitan dan tidak berapa lama kemudian tidak bersuara. Namun ternyata ia masih hidup. Dengan merintih-rintih kesakitan ia memohon-mohon kepada senopati Puspanidra agar diampuni. "Tuan senopati, tolong, ampunilah aku, aku janji tidak akan berbuat onar lagi" berkata Ki Jagratara dengan memelas. Senopati Puspanidra sedikit luluh hatinya. Namun ia tetap waspada. Ia menghunuskan pedangnya dan mendekati Ki Jagratara. "Benarkah kamu mau tobat dan menyerahkan diri ke Mataram?" tanya senopati puspanidra. "Mau tuan senopati, aku dan seluruh anak buahku akan menyerahkan diri ke mataram untuk diadili" berkata Ki Jagratara dengan suara lemah. "Tolong bantu aku untuk berdiri tuan". Ki Jangkungpun berteriak. "Hei, jangan bodoh kau Jagratara, ingat janji perjuangan kita". "Maaf guru, aku sudah berjanji untuk kembali ke jalan yang benar" berkata Ki Jagratara membalas teriakan gurunya. 

"Hati-hati Anakmas Puspanidra" teriak Ki Gede Aryaguna mengingatkan. Senopati Puspanidra hanya mengangguk. Ia secara berlahan-lahan mendekati ki jagratara. Ketika ia akan mengulurkan tangannya, tiba-tiba secepat kilat Ki jagratara melemparkan puluhan jarum beracun ke arah Senopati Puspanidra. Puspanidra yang sedari tadi sudah waspada dengan kelicikan Ki jagratara segera bertindak sigap. Dengan pedang yang masih terhunus, ia menangkis puluhan jarum beracun yang menuju kearahnya dan sebagian jarum beracun terjatuh dan sebagian berbalik arah menyerang Ki jagratara. Ki Jagratarapun tidak sempat menghindar dan berteriak kesakitan terkena senjata makan tuan. Tidak berapa lama kemudian badannya mulai membiru dan menghitam. Dan tidak berapa lama kemudia, ia sudah tidak bernapas lagi. Ki Jagratarapun benar-benar mati terkena jarum beracunnya sendiri.

Bersambung

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Bangkitnya Ksatria Mataram (Bagian 4)

Setelah berbincang dengan Senopati Puspanidra, Ki Gede kemudian berpaling menatap Ki Jagratara. "Kamu sungguh licik Ki Jagratara, aku akan menuntut balas akan kelicikanmu ini" berkata Ki Gede Aryaguna sambil menahan kemarahannya. "Tahan Ki Gede, biarlah aku yang akan melawan orang licik ini" berkata Senopati Puspanidra menahan Ki Gede Aryaguna yang akan melawan Ki Jagratara. "Kamu yakin Anakmas Senopati?" kata Ki Gede Aryaguna ragu. "Yakin sekali Ki Gede, silahkan anda beristirahat" ujar Senopati Puspanidra meyakinkan. Ki Gede Aryagunapun mengangguk. "Majulah kamu Senopati, aku sudah tak sabar mengirimmu ke neraka menemani harimau ompong itu" teriak Ki Jagratara sambil mengejek Adinata. Adinatapun mendengar ejekan itu, namun ia sadar ia masih dalam pengaruh jarum racun. Namun dengan ilmunya yang sudah sangat tinggi, berlahan-lahan ia mampu menetralisir racun tersebut. Namun ia tetap berpura-pura pingsan sebelum ia benar-benar pulih dari pengaruh jarum beracun. Dengan ilmu pembalik raga penghancur bala, secara perlahan-lahan ia mengalirkan racun yang sudah dinetralkan itu untuk dapat dimuntahkannya.

Tanpa berbasa-basi, Ki Jagratara langsung mengeluarkan jurus andalannya tapak es. Namun ternyata ilmunya sekarang sudah meningkat dengan pesat dibandingkan saat terakhir kali melawan Adinata di lereng merapi. Ketika ia mempersiapkan jurus tapak es sampai puncak tertinggi, udara sekeliling pertempuran menjadi serasa membeku. Butiran-butiran es mulai berjatuhan. Para penonton pertarungan itu baik dari kubu Kalibiru maupun gerombolan pemberontak badannya menggigil kedinginan. Bahkan tidak berapa lama kemudian, ada yang badannya mulai membiru serta mengeluarkan darah segar dari hidung ataupun telinganya.

Senopati Puspanidrapun tidak luput terkena pengaruh dari ilmu sakti tapak es tersebut. Badanya juga mulai membiru. Giginya menggeretak, menggigil kedinginan. Darah segar juga mulai menetes dari hidung dan telinganya. Sungguh betapa hebat sekali jurus tapak es tersebut. Dengan secepat kilat, Ki Jagratara langsung menyerang Adinata dengan jurus Tapak Es andalannya tersebut. Senopati Puspanidra yang kehilangan akal karena hawa dingin yang amat sangat hanya dapat menghindari setiap serangan dari Ki Jagratara. Melihat hal ini Ki Gede Aryaguna tidak tinggal diam. "Senopati, gunakan jurus getar bumi untuk menahan serangan jurus tapak es" teriak Ki Gede Aryaguna.

Senopati Puspanidra tersadar dari kebingungannya. Ia segera meloncat jauh ke belakang untuk mempersiapkan jurus pamungkasnya, getar bumi. Dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya ia mengumpulkan seluruh kekuatan untuk membangkitkan jurus getar bumi yang dikuasainya. Meskipun jurus getar bumi yang dimilikinya belum sempurna, namun itu ternyata sudah cukup untuk melawan Ki jagratara. Ketika Senopati Puspanidra sedang membangkitkan jurus getar bumi tersebut, seketika bumi disekeliling arena pertarungan tersebut menjadi bergetar hebat seperti sedang ada gempa bumi, pohon-pohon bergoyang bahkan ada yang roboh, burung-burung berterbangan. 

Namun, aneh tapi nyata, hawa dingin yang sangat menyiksa itu secara perlahan-lahan memudar sehingga dinginnya sudah tidak terasa lagi. Bahkan terasa menyejukkan saja. Menyadari pengaruh dari jurus tapak es sudah mulai berkurang, Ki jagratara tanpa membuang-buang waktu langsung  menyerang Senopati Puspanidra dengan jurus andalannya. Tapi, kali ini Senopati Puspanidra tidak menghindar, ia menyambut pukulan tapak es dari Ki Jagratara dengan jurus telapak geledek ciri khas padepokan lereng merapi.

Bersambung

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Bangkitnya Ksatria Mataram (Bagian 3)

Ambarwati masih berdiri termangu melihat Ki saraga mati terbujur kaku dihadapannya. Namun tiba-tiba dengan secepat kilat, Ki Jagratara telah menyerang Ambarwati menggunakan jarum beracun. Sama dengan yang digunakan Ki Jangkung. Ambarwati yang lengah tidak sempat menghindar. Ia berteriak mengaduh kesakitan. Ia langsung terhuyung-huyung sempoyongan. Ki gede yang melihat putrinya terkena jarum beracun langsung cemas. "Kurang ajar kau Jagratara, kamu sama saja dengan gurumu, berbuat curang untuk mencapai kemenangan" maki Ki gede Aryaguna. Ki Jangkung dan ki Jagratara hanya tertawa mendengar ucapan Ki Gede Aryaguna. "Ha ha ha, salah sendiri, putrimu telah membunuh sahabat karibku ki Saraga" balas Ki Jagratara. "Biar dia sekalian mampus mengikuti kekasihnya harimau ompong itu" tambah Ki Jangkung. Gerombolan pemberontakpun bersorak-sorai atas tumbangnya Ambarwati.

Ki Gede Aryaguna khawatir sekali dengan keadaan Ambarwati. Badan Ambarwatipun langsung membiru dan menghitam karena terkena racun yang sangat ganas. Ki GedeAryaguna bingung sekali. Ia sama sekali belum menyiapkan penangkal racun yang tepat. Konon racun yang dimiliki oleh Ki Jangkung dan muridnya itu belum ditemukan penangkalnya hinga kini. Adinatapun yang sedang terluka karena racun dari Ki Jangkung juga begitu khawatir dengan keadaaan Ambarwati. Ia sama sekali tidak bisa menolongnya karena ia sendiri sedang berkonsentrasi untuk mengeluarkan racun itu dari badannya.

Tiba-tiba, dengan kecepatan yang mengagumkan bagai kilatan petir, nampak sesosok kakek berbaju putih namun berpenampilan seperti anak-anak langsung menyambar Ambarwati dan membawanya pergi. Ki Jangkung dan Ki Jagratarapun kaget dengan kedatangan tamu tak diundang itu. "Kurang ajar bocah gemblung, berani turut campur urusanku" umpat Ki Jangkung. Mendengar nama Bocah gemblung, Ki Gede Aryagunapun menjadi sedikit lebih tenang. Dan ia tidak begitu khawatir lagi.

Melihat Ki Gede Aryaguna menjadi tenang, Senopati Puspanidrapun menjadi keheranan. "Siapakah kakek itu guru, kenapa guru sekarang sudah jauh lebih tenang, tidak khawatir seperti tadi?" tanya Senopati Puspanidra. "Ketahuilah Anakmas Puspanidra, dia adalah Bocah Sakti dari gunung purba Nglanggeran, dan dia selain berilmu tinggi juga merupakan ahli pengobatan yang sudah cukup terkenal. Aku sangat yakin ia akan dapat menyembuhkan putriku, Ambarwati" berkata Ki Gede Aryaguna. "Dia tokoh jahat atau baik Ki Gede, mohon maaf jika saya lancang bertanya?" tanya Puspanidra penasaran. "Tenang saja, meskipun tingkahnya rada aneh seperti bocah, namun ia adalah seorang pendekar yang baik, tidak pernah berbuat jahat, dan saya dengar-dengar, ia sering menolong orang" panjang lebar Ki Gede Aryaguna menerangkan. 

Bersambung

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Bangkitnya Kstaria Mataram (Bagian 2)

Seperti sebelumnya, Ki Saraga langsung menyerang dengan senjata andalanya rantai panjang yang ujungnya terdapat mata kampak yang sangat tajam. Ki Saraga memutar-mutar senjatanya dengan cepat dan sesekali seperti mematuk dengan derasnya menuju badan Ambarwati. "Sayang sekali bocah ayu, sebenarnya aku tidak ingin melukai kulit cantikmu ini, menyerahlah, dan ikutlah denganku bersenang-senang ke pulau Nusakambangan" rayu Ki Saraga, Si pemetik Bunga. "Cuih, akan aku binasakan mulut kotormu itu saraga" jawab Ambarwati. Tidak mau berlama-lama bertarung, ia ingin segera menyelesaikan pertempuran, Ambarwati segera meloncat jauh ke belakang. Ia akan langsung mengeluarkan jurus getar buminya. Ambarwatipun memasang kuda-kuda. Ia memusatkan pikiran dan tenaganya untuk mengeluarkan jurus getar bumi. Tidak berapa lama kemudian tanah tempat terjadinya pertarungan bergetar hebat, seolah-olah sedang ada gempa yang sangat dashyat. Pohon-pohon bergoyang, burung-burung beterbangan. Genteng rumahpun banyak yang melorot. Meskipun belum sehebat Adinata, tapi jurus getar bumi yang telah dikuasai Ambarwati tidak dapat dianggap remeh.

Para prajurit, pemuda desa dan gerombolan pemberontak berhenti dari pertarungannya. Mereka lalu berkelompok sesuai sekutunya masing-masing. Secara perlahan namun pasti, seolah-olah mereka membentuk lingkaran melihat pertarungan yang sangat dahsyat itu. "Bersiaplah kamu Saraga, pintu neraka sudah terbuka lebar menyambut kehadiranmu" teriak Ambarwati penuh kemarahan. Ki Saragapun terkejut dengan jurus getar bumi yang diperagakan Ambarwati. Ia sama sekali tidak mengira bahwa Ambarwati telah menguasai Jurus yang sudah lama hilang dari bumi Mataram itu. Ia sebenarnya ketakutan. Namun ia malu untuk mundur. 

"Aku sama sekali tidak takut, menhindarlah kalau bisa dari senjata andalanku ini" teriak Ki saraga sambil mengayun-ayunkan rantai panjang yang ujungnya terdapat mata kampak yang sangat tajam. Namun Ambarwati, dalam kemarahannya yang memuncak, dengan cepatnya menghindari setia serangan dari Ki Saraga, dan pada satu kesempatan ketika Ki Saraga agak lengah, ia telah menendang perut dari Ki Saraga dengan derasnya dengan dilambari oleh jurus tendangan halilintar. Ki Saraga berteriak melolong kesakitan dan iapun terhuyung-huyung, namun Ambarwati tanpa ampun langsung memukul dada ki saraga dengan pukulan kepalan geledek. Ki Saragapun langsung terkapar seketika dan tidak bernafas lagi.

Para penontonpun terdiam seketika, namun kemudian sorak sorai terdengar dari kubu Kalibiru. Dan gerombolan penjahatpun seperti kebingungan melihat salahsatu pemimpinnya mati ditangan Ambarwati. Saudara seperguruan Adinatapun bingung kenapa Ambarwati dapat menguasai jurus Kepalan geledek. Namun seperti pernah diceritakan di depan, bahwa dengan menguasai jurus getar bumi yang merupakan gabungan dari jurus kepalan geledek dan tendangan halilintar, maka secara tidak langsung akan menguasai pula jurus kepalan geledek dan tendangan halilintar. 

Bersambung

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Bangkitnya Kstaria Mataram (Bagian 1)

Ambarwati masih terus menangis khawatir dengan keadaan Adinata, kekasihnya. Melihat itu Ki Jangkung tertawa-tawa kegirangan. "Ha ha ha, sebentar lagi kekasihmu akan memasuki pintu neraka" ejeknya kepada Ambarwati. "Kurang ajar kamu Ki Jangkung, akan aku balas kamu" teriak Ambarwati dengan marah. Ambarwati segera berdiri. Ia berniat untuk bertarung dengan ki Jangkung sampai titik darah penghabisan. Adinata sebenarnya tidak pingsan. Ia masih sadar dengan semua yang terjadi. Ia khawatir sekali dengan Ambarwati yang akan melawan Ki Jangkung. Namun ia harus menahan diri. Perlahan-lahan ia berusaha memulihkan dirinya. Meskipun tidak dalam posisi yang sempurna, ia berusaha menggunakan jurus pembalik raga penghancur bala yang diperolehnya dari Ki Gede Aryaguna.

Dalam tingkat kemarahannya yang amat sangat, ia langsung akan menyerang Ki Jangkung dengan ilmu andalannya Jurus getar bumi. Namun sebelum ia menyerang Ki Jangkung, Ki Saraga telah melompat masuk ke gelanggang pertarungan. "Ki Jangkung, injinkanlah aku bermain dengan gadis cantik ini, aku ingin membawanya ke pulau Nusakambangan untuk bersenang-senang" berkata Ki Saraga. "Ha ha ha, apa kamu belum puas Saraga, bukanlah kamu sudah mempunyai selir yang sangat banyak" tertawa Ki Jangkung melihat ulah Ki Saraga. "Tapi biarlah kamu bertarung dengannya, supaya kamu senang"

Bersambung


Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Pertarungan (Bagian 8)

Dengan tangkasnya paman gembul menghindari setiap serangan dari Madhupa. Di saat yang sama ia balik menyerang Madhupa dengan jurus kepalan geledek ataupun tendangan halilintar yang dimilikinya. Meskipun masih terhitung pemula dalam menggunalan ilmu silat, akan tetapi kemampuan paman gembul sampai sejauh ini bisa dikatakan sangat mengagumkan. Perlahan tapi pasti paman gembul dapat mendesak Madhupa hingga terus mundur ke belakang. Menyadari hal ini Madhupa menjadi uring-uringan. Mulutnya mengeluarkan sumpah serapah. "Dasar manusia tak berguna, aku habisi kau" teriaknya sambil mengayun-ayunkan golok besarnya. "Buktikan saja, jangan terlalu banyak cingcong kamu" jawab paman gembul sambil sengaja membuat marah lawannya.

Kembali ke pertarungan Adinata, karena khawatir dengan keselamatan Ambarwati dan juga para pemuda desa Kalibiru ia ingin segera menyelesaikan pertarungan di tanah lapang tepi dusun itu. Ia meloncat mundur dari pertarungan kemudian memusatkan tenaga. Kemudian tanpa diduga, ia telah berteriak dengan keras dan mengeluarkan salah satu ilmu yang dikuasainya tanpa sengaja "Auman Harimau". Ia mengaum dengan sangat keras sehingga membuat telinga semua orang yang mendengarnya menjadi kesakitan luar biasa. Untunglah sebelumnya ia telah memberi pesan kepada seluruh prajurit mataram dan pemuda kalibiru untuk menyiapkan kapas penutup telinga.

Menyadari Adinata telah mengeluarkan jurus auman harimau, para pemuda kalibiru dan para prajurit mataram segera menutup telinganya dengan kapas yang telah disiapkan. Sehingga telinga mereka tidak terlalu sakit mendengar suara auman harimau dari Adinata. Namun berbeda dengan gerombolan para pemberontak, telinga mereka sangat kesakitan dan mulai mengeluarkan darah segar. "Serang" tiba-tiba Senopati Puspanidra berteriak memberi aba-aba, para prajurit dan pemuda kalibirupun sontak tersadar dan langsung menyerang gerombolan para pemberontak yang sedang lemah dan tidak mampu berkonsentrasi akibat suara auman harimau Adinata. Para pemuda kalibiru dan prajurit mataram dengan mudahnya menangkap atau bahkan membunuh gerombolan pemberontak yang melawan.

Namun tiba-tiba suara auman harimau itu berganti teriakan kesakitan yang luar biasa dari Adinata yang kemudian terjatuh tertelungkup. Rupanya ketika ketika ia sedang memusatkan kekuatannya untuk mengeluarkan jurus auman harimau, Ki Jangkung dengan liciknya telah menyerangnya menggunakan jarum beracun. Akibatnya sungguh di luar dugaan. Tubuh Adinata menjadi kaku dan membiru. "Kakang Adinata" teriak Ambarwati cemas luar biasa melihat kekasih hatinya jatuh tertelungkup dan badan yang kakju serta membiru. Mata Adinatapun terpejam karena rasa sakit luar biasa yang dirasakannya.

Bersambung

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Pertarungan (Bagian 7)

Pertarunganpun segera dimulai. Ki Jangkung dengan ganasnya langsung menyerang Adinata. Namun dengan kelincahannya Adinata berhasil menghindar dari setiap serangan yang dilancarkan lawannya. Apalagi Adinata selain mempunyai kelincahan karena seringnya berlatih dengan Si Loreng temannya juga karena ia sekarang telah menguasai ilmu ringan tubuh yang diajarkan oleh Ki Gede Aryaguna. Senopati Puspanidra yang bertarung melawan Ki Gardapati juga tidak kalah menakutkan sekaligus mengagumkan. Ki Gardapati yang menyerang Senopati Puspanidra dengan ganasnya namun Senopati Puspanidra dengan lincahnya dapat menghindari setiap serangan lawanya. 

Di sisi lain, nampak Ambarwati sedang bertarung dengan Ki Saraga. "Menyerahlah anak manis, ikutlah denganku, kita akan bersenang-senang di Nusakambangan" berkata Ki Saraga si otak mesum dan mata keranjang. Pantas saja gelarnya Si Pemetik Bunga dari Nusakambangan. "Cuih, jangan banyak bicara kau Ki Saraga, akan aku kirim kamu ke neraka" berkata Ambarwati marah atas rayuan Ki Saraga. Ki Saraga langsung menyerang dengan senjata andalanya rantai panjang yang ujungnya terdapat mata kampak yang sangat tajam. Ki Saraga memutar-mutar senjatanya dengan cepat dan sesekali seperti mematuk dengan derasnya menuju badan Ambarwati. 

Untuk mengimbangi senjata dari Ki Saraga, Ambarwatipun mengeluarkan senjata pusaka andalannya tombak pendek dari kayu sonokeling yang ujungnya terdapat mata pisau yang sangat tajam, sama dengan yang dimiliki Ki Adanu gurunya. Akibatnya sungguh dahsyat, dua senjata sering beradu diudara dan perlahan-lahan keduanyapun mulai terluka terkena senjata andalan lawannya masing-masing. Adinata yang melihat Ambarwati mulai terluka menjadi khawatir. Ia berteriak meminta bantuan. "Ki Gede, tolong bantu Nimas Ambarwati". Ki Gede Aryaguna yang melihat putri kesayangannya terluka akibat senjata yang dimiliki Ki Saraga meskipun hanya goresan tipis menjadi khawatir juga. Ia segera ikut menyerang Ki Saraga. 

Ki Saraga yang mendapat serangan dari Ki Gede Aryaguna menjadi gusar. "Majulah kau tua bangka, temani anakmu ke neraka" teriak Ki Saraga. Ki Gede Aryaguna, meskipun dengan tangan kosong telah memecah konsentrasi Ki Saraga. Dengan ilmu ringan tubuh yang dimilikinya, Ki Gede Aryaguna meskipun usianya sudah tua dapat dengan lincah menyerang dan menghindar dari setiap serangan Ki Saraga.

Tak jauh dari Ambarwati dan Ki Gede Aryaguna bertarung melawan ki Saraga, nampak paman gembul bertarung melawan Madhupa, murid ki Gardapati. Madhupa menyerang dengan golok besarnya namun paman gembul dengan tenangnya melawan Madhupa dengan tangan kosong. Namun jangan salah sangka, paman gembul sekarang bukanlah pemuda dusun biasa, ia telah menerima gembelngan ilmu dari Adinata. Sedikit banyak ia telah menguasai jurus telapak geledek dan tendangan halilintar.

Bersambung

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Pertarungan (Bagian 6)

"Kakang Adinata, apa yang harus kami lakukan?" bertanya Bhadrika mewakili saudara seperguruannya. "Menurutku kalian harus menyebar diantara para para prajurit dan para pemuda desa, jika pertarungan ini terpecah menjadi beberapa kelompok, kalian harus segera masuk ke kelompok yang pertandingannya tidak seimbang, bukankah begitu Kakang Senopati Puspanidra?" berkata Adinata dan meminta persetujuan Senopati Puspanidra. "Iya, saya sangat setuju dimas adinata, sebagai tambahan, kami akan menghadapi pemimpin dari para gerombolan pemberontak itu" jawab Senopati Puspanidra. "Terimakasih Kakang Adinata, dan tuan senopati atas arahannya" kata Bhadrika. Bhadrika dan saudara seperguruannya yang lain termasuk dari padepokan tebing breksi bersiap untuk menghadapi pertarungan.

"Serbu ... binasakan mereka" tiba-tiba Ki Jangkung berterika dan disahut oleh murid dan anak buahnya. Mereka langsung bergerak menyerang rombongan prajurit mataram dan para pemuda kalibiru. Para prajurit mataram dan pemuda kalibiru yang telah bersiap-siap segera bergerak untuk menghadapi serangan dari para pemberontak. "Ayo, tarik mereka dalam beberapa kelompok pertarungan" teriak Senopati Puspanidra memberi perintah pada para prajurit dan para pemuda kalibiru.

Sesuai dengan siasat yang telah direncanakan, terjadilah pertarungan yang terbagi mebjadi beberapa kelompok. Murid-murid perguruan dari lereng merapi dan tebing breksi segera memasuki kelompok-kelompok pertarungan itu agar menjadi seimbang dan bisa memenangkan pertarungan. Melihat ini Ki jangkung, Ki gardapati, Ki Saraga dan Madhupapun menjadi gusar. Mereka ingin turut memasuk ajang pertempuran namun segera dicegah oleh Ki gede Aryaguna. "Mau kemana kalian, mau lari ya, takut dengan kekuatan dan siasat kami" berkata Ki gede Aryaguna sengaja memancing kemarahan Ki Jangkung dan kawan-kawannya. "Kurang ajar kamu Ki Gede, kami sama sekali tidak takut, bersiaplah untuk menghadapi pertarungan ini" berkata Ki Jangkung dengan congkaknya.

"Dimas Adinata, terus siapa yang akan melawan mereka berempat?" bertanya Senopati Puspanidra. "Aku akan melawan Ki Jangkung, Kakang Puspanidra melawan Ki Gardapati, Ambarwati melawan Ki Saraga dan Madhupa biarlah dihadapi oleh paman gembul" jawab Adinata. "Nimas Ambarwati, paman gembul, apakah kalian siap menghadapi lawan kalian?" tanya Adinata meminta jawaban. "saya sanggup den Nata" jawab paman gembul. "Saya juga siap kakang" berkata Ambarwati dengan yakin.

Bersambung


Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Pertarungan (Bagian5)

"Untuk apa kalian datang kemari?" bertanya Ki Gede Aryaguna. "Hei tua bangka, kami akan meluluhlantakan bumi kalibiru ini" berkata Ki Jangkung dengan pongahnya. "Hei orangtua keblinger, apakah kamu telah membunuh prajurit mataram yang ada di kalibiru, dan apakah kamu juga memberontak terhadap mataram?" tanya Senopati Puspanidra. "Benar sekali, aku dan anak buahku telah banyak membunuh prajurit mataram, dan kami memang memberontak terhadap mataram, terus kamu mau apa bocah ingusan" jawab Ki Jangkung. "Oh, kalau begitu kami akan menumpas habis kamu dan anakbuahmu karena telah berani memberontak terhadap mataram kecuali kalian mau menyerahkan diri untuk mendapat hukuman" berkata Senopati Puspanidra dengan tegas. "Sudahlah, jangan banyak bacot, mari kita segera mulai pertarungan ini" berkata Ki Jangkung dengan congkaknya. 

Sebelum pertarungan dimulai tiba-tiba datang saudara seperguruan dari lereng merapi dan dari tebing breksi. Mereka adalah Bhadrika, Nismara, Wilalung dan Indraswari dari padepokan lereng merapi dan Bayuaji, Abiyasa, Admaja, serta Danurdara dari padepokan tebing breksi. "Kakang Adinata, kami diutus oleh guru untuk datang untuk membantumu" berkata Bhadrika mewakili saudara seperguruan dari padepokan lereng merapi. "Nimas Ambarwati kami juga diutus guru untuk datang membantumu" berkata Bayuaji mewakili teman-teman seperguruannya. Adinata dan Ambarwati sangat gembira melihat kedatangan saudara seperguruannya. "Terimakasih sekali kalian telah bersedia datang membantu" berkata Adinata.

"Ha ha ha, mau datang seratus orang dari kalian, kami tidak takut" berkata Ki Jangkung dengan congkaknya. "Hei, kamu jadi orangtua jangan terlalu sombong, bisa-bisa nanti kamu akan dipermalukan oleh para anak muda ini" nasihat Ki Gede Aryaguna. "Jangan berkoar-koar saja kamu Ki Gede, kita segera saja mulai pertarungan ini" tak sabar Ki Jangkung untuk bertarung.

Bersambung


Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Pertarungan (Bagian 4)

Di tempat lain, di dapur umum, paman gembul sedang menemani nyi lastri memasak untuk persiapan pertarungan melawan gerombolan pemberontak. Paman gembul memperhatikan nyi lastri yang tampak sedih. "Ada apa dik Lastri, kenapa raut wajahmu kelihatan sedih?" tanya paman gembul keheranan. "Tidak ada apa-apa kakang" jawab nyi Lastri datar. "Jujurlah dik, aku siap mendengarkan, kamu tidak bisa berbohong dariku, kamu bilang tidak apa-apa tapi tatapan matamu mengatakan lain" tanya paman Gembul. "Iya kakang, jujur saja aku mengkhawatirkan keselamatanmu dan kelanjutan rencana pernikahan kita" jawab Nyi Lastri. "Oh, itu, tenanglah kamu dik, saya sudah belajar ilmu silat sama den Nata, Insyaallah semuanya akan baik-baik saja" kata paman gembul menghibur hati Nyi Lastri. "Oh begitu, syukurlah kakang, aku jadi agak tenang, tetapi kamu besok tetap harus berhati-hati ya" nasihat Nyi Lastri. "Siap tuan putri" jawab paman gembul sedikit bercanda. "Ah, kakang bisa saja" tersenyum nyi lastri sambil pura-pura memukul manja paman gembul. "Uhuy, jadi makan semur daging nih ye" para pemuda dan pemudi yang sedang asyik bekerja di dapur umum ikut menggoda nyi lastri.

Keesokan paginya para pemuda desa dan prajurit mataram, dengan dipimpin oleh Senopati Puspanidra, Adinata dan tak ketinggalan Ki Gede Aryaguna, dibelakangnya ada Ambarwati dan paman gembul. Mereka telah berada digaris depan memimpin pertarungan yang akan terjadi. Mereka menunggu para pemberontak datang dan menyerbu di pinggir lapangan dusun. Semuanya sudah siap siaga untuk bertempur. Perempuan dan anak-anak telah diungsikan ketempat yang aman.

Tidak berapa lama kemudian datanglah Ki Jangkung, Ki Gardapati, dan Ki Saraga, dibelakangnya ada Madhupa, murid ki Gardapati beserta anak buahnya. Mereka kini berhadap-hadapan dengan Ki Gede Aryaguna, Senopati Puspanidra, dan Adinata beserta Ambarwati dan paman gembul dibelakangnya.

Bersambung

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Pertarungan (Bagian 3)

Adinata melihat Ambarwati sedang duduk termenung di kursi taman. Adinatapun mendekati Ambarwati dan duduk di sebelahnya. "Nimas Ambarwati, sebenarnya ada apa gerangan sehingga wajahmu kelihatan sedih, Kakang kan jadi khawatir?" tanya Adinata. "Tidak ada apa-apa kakang" jawab Ambarwati datar. "Kamu tidak bisa membohongi aku Nimas, matamu berkata lain" berkata Adinata. Mata Ambarwati tiba-tiba berkaca-kaca. Dan ia tiba-tiba menangis. "Bersandarlah dipundakku Nimas, menangislah, biar beban dihatimu semakin berkurang" kata Adinata berusaha menghibur Ambarwati. "Kakang, sebenarnya aku sangat khawatir dengan keselamatan Bopo dan Biyung" Ambarwati menceritakan kekhawatirannya. "Tidak usah khawatir Nimas, kan ada aku, aku akan bertarung mati-matian untuk menjaga keselatan kalian" ujar Adinata. "Justru itu kakang, aku juga sangat mengkhawatirkan keselamatanmu, apalagi aku dengar pemimpin pemberontak itu adalah orang yang sangat sakti amndraguna dan sangat licik, aku jadi sangat khawatir kakang". "Tidak usah khawatir Nimas, percayalah sama kakang, selama ini kakang telah menempa diri dan sangat siap menghadapi keadaan seperti ini, dan juga serahkan semuanya kepada Tuhan, yakinlah akan kebesarannya. Semoga kita senantiasa diberi keselamatan. "Terimakasih kakang, aku jadi sedikit tenang sekarang" kata Ambarwati. "Sekarang tidurlah Nimas, biar aku melanjutkan bincang-bincang dengan Ki Gede dan Senopati Puspanidra" berkata Adinata. "Baiklah kakang, selamat malam" Ambarwati pamit menuju ke kamar untuk beristirahat.

Adinata kembali menuju ke teras rumah dimana Ki Gede Aryaguna dan Senopati Puspanidra masih duduk-duduk mengatur strategi. "Bagaimana Nak Adinata, apakah kamu sudah menemui Ambarwati?" tanya Ki Gede Aryaguna. "Sudah Ki Gede, Nimas Ambarwati cuma sedikit khawatir saja dengan pertempuran esok hari, sekarang Nimas sudah beristirahat di kamarnya" Adinata menjawab. "Oh, begitu, syukurlah kalau dia sudah sedikit tenang".

"Dimas Adinata, apa rencanamu untuk pertempuran besok?" bertanya senopati Puspanidra meminta pendapat. "Menurut saya kita harus bersiap menghadapi para pemberontak itu di tanah lapang di pinggir dusun. Supaya tidak menimbulkan kerusakan di Hargowilis ini. "Saya setuju dengan pendapatmu Nak, nanti biar anak perempuan dan anak-anak tinggal di dusun, yang laki-laki bersiap menghadapi pertempuran besok". "Oh ya Kakang Puspanidra, bolehkah saya pesan sesuatu?" tanya Adinata. "Apakah itu Adi, aku jadi penasaran?" Senopati Puspanidra keheranan. "Minta tolong untuk disampaikan kepada seluruh prajurit dan para pemuda agar besok sebelum maju berperang menyiapkan kapas untuk menutup telinga" pinta Adinata. "Baik Adi, nanti akan saya sampaikan" jawab senopati Puspanidra keheranan namun ia tidak bertanya lebih lanjut.

Setelah berbincang panjang lebar maka Adinata, Ki Gede Aryaguna dan Senopati Puspanidra segera bergerak untuk mempersiapkan segalanya untuk menghadapi pertarungan esok hari sesuai dengan rencana yang sudah dimusyawarahkan bersama.

Bersambung



Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Pertarungan (Bagian 2)

Malam harinya datang seorang teliksandi Mataram ingin menghadap Senopati Puspanidra. Teliksandi itu diterima di teras rumah Ki Gede Aryaguna. Di teras telah ada Ki Gede Aryaguna, Senopati Puspanidra, serta Adinata. "Sampaikan laporanmu paman prajurit" kata Senopati Puyspanidra. "Daulat tuanku. saya ingin melaporkan bahwa gerombolan pemberontak berbondong-bondong menuju kemari, sepertinya akan melancarkan serangan esok pagi" lapor teliksandi. "Oh, begitu rupanya" Senopati Puspanidra mengangguk-angguk. Tidak kelihatan sama sekali raut muka gentar di wajahnya. "Bagaimana pendapat Ki Gede?" tanya Senopati Puspanidra. "Menurutku kita harus sudah bersiap sekarang. Beritahu prajurit dan para pemuda agar menyiapkan senjatanya masing-masing untuk pertempuran besok" berkata Ki Gede Aryaguna. "Kalau menurutmu bagaimana Dimas Adinata?" Senopati Puspanidra meminta pendapat Adinata. "Kalau menurutku selain kesiapan fisik mentalnya juga harus tetap dijaga. Mereka harus yakin bahwa kita akan memenangkan peperangan melawan gerombolan pemberontak ini" berkata Adinata panjang lebar. Benar sekali Dimas Adinata, untuk kesiapan fisik kita berdua bisa menanganinya, untuk kekuatan mental biar Ki Gede Aryaguna yang akan memberikan nasihat dan petuahnya".

Tidak berapa lama kemudian datanglah Ambarwati beserta nyi lastri membawa makanan dan minuman. Wedang sere hangat beserta singkong goreng dan kacang rebus menjadi makanan penunda lapar malam itu. Namun ada sesuatu yang agak aneh. Ambarwati yang biasanya ceria nampak diam seperti ada yang dikhawatirkan. Dan Adinatapun menyadarinya. "Ki Gede Aryaguna, bolehkah ananda mengobrol dengan Nimas Ambarwati, ada yang ingin kami bicarakan" Adinata meminta izin. "Silahkan Nak Adinata, Ambarwati hanya sedang mengkhawatirkan keadaanmu saja" berkata Ki Gede Aryaguna dengan bijaksana. "Terimakasih Ki Gede, mari Senopati, saya undur diri sebentar" pamit Adinata. "Oh ya, silahkan Dimas, hibur Nimas Ambarwati, sepertinya ia khawatir sekali dengan keselamatanmu" jawab Senopati Puspanidra. Adinatapun kemudian menyusul ambarwati menuju taman di samping rumah. Ki gede Aryaguna dan Senopati Puspanidrapun hanya geleng-geleng kepala dan tersenyum melihat tingkah polah dua insan lawan jenis yang sedang jatuh cinta itu.

Bersambung


Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Pertarungan (Bagian 1)

Diantara sekian banyak pengungsi, ternyata ada kedua orangtua paman gembul beserta kakeknya. Paman gembulpun tak sengaja bertemu ketika sedang mengantar makanan untuk para pengungsi bersama Nyi Lastri. "Gembul, kaukah itu, siapa gadis cantik yang bersamamu itu? tanya seseorang tiba-tiba. Paman gembul hapal dengan suara itu. "Eh, bopo dan Biyung, kenapa ada disini, saya sama sekali tak mengira" tanya paman gembul penasaran. "Iya Le, bopo dan biyung datang kesini mau menjenguk kakekmu, khawatir dengan keadaannya, apalagi beliau sudah tinggal sendirian sejak nenekmu meninggal, apalagi sekarang kabarnya di Kalibiru ini sedang ada pemberontakan" kata ibu paman gembul. "Eh, ini siapa le, kenapa tidak diperkenalkan simbok? bertanya ibu paman gembul sekali lagi. "Perkenalkan saya Lastri Mbok" kata Nyi Lastri dengan sopan. "Kenalkan saya Mbok Rejo, biyung dari gembul, dan ini suami simbok, Pak Rejo"jawab mbok rejo sambil mengenalkan orang yang duduk disampingnya.

"Kamu memang pintar cari calon istri le" puji mbok rejo pada paman gembul. "Ah, si mbok bisa saja, jadi pingin segera dilamarkan? kata paman gembul malu-malu. "Tentu saja le, nanti biar bopo yang melamarkan nak Lastri untukmu" kata Pak Rejo yang sedari tadi ada disitu sambil merokok dan minum kopi. "terimakasih Bopo" kata paman gembul dengan gembira. "Nak Lastri, bilanglah pada kedua orangtuamu, kami ingin bersilaturahmi secepatnya" kata Pak Rejo. "Baiklah bopo, nanti akan saya sampikan" jawab nyi Lastri sambil tersipu malu-malu.

"Oh, ya Bopo dan Biyung, kami permisi dulu ya, tugas kami belum selesai" pamit paman gembul. "oh, iya le, nanti main kesini lagi ya" berkata mbok Rejo. "jangan lupa ajak nak Lastri". "Baik Biyung" jawab paman gembul. Keduanya segera bergegas melanjutkan pembagian makanan kepada para pengungsi.

Bersambung




Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Dua Hati Tertaut Di Hargowilis (Bagian 8)

Pagi harinya tiba-tiba datang berbondong-bondong penduduk di tanah perdikan kalibiru menuju ke dusun Hargowilis. Mereka terdiri atas orangtua, pemuda, wanita dan anak-anak dengan membawa seluruh harta bendanya baik yang berupa baju, perhiasan, hasil bumi ataupun hewan ternak. Rupanya penduduk tanah perdikan Kalibiru sudah mengetahui bahwa dusun Hargowilis menjadi markas sementara prajurit mataram yang akan menumpas pemberontakan di Kalibiru dan juga mereka mendengar bahwa Adinata “harimau muda dari merapi” ada diantara para prajurit mataram itu. Mereka mencari perlindungan ke dusun hargowilis karena tempat tinggalnya sering di rampok oleh para penjahat yang tidak jarang menimbulkan korban jiwa.

Mengetahui hal ini Ki Gede Aryaguna menerima para pengungsi itu dengan tangan terbuka. Maka dibuatlah dengan segera tenda-tenda darurat yang dapat menampung mereka serta dibuatlah dapur umum. Para pemuda yang mengungsi diajak ikut latihan keprajuritan untuk siap menghadapi serangan sewaktu-waktu dari para pemberontak. Senopati Puspanidra dan Adinata terus menerus melatih para pemuda desa itu dengan sabar. Para pemuda desa terpaksa dilatih karena jumlah prajurit mataram yang terbatas dan juga agar para pemuda desa itu bisa melindungi dirinya dan keluarganya.

Setiap hari Ambarwati ditemani pengasuhnya Nyi Lastri menyediakan makanan dan minuman untuk para Adinata, Puspanidra dan juga paman gembul. Sedangkan para pemuda desa yang berlatih keprajuritan sudah disediakan makan dan minum di dapur umum. Karena setiap hari bertemu, lambat tapi pasti Ambarwati mulai merasakan suka yang amat sangat kepada Adinata. Begitupun juga Adinata, meskipun karena ia adalah seorang lelaki ia tidak terlalu menunjukkan rasa ketertarikannya itu. Beda lagi dengan paman gembul, ia selalu menggoda nyi lastri dan tampaknya nyi lastripun perlahan-lahan mulai ada hati dengan paman gembul

Bersambung


Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Dua Hati Tertaut Di Hargowilis (Bagian 7)

"Ngger Adinata, perlu kamu ketahui bahwa Ki Jangkung Guru dari Ki Gardapati sering menggunakan racun yang sangat berbahaya ketika bertarung" kata Ki Gede Aryaguna. "Baik Ki Gede, Ananda akan selalu ingat nasihat ki Gede" jawab Adinata. "Bukan itu maksudku Ngger, aku punya satu ilmu untuk menghilangkan racun yang ada dalam tubuh, maukah kamu mempelajarinya" tanya Ki Gede Aryaguna. "Ananda mau sekali, kapan kita bisa mulai belajar Ki Gede?" tanya Adinata penasaran. "Nanti malam saja, ketika sudah sepi kita berlatih di lapangan belakang rumah" jawab Ki Gede Aryaguna. "Senopati Puspanidra, apakah kamu tertarik untuk belajar juga" Ki Gede Aryaguna menawarkan. "Terimakasih Ki Gede, biar Dimas Adinata yang belajar dulu, ilmunya kan sangat tinggi, tentu ia dapat belajar dengan cepat" jawab Puspanidra.

Tibalah waktunya belajar. Hari sudah malam dan teramat sepi, semuanya sudah beristirahat karena kelelahan dengan kegiatan hari itu. "Ngger, jurus ini namanya Pembalik Raga Penghancur Bala, perhatikanlah" kata Ki Gede Aryaguna. Dengan badanya yang sudah kelihatan tua tapi nampak masih segar bugar, Ki Gede Aryaguna memusatkan pikiran, kemudian tiba-tiba ia berdiri terbalik dengan hanya tertopang pada satu jari saja. Badannya seolah-olah menjadi ringan seperti kapas. Adinata terkagum-kagum melihatnya. "Adinata, jika kamu terkena racun, gunakan jurus pembalik raga penghancur bala ini, rasakan organ yang terkena racun kemudian pusatkan seluruh syaraf untuk membawa racun itu lewat aliran darah menuju ke bawah dan terakhir muntahkan di mulut.

"Baik, Ki Gede, terimakasih telah berkenan mengajarkan Ananda ilmu yang sangat bermanfaat ini, mohon bimbingannya" kata Adinata berterimakasih atas kebaikan Ki Gede Aryaguna mengajarkan ilmu yang langka itu kepadanya. "Untuk mempelajari ilmu ini kamu harus menguasai ilmu meringankan tubuh, dan itu akan sekalian aku ajarkan kepadamu" kata Ki Gede Aryaguna. "Beribu terimakasih Ananda ucapkan atas kebaikan Ki gede". Berhari-hari bahkan berbulan-bulan Adinata belajar ilmu meringankan tubuh dan jurus pembalik raga penghancur bala itu, dan akhirnya pada bulan ketiga Adinata telah menguasai kedua ilmu dari Ki Gede Aryaguna itu dengan sempurna.

Bersambung


Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Dua Hati Tertaut Di Hargowilis (Bagian 6)

Pada suatu malam, Adinata berbincang-bincang serius dengan Ke Gede Aryaguna bersama dengan senopati Puspanidra. Mereka mengobrol santai di teras depan rumah. Gembul juga ikut nimbrung disitu akan tetapi ia tidur rebahan di lantai beralaskan tikar. "Ki Gede, kalau boleh ananda tahu, sebenarnya siapa saja yang membikin keonaran di tanah perdikan kalibiru ini?" tanya Adinata. "Ketahuilah Ngger, yang bikin onar di tanah perdikan kalibiru ini adalah Ki Jangkung, Ki Gardapati dan Ki Saraga, beserta anak buahnya. Mereka rata-rata kejam dan berilmu tinggi." jawab Ki gede Aryaguna panjang lebar. Kalau Ki Gardapati dan Ki Saraga ananda pernah bertarung dan mengalahkannya, akan tetapi kalau Ki Jangkung ananda sama sekali belum pernah bertarung" kata Adinata sedikit berkisah. "Bagus sekali kamu bisa mengalahkan Ki Gardapati dan Ki Saraga, namun ketahuilah, Ki Jangkung itu sangat berbahaya, disamping ilmunya sangat tinggi, dia juga licik, itulah yang harus kamu waspadai." Ki Gede Aryaguna memberi nasihat. "Benar Dimas Adinata, kamu harus berhati-hati kalau berhadap-hadapan dengan Ki Jangkung, dia sangat licik dan juga berbahaya" Puspanidra turut mengingatkan. "Terimakasih kakang, ananda akan berhati-hati jika suatu saat harus menghadapinya."

Tidak berapa lama kemudian Ambarwati dan Nyi Lastri datang membawa wedang bajigur kesukaan Adinata dan ubi goreng serta kacang rebus. "Mari silahkan di nikmati kakang Adinata" kata Ambarwati mempersilahkan. "Den Ayu, kenapa cuma Den Nata yang ditawari, Ki Gede, Den Senopati sama aku nggak ditawari" goda paman gembul. "Maaf, saya lupa, mari semuanya menikmati hidangan yang telah disediakan" kata Ambarwati tersipu malu. Ki Gede Aryaguna, Puspanidra dan Adinata tersenyum melihat tingkah polah Ambarwati. "Nyi Lastri, paman gembul tolong diambilkan makanan dan minuman ini, karena kebetulan ia tiduran dilantai, katanya capek berlatih ilmu silat untuk melindungi kamu dari penjahat" goda Adinata kepada Nyi Lastri dan paman gembul. "Ah, Den Nata bisa saja, aku kan jadi mau" jawab paman gembul. "Ha ha ha" semuanya tertawa dengan tingkah polah paman gembul.

Bersambung

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Popular Posts

Blog Archive

Diberdayakan oleh Blogger.
Copyright © Cerita Silat Harimau Merapi | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com