Mengungsi ke Ledok Sambi (Bagian 5)

Adinata dan paman gembul segera bergegas menuju padepokan di lereng merapi. Karena jaraknya yang tidak begitu jauh sekitar satu jam kemudian sampailah mereka berdua di padepokan. Saat itu Ki Satya kelihatan sedang duduk kelelahan di pendopo padepokan. "Assalamualaikum guru, apa kabar, semoga kabar baik adanya" sapa Adinata. "Walaikumsalam, Oh, Ngger anakku, kamu kemana saja, gurumu ini sudah sangat kangen sama kamu" jawab Ki Satya. "Ceritanya panjang guru, nanti akan saya ceritakan panjang lebar, tapi yang terpenting sekarang, bagaimana keadaan padepokan sekarang?" tanya Adinata. "Sebenarnya keadaan padepokan baik-baik saja, namun sebetulnya seluruh warga padepokan sedang dilanda kecemasan, karena akhir-akhir ini sering terdengar bunyi gemuruh dari kawah gunung merapi, sepertinya akan meletus ngger, kami jadi tidak tenang" Ki Satya menjelaskan. "Oh begitu masalahnya, saya sebenarnya ada jalan untuk memecahkan persoalan ini, tentunya kalau guru setuju" kata Adinata. "Apakah itu ngger, semoga bisa memecahkan persoalan yang sedang dihadapi disini?" tanya Ki Satya. "Kalau guru tidak berkeberatan, seluruh warga padepokan bisa mengungsi sementara di Ledok Sambi, disana ada tempat yang lapang untuk mendirikan tenda perkemahan sementar" jawab Adinata. "Bagus sekali usulmu ngger, tapi masalah makan minumnya bagaimana, kita sebenarnya mempunyai bahan makanan dan minuman, tapi sepertinya terbatas?" tanya Ki Satya lagi. "Tenang guru, masalah itu sudah saya pikirkan, yang penting kita kesana dulu" kata Adinata. "Baiklah saya setuju dengan usulmu ngger, malam ini biar semua warga padepokan bersiap-siap untuk mengungsi, kita pergi mengungsi besok". "Ngomong-ngomong ini siapa ya, kok saya belum kenal?" tanya Ki Satya. "Oh ini paman gembul, yang sering membantu saya guru, katanya ia ingin sekali menjadi murid padepokan lereng merapi, dan mohon maaf sebelumnya guru, saya sudah lancang, ia sudah belajar beberapa jurus ciri khas perguruan kita" kata adinata. "Tidak apa-apa ngger, saya percaya kepadamu, karena akmulah calon penerus padepokan lereng merapi ini". "Perkenalkan saya gembul, ijinkan saya jadi muridmu guru" kata paman gembul memperkenalkan diri sambil mencium telapak tangan Ki Satya. "Kamu saya terima jadi murid padepokan lereng merapi gembul, ikuti semua nasihat dari ngger adinata, karena dialah calon pemimpin di padepokan ini" nasihat ki satya. "Baiklah guru, semua nasihat guru akan saya laksanakan" jawab paman gembul mantap.

Bersambung

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Mengungsi ke Ledok Sambi (Bagian 4)

Kedua orangtua Adinata sangat senang dan bahagia putra kebanggaannya datang. Mereka berdua sedikit heran karena Adinata datang bersama dua orang yang sangat cantik dan juga dua orang yang mirip pengasuh. "Perkenalkan Bopo dan Biyung, ini nimas Ambarwati, nimas Maheswari dan ini paman gembul dan bi lastri yang sudah kami anggap seperti keluarga sendiri" Adinata memperkenalkan anggota rombongannya. "Oh, begitu ngger, sudahlah, masuklah kalian semua, tentu kalian lelah, bersih-bersihlah dahulu, nanti terus kita makan bersama, biyungmu sudah masak banyak makanan untuk menyambut kedatangan kalian" jawab Ki Paramudya, bopo dari Adinata.

Setelah mandi dan beristirahat, Ki Paramudya dan Nini Darminah biyung dari Adinata segera menjamu para tamunya. Di meja makan telah terhidang nasi putih yang masih hangat ditemani sayur gudek, sayur tempe krecek, sego gudangan, trancam sayuran, jadah dan wajik khas merapi. Lauknya juga sangat lengkap ada ayam goreng, ayam bakar, gurami bakar, nila goreng, wader goreng dan masih banyak lagi. Minumannya juga tidak kalah nikmat, ada teh nasgitel (panas, legi, kentel), wedang jahe, wedang kopi.  "Mari silahkan dinikmati sepuasnya, Nini sengaja masak banyak untuk kalian" kata Ki Paramudya mempersilahkan tamunya.

Setelah selesai makan malam Adinata segera meminta ijin kepada kedua orangtuanya untuk pergi menuju perguruan lereng merapi. "Bopo, ananda minta ijin untuk malam ini juga menuju ke perguruan lereng merapi, karena terus terang saya sangat mengkhawatirkan keadaan mereka, karena sewaktu perjalanan kesini saya lihat banyak burung dan monyet turun ke bawah, saya khawatir gunung merapi akan meletus dalam waktu dekat". "Baiklah ngger, hati-hatilah, doaku selalu menyertaimu. Tolong sampaikan salamku kepada gurumu, dan sampaikan juga bahwa kami warga pedukuhan sambi bersedia menampung mereka untuk sementara sampai gunung merapi reda kembali" jawab Ki Paramudya. "Terimakasih bopo, nanti pesan bopo akan saya sampaikan pada guru saya" jawab Adinata. "Saya ikut ya den nata, saya juga kan murid dari perguruan lereng merapi, saya juga ingin membantu sebisa mungkin" kata paman gembul ingin ikut. "Boleh paman, untuk nimas ambarwati,nimas maheswari dan bi lastri, tinggal disini saja dulu ya, biarlah kami para lelaki yang menuju kesana" kata Adinata. "Baiklah kakang, kami akan menunggu di sini, tapi nanti sekiranya butuh bantuan, kami bersedia membantu" kata Ambarwati.

Bersambung
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Mengungsi ke Ledok Sambi (Bagian 3)

Adinata beserta rombongan segera bergegas menuju lereng merapi. Mereka menyewa gerobak yang di tarik dengan dua ekor sapi. Pemandangan menuju ke gunung merapi sebenarnya tampak indah. Namun karena adinata sedang khawatir, ia tidak bisa menikmati perjalanannya. Lain halnya dengan maheswari yang baru pertama kali bepergian. Ia tidak henti-hentinya berdecak kagum menikmati keindahan alam. "Lihat kakang, lihat mbakyu, pemandangannya indah sekali" kata maheswari dengan ceria. Ambarwati tersenyum melihat keceriaan maheswari. Entah kenapa, meskipun belum kenal begitu lama, tapi ia sudah menganggap maheswari seperti adik kandungnya sendiri. Paman gembul dan nyi lastri ikut tersenyum melihat tingkah maheswari.

Siang harinya, adinata dan kawan-kawan sudah menempuh setengah perjalanan. Mereka beristirahat di bawah pohon beringin yang rindang sambil menikmati bekal yang dibawakan oleh mbok mirah dan pak kerto. Kebetulan disitu ada penjual dawet. Adinata dan kawan-kawannya menikmati bekal sambil minum dawet. Bahkan karena saking enaknya, paman gembul nambah nasi dan lauk. "Kakang, jangan begitu dong, malu sama den nata" kata nyi lastri mengingatkan suaminya. "Tidak apa-apa nyi, saya malah senang kok melihat paman gembul makan dengan lahap" kata adinata. "Terimakasih den nata, aden memang sahabat yang paling pengertian" kata paman gembul.

Setelah selesai menikmati bekal Adinata dan rombongan melanjutkan perjalanan. Sore harinya sampailah mereka di padukuhan sambi, tempat orangtua adinata tinggal. Tempat tinggal adinata dekat dengan ledok sambi. Ledok sambi tempatnya sangat indah. Ada aliran sungai kecil yang menambah keindahannya. Karena tempatnya yang sangat indah, banyak para pelancong yang berdatangan ke ledok sambi, bahkan ada beberapa yang mendirikan tenda untuk berkemah.

Bersambung

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Mengungsi ke Ledok Sambi (Bagian 2)

Pagi harinya Adinata beserta seluruh rombongan pamit kepada ki bangor. Maheswaripun ikut pamit karena mau mengikuti adinata berpetualang. Setelah menempuh perjalanan selama sekitar setengah hari dengan naik kuda sampailah mereka di dusun nglanggeran. Mereka langsung menuju rumah pak kerto dan mbok mirah. Nyi lastri senang sekali melihat anak asuhnya ambarwati baik-baik saja. Namun ia heran dengan adanya seorang perempuan cantik yang usianya sekitar dua tahun lebih muda dari ambarwati. "Maaf den nata, siapakah dia?" tanya nyi lastri masih canggung. "Dia nimas maheswari, sudah aku anggap seperti adik sendiri, nanti saya ceritakan ya bi lastri" ambarwati menjawab pertanyaan nyi lastri pengasuhnya. "Bi lastri, Perkenalkan nama saya maheswari" kata maheswari dengan sopan. "Saya bibi lastri, pengasuh nimas ayu ambarwati sejak kecil" jawab nyi lastri. Keduanya berjabat tangan.

"Mari silahkan masuk kedalam rumah, kebetulan istri saya sudah masak banyak untuk menyambut kedatangan kalian semua" kata pak kerto mempersilahkan dengan ramah. "Terimakasih pak kerto, maaf merepotkan" kata adinata. "Tidak apa-apa den nata, justru saya sangat senang ada banyak tamu yang berkenan mampir ke gubuk saya" jawab pak kerto.

Tidak berapa lama kemudian, datanglah serombongan tukang kayu yang sudah membawa peralatan dan bahan bangunan. Rupanya rombongan tukang itu adalah orang suruhan ki bangor. "Oh ya kakek darma, nini wilis, saya mewakili bopo saya memohon maaf atas kekilafan kemarin, dan sebagai rasa penyesalan kami akan membangun rumah kakek darma dan nini wilis lebih baik lagi dari kemarin" kata maheswari mewakili ayahnya. "Terimakasih den ayu, sesama manusia harus saling memaafkan. Kami sudah ikhlas dan terimakasih jika kami mau dibuatkan tempat tinggal lagi" jawab nini wilis.

Ketika sedang berbincang-bincang tiba-tiba berdentum suara keras. Adinata yang penasaran langsung berlari menuju gunung api purba untuk melihat keadaan. Dari sana adinata dapat melihat dengan jelas bahwa gunung merapi sedang mengeluarkan awan panas. Khawatir dengan keadaan perguruan lereng merapi adinata langsung menuju rumah pak kerto untuk berpamitan. 

"Pak kerto, mbok mirah, serta kakek darma dan nini wilis mohon maaf sekali saya harus segera pergi, karena sekarang gunung merapi mengeluarkan awan panas, sejujurnya saya mengkhawatirkan keadaan perguruan lereng merapi, guru saya beserta saudara seperguruan saya yang lain" kata adinata. "Baiklah nak, apakah ada yang bisa kami bantu?" tanya kakek darma. "Terimakasih kakek, cukup doanya saja untuk keselamatan kami" kata adinata. "Baiklah adinata, saya doakan kamu selamat diperjalanan dan sampai disana dalam keadaan sehat tidak kurang suatu apa, dan semoga warga perguruan lereng merapi juga baik-baik saja" kakek darma dan nini wilis beserta pak kerto dan mbok mirah mendoakan adinata beserta rombongan. 

"Nimas ambarwati, kamu mau ikut aku ke lereng merapi atau mau kembali ke hargowilis?" tanya adinata. "Aku ikut kakang ke lereng merapi, karena aku belum pernah kesana" jawab ambarwati. "Kalau kamu bagaimana paman gembul, mau pulang ke hargowilis atau ikut kami ke lereng merapi" tanya adinata. "Saya dan nyi lastri akan ikut den nata dan den ayu ambarwati ke lereng merapi" kata paman gembul.

Bersambung

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Mengungsi ke Ledok Sambi (Bagian 1)

"Ki Bangor, bolehkah saya bertanya?" tanya Adinata dengan sopan. "Silahkan Adinata, apa yang ingin kamu ketahui?" jawab ki bangor. "Bolehkah saya membawa nimas ambarwati, kakek darma dan nini wilis dari sini?" tanya Adinata. "Boleh sekali Adinata, silahkan, saya anggap dendam diantara saya dan ki wisesa orangtua nini wilis dianggap selesai" jawab ki bangor panjang lebar. "Tapi bolehkah saya mengajukan satu permintaan?" tanya ki bangor. "Apakah itu ki bangor, saya akan berusaha memenuhinya jika saya mampu" jawab adinata. "Karena kamu telah memenangkan sayembara ini, maukah kamu menikahi putri saya maheswari?" tanya ki bangor. Mendengar hal ini adinata terkejut. Ambarwati juga terkejut. "Maaf ki bangor, sebenarnya saya tidak bermaksud mengikuti sayembara mencari jodoh ini, tapi niat saya hanyalah menolong sesama, dan kebetulan saya sudah mempunyai calon istri" jawab adinata. "Saya tahu nak adinata, tapi coba dipikirkan lagi" kata ki bangor sedikit memohon. Adinata menengok ke ambarwati, meminta pendapatnya. "Bagaimana ini nimas ambarwati, kok malah jadi seperti ini?" tanya adinata. "Sebenarnya saya sangat berkeberatan dengan hal ini, tapi saya bisa memakluminya. Saya akan menyetujui hal ini tapi dengan satu syarat?" kata ambarwati. "Syarat apakah itu den ayu?" tanya ki bangor. "Kakang adinata boleh menikahi nimas maheswari hanya setelah kakang adinata telah menikahiku terlebih dahulu" kata ambarwati dengan tegas. "Baiklah, aku bisa menerima syaratmu den ayu" jawab ki bangor.

"Baiklah, karena semuanya sudah selesai kami mohon pamit untuk kembali ke rumah kakek darma" kata adinata. "Maafkan atas perbuatanku telah menghancurkan rumah Darma dan nini wilis, aku akan panggil tukang kayu terbaik untuk membangun rumah yang lebih bagus untuk darma dan nini wilis" kata ki bangor menyesali perbuatannya. "Terimakasih ki bangor, perselisihan diantara kita sudah selesai saja kami sudah bersyukur" kata kakek darma. "Bopo, bolehkah aku ikut dengan kakang adinata beserta mbakyu ambarwati, aku ingin menikmati suasana baru?" tanya maheswari. "Bolehsaja putriku, tapi tanyalah pada nak adinata dan den ayu ambarwati apakah kamu diijinkan untuk ikut mereka?" jawab ki bangor. "Mbakyu ambarwati, boleh ya aku ikut?" kata maheswari sedikit manja. "Ambarwati yang tidak mempunyai adik perempuan luluh dengan ambarwati. "Boleh saja nimas maheswari saya tidak keberatan, kamu juga tidak keberatan kan kakang?" tanya ambarwati. "Kalau nimas membolehkan saya sih ikut saja apa perkataanmu" jawab adinata mengiyakan.

Bersambung

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Sayembara mencari jodoh (Bagian 8)

"Bersiaplah menerima seranganku" teriak adinata. Kali ini adinata langsung menyerang musuhnya. Dengan menggunakan zirah sarung tangan khusus dari nini wilis, adinata menyerang lawanya dengan menggunakan gerakan seperti harimau yang sedang berkelahi mencakar mangsanya. Adinata yang sudah membelah diri menjadi tujuh orang cukup menyulitkan lawannya. Gardakapun tidak tinggal diam. Iapun memusatkan diri dan tiba-tiba, seolah-olah gardaka juga membelah diri menjadi tujuh orang. Dan pada akhirnya seolah-olah ada 14 orang yang bertarung di dalam satu gelanggang. Penontonpun dibuat keheranan melihatnya.

Keduanya saling jual beli pukulan dan tendangan. Keduanya sudah terluka akibat serangan lawannya. Dan padasatu kesempatan, adinata terkena serangan sengatan kalajengking dari gardaka yang dipersenjatai dengan racun berbisa. Adinatapun meloncat surut. Badannya tiba-tiba terasa lemah. Sebelum semuanya terlambat, iapun menggunakan jurus pembalik raga penghancur bala yang diajarkan oleh ki gede aryaguna. Iapun berdiri dengan satu jari dan berusaha mengeluarkan racun dari dalam tubuhnya. Tidak berapa lama adinata berhasil memuntahkan racun dari badannya. 

Gardaka tertawa melihat adinata keracunan. Sembari melihat adinata yang sedang berusaha mengeluarkan racun dari tubuhnya, gardaka mengeluarkan ilmu pamungkasnya jurus sengatan kalajengking pada tingkat tertinggi dengan seluruh tenaganya. Melihat gardaka menyiapkan jurus pamungkasnya, adinatapun memusatkan dirinya untuk menggunakan jurus sengatan listrik gunung api purba yang baru dikuasainya.

Gardakapun meloncat menyerang adinata seolah-olah seperti kalajengking yang akan menyengat lawannya, namun adinata sudah siap, ia segera balas menyerang dengan menggunakan sengatan listrik gunung api purba. Dan akibatnya sungguh dahsyat, dua kekuatan berbenturan diudara dan ternyata gardaka masih kalah ilmu jika dibandingkan adinata. Gardaka terlempar surut kebelakang dengan dada terbakar dan membekas seperti cakar harimau. Gardakapun pingsan seketika. Namun tiba-tiba munculah sekelebat bayangan orangtua memakai baju serba hitam menyambarnya dan membawa pergi dengan sangat cepat. Melihat hal tersebut adinata tidak berusaha untuk mengejarnya.

Bersambung

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Sayembara mencari jodoh (Bagian 7)

"Ha ha ha, ternyata ada dua orang yang bening disini, sayang kalau harus ku kirim keneraka, lebih baik aku jadikan perempuan penghibur saja" kata gardaka. "Kurang ajar kau gardaka, mulutmu sangat kotor" teriak ki bangor dengan penuh kemarahan. "Hmm, lebih baik aku jadikan sumber uang saja, lumayan, ada pemasukkan" kata gardaka sambil mencolek pipi maheswari dan ambarwati. "Awas kamu gardaka, aku pasti akan membalasmu" kata ki bangor dengan marah. Adinata sangat marah melihat gardaka mencolek ambarwati. Iapun segera meloncat masuk ke gelanggang pertandingan.

"Kurang ajar sekali kamu gardaka, berani melecehkan calon istriku nimas ambarwati, apakah kamu sdah bosan hidup" kata adinata. "Ha ha ha, siapa lagi ini cecunguk kecil, tidak usah ikut campur, atau kamu mau kumatikkan sekarang juga" kata gardaka dengan pongahnya. "Kita buktikan saja, siapa yang jauh lebih hebat, kamu atau aku" jawab adinata dengan tenang. "Hmm, kamu percaya diri sekali anak muda, siapakah namamu?" tanya gardaka. "Baiklah, biar kamu tidak mati penasaran, namaku adinata, dari perguruan lereng merapi" jawab adinata. "Hmm, kamukah pendekar harimau muda dari lereng merapi, nama besarmu sudah sangat terkenal di wilayah mataram. tapi aku sama sekali tidak takut, aku tidak akan segan-segan lagi untuk menghajarmu" kata gardaka. Sebenarnya dalam hatinya, ia sedikit cemas. Ia tidak yakin dapat mengalahkan adinata, pendekar berjuluk harimau muda merapi. Namun semuanya sudah terlambat. Ia malu untuk mengundurkan diri dari gelangangg pertandingan.

Gardaka segera memusatkan diri untuk menggunakan jurus sengatan kalajengking. Iapun langsung menggandakan diri menjadi tiga orang. "Bersiaplah kamu adinata" kata gardaka. "Ha ha ha, cuma itu kemampuanmu gardaka, perhatikan aku baik-baik" kata adinata. Iapun segera memusatkan diri. Ia mempersiapkan diri untuk menggunakan jurus bayangan. Tidak berapa lama kemudian adinata telah seolah-olah membelah diri menjadi 7 orang. Para penonton pertandinganpun menjadi terkagum-kagum melihatnya. Luar biasa sekali pendekar dari lereng merapi ini.

"Hati-hati kakang, dia pandai menggunakan beragam jenis racun" teriak ambarwati. "Iya nimas, kakang akan berhati-hati" jawab adinata. Maheswaripun melirik ambarwati. "Oh, ternyata kakang adinata sudah mempunyai calon istri, beruntung sekali dia" batin maheswari sedikit iri atas keberuntungan ambarwati. "Gunakan sarung tangan yang aku berikkan kepadamu adinata, aku ingin melihat kamu memakainya" kata nini wilis. "Baiklah nini, sesuai permintaanmu" jawab adinata seraya menggunakan sarung tangan pemberian nini wilis. "Karena posisi adinata, sudah dalam kondisi siap tempur, maka sarung tangan itu yang semula nampak seperti sarung tangan biasa berubah menjadi seperti zirah yang dipakai di tangan dan kelihatan sangat gagah sekali.

Bersambung

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Sayembara mencari jodoh (Bagian 6)

Dalam puncak kemarahannya, ki bangor langsung menggunakan jurus pamungkasnya, jurus kepakan walet menghalau iblis. Ki bangor langsung meloncat menyerang seperti gerakan walet yang lincah, namun yang mengerikan adalah, kepakannya mengandung hawa panas yang luar biasa. Gardakapun tidak tinggal diam, iapun segera mengeluarkan salahsatu ilmu andalannya, jurus sengatan kalajengking, gardakapun sesekali menghindar dan kadang menyerang, ternyata gardaka telah mempersenjatai dirinya dengan menggunakan racun yang ditaruh di kuku jari-jari tangannya. Namun sejauh ini ternyata ki bangor masih unggul, beberapa kali ia mampu menyarangkan pukulan dan tendangannya yang disertai hawa panas yang luar biasa. Kulit gardakapun memerah terkena serangan dari kibangor yang disertai hawa panas.

"Menyerahlah gardaka, agar lebih mudah aku mengirimu keneraka" kata ki bangor. "Jangan terlalu jumawa kau bangor, aku baru mengeluarkan sebagian ilmuku" jawab gardaka. Beberapa saat kemudian gardakapun meloncat surut kebelakang. Kemudian iapun memusatkan diri. Dan, ajaib, ia seolah-olah menggandakan diri menjadi tiga orang. Kemudian ketiga gardakapun meloncat menyerang ki bangor. Hal ini menyulitkan ki bangor, ia tidak dapat membedakan mana gardaka yang asli. Berulangkali ia menyerang mengenai bayangan dari gardaka. Ketiga gardaka solah-olah menyerang ki bangor secara bersama-sama, orang awam akan melihat kibangor seperti sedang dikeroyok oleh tiga orang.

Keadaan menjadi berbalik arah. Beberapa kali serangan gardaka mulai mengenai badan ki bangor. Racun dari gardaka yang ada dikukunyapun mulai beberapa kali menggores kulit ki bangor. Lama kelamaan ki bangorpun menjadi lemah karena kehilangan tenaga dan juga menjadi lemas akibat pengaruh racun dari gardaka. Ki bangorpun terduduk tak berdaya dihadapan gardaka. "Sekarang, aku ingin lihat, apa yang bisa kamu lakukan untuk menolong anakmu" kata gardaka dengan dingin. Gardakapun berteriak kepada anak buahnya. "Seret maheswari anak ki bangor kesini, aku sangat dendam kepadanya". "Baik guru" jawab anak buahnya yang ternyata adalah murid-murid dari gardaka. 

"Seret saja keluar semua yang ada didalam rumah ki bangor" teriak gardaka. Anak buah ki bangorpun tidak ada yang berani melawan. Mereka takut dengan gardaka, apalagi tuannya sedang tak berdaya akibat pengaruh racun dari gardaka. Tidak berapa lama kemudian murid-murid gardaka menyeret beberapa orang dari dalam rumah. Diantaranya ada maheswari, ibu maheswari, pengasuh maheswari. "Den nata, lihat, ternyata ada kakek darma, nini wilis beserta den ayu ambarwati" kata paman gembul. "Iya paman, syukurlah ,mereka baik-baik saja, tapi sepertinya mereka kehilangan tenaga" jawab adinata. 

Bersambung

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Sayembara mencari jodoh (Bagian 5)

Maheswari masih termangu-mangu melihat kematian ki pasisiran ditangannya. Tiba-tiba meloncatlah seseorang dari gerombolan pendekar dunia hitam tersebut memasuki gelanggang pertandingan. "Kurang ajar kau anak tidak tahu diuntung, lihatlah apa yang akan aku perbuat untuk membalas perbuatanmu" kata orang tersebut. "Siapakah kamu kisanak, aku membunuh karena aku terpaksa dan sangat terhina?" tanya maheswari. "Namaku Gardaka, aku akan mempermalukanmu ditempat ini" jawab gardaka dengan penuh kemarahan. Tanpa basa-basi lagi gardaka langsung menyerang maheswari dengan ganasnya. Dengan jurus capit kepiting merah, gardaka berusaha mempermalukan gardapati dengan cara merobek-robek bajunya. Maheswaripun tidak mampu berbuat banyak. Ternyata ilmu gardaka jauh lebih tinggi daripada ki pasisiran. 

Maheswaripun meloncat mundur. Bajunya sudah sobek disana-sini dan memperlihatkan kemolekan tubuhnya. Iapun mempersiapkan diri untuk mengeluarkan jurus puncaknya jurus penghisap jiwa. Mengetahui hal ini gardakapun sama sekali tidak takut. Dengan secepat kilat ia mengambil serbuk dari kantung bajunya dan dilemparkan kearah maheswari. Dan akibatnya sungguh mengagetkan. Maheswari yang sedang bersiap-siap mengeluarkan jurus pamungkasnya tersebut menjadi lemas tidak bertenaga.

Mengetahui hal tersebut ki bangor menjadi sangat marah, ia lalu melompat masuk ke gelanggang pertandingan. "Kurang ajar, apa yang kamu lakukan terhadap anak kesayanganku?" tanya ki bangor dengan suara keras dan parau menahan amarah. "Tenanglah ki bangor, aku hanya membuatnya lemas saja, ha ha ha" tawa gardaka dengan suara yang mengerikan. "Hmm, kurang ajar sekali kau, bersiaplah menemui adikmu dineraka" kata ki bangor. "Kurang ajar kamu bangor, akan kumatikan kau" teriak gardaka penuh amarah.

"Mbok narsih, tolong kamu ganti pakaian maheswari, biar aku menghajar orang tidak tau adat ini" kata ki bangor. "Baik tuan" kata seorang wanita tua pengasuh maheswari. Mbok narsih kemudian membawa maheswari masuk kedalam rumah untuk diganti pakaiannya dengan baju yang baru. Adinatapun sedikit lega melihat maheswari telah dibawa masuk kedalam rumah untuk berganti pakaian. "Kira-kira siapa yang akan menang ya den, ki bangor ataukah gardaka?" tanya paman gembul. "Tidak tahu paman, mari kita lihat saja perkembangannya" jawab adinata.

Bersambung

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Sayembara mencari jodoh (Bagian 4)

"Siapakah kamu kisanak, kotor sekali mulutmu?" tanya maheswari. "Perkenalkan namaku ki pasisir dari perguruan silat capit sakti" jawab orang tersebut. "Aku tidak mau melawanmu" kata maheswari. "Kenapa, bukankah sayembara ini berlaku untuk semua orang?" tanya ki pasisir. "Hanya orang-orang dari golongan putih yang boleh ikut, untuk golongan hitam seperti kalian aku tidak mau" kata maheswari. "Hmm, kurang ajar, kamu sudah bosan hidup ya, tapi sayang sekali perempuan secantik kamu harus mati ditanganku, kamu akan aku bawa saja untuk menjadi wanita penghiburku" kata pasisir. "Kurang ajar sekali kau ki pasisir, bersiaplah ke neraka" kata maheswari dengan marah.

Maheswari langsung menyerang pasisir dengan penuh amarah. Ia langsung mengeluarkan jurus andalannya tarian walet. Beberapa kali tendangan dan pukulan maheswari mengenai badan ki pasisir. Namun, ki pasisir tidak tinggal diam, Ia segera mengeluarkan jurus andalannya capit kepiting merah. Kali ini giliran maheswari yang terdesak. Ki pasisir dengan gerakan silatnya yang aneh, seperti kepiting yang bersusaha menjepit mangsanya. 

Ki pasisir sengaja mempermainkan ambarwati. Dengan cabulnya ia merobek-robek kain yang dipakai maheswari sehingga pakaian dalam maheswari sedikit terlihat dan kulit maheswari yang mulus serta kuning langsat menjadi tontonan banyak orang. Maheswari sangat marah dengan penghinaan yang telah dilakukan oleh ki pasisir. Iapun segera meloncat surut kebelakang dan menyiapkan ilmu pamungkasnya jurus penghisap jiwa. Ki pasisir yang melihat maheswari menyiapkan jurus andalannya tertawa mengejek. Ia sangat yakin dengan ilmunya dan menyepelekan lawan dan akhirnya sangat fatal. 

Ki pasisir meloncat menyerang maheswari namun kali ini maheswari tidak menghindar. Justru ia mencengkeram tangan ki pasisir. Dan anehnya semua tenaga ki pasisir seolah-olah terhisap ke tubuh ambarwati. Ki pasisirpun terkejut, Namun terlambat, ia tidak dapat melepaskan tangannya dari cengkeraman maheswari. Perlahan-lahan tenaganya menjadi terkuras habis. Karena kemarahannya yang amat sangat atas penghinaan yang diterimanya, maheswari tetap menghisap tenaga lawan sampai habis. Ki pasisirpun jatuh tertelungkup tidak berdaya kehabisan tenaga dan tidak dapat bangun lagi untuk selamanya.

Bersambung

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Sayembara mencari jodoh (Bagian 3)

"Hayo, siapa yang mau maju pertama?" tanya maheswari. "Aku yang maju duluan" teriak Padmana. "Baik, silahkan, kisanak bisa mulai menyerangku kapanpun kamu siap" kata maheswari menantang. "Bersiaplah cah ayu, kamu akan jadi istriku" kata padmana dengan penuh percaya diri. "Buktikan omonganmu kisanak" jawab maheswari. "Bersiaplah cah ayu, terima seranganku ini" berkata padmana sambil mulai memasang kuda-kuda menyerang. Tidak berapa lama kemudian padmana yang terlalu percaya diri langsung saja menyerang maheswari, ia dengan cerobohnya berusaha memeluk maheswari. "Terimalah aku sayang, mari kamu aku peluk biar kamu bisa merasakan apa jantungku yang berdegup kencang karena terpesona akan kecantikanmu" rayu padmana. Maheswari sebal dengan rayuan padmana, kemudian dengan gerakan secepat kilat, ia memukul lambung padmana dengan keras lalu dilanjutkan dengan menjegal kakinya, padmanapun kaget jatuh terbanting ke tanah dengan perut kesakitan. "Ampun cah ayu, aku mengaku kalah" kata padmana mundur dari gelanggang pertandingan.

"Hayo, siapa lagi yang mau maju" tantang maheswari. "Ijinkan aku menghadapimu den ayu" teriak Sambara. Sambara adalah seorang pemuda yang kelihatan gagah dan tampan. "Silahkan, kapanpun kisanak siap" kata maheswari sambil menyiapkan diri. Sambara dengan cepat meloncat menyerang maheswari. Kali ini maheswari bertemu dengan orang yang sepadan ilmunya. Beberapa kali maheswari terdesak oleh serangan sambara. Maheswari meloncat surut kebelakang. Kemudian ia bersiap-siap mengeluarkan jurus andalannya tarian burung walet. Maheswari menyerang sambara dengan lincahnya seperti burung walet yang mengincar mangsanya. Beberapa kali sambara terkena pukulan dan tendangan dari maheswari. Perlahan namun pasti sambara mulai terdesak. Ternyata ilmunya masih beberapa tingkat di bawah maheswari. Hingga pada suatu kesempatan, maheswari berhasil menendang dengan sangat keras bagian lambung dari sambara, sambarapun berteriak kesakitan dan kemudian pingsan.

Adinata dan paman gembulpun terkagum-kagum dengan kepandaian maheswari dalam memainkan jurus silat. Apalagi ditunjang dengan kecantikannya, maheswari seolah-olah seperti menari-nari dengan cepat ketika menyerang ataupun menghindari setiap serangan dari lawannya. Ki bangorpun yang menyaksikan pertandingan itu sangat bangga dengan putrinya tersebut. "Bagus putriku, kamu memang tangguh, bopo sangat bangga kepadamu" teriak ki bangor. "Terimakasih bopo" jawab maheswari dengan sopan. "Ayo, siapa lawan berikutnya?" kata maheswari. Baru saja maheswari selesai berbicara, tiba-tiba datanglah gerombolan orang berpakaian hitam-hitam dan bertampang seram datang ke acara sayembara tersebut. Kemudian meloncatlah salahsatu dari rombongan tersebut ke gelanggang pertandingan. "Aku yang akan menghadapimu. Bersiap-siaplah bocah ayu, kamu akan aku jadikan perempuan simpananku" kata orang tersebut dengan mulut kotornya.

Bersambung


Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Sayembara mencari jodoh (Bagian 2)

"Den nata, mohon maaf sebelumnya, bolehkah paman memberi sedikit nasihat?" tanya paman gembul. "Ada apa paman, sampaikan saja, aku tidak akan marah" jawab Adinata. "Saya mohon den nata tidak melupakan den ayu ambarwati ya" kata paman gembul sedikit takut. "Tidaklah paman, aku tentu tidak akan melupakan nimas ambarwati, tapi kan kita tidak bisa membatasi pergaulan, biarlah semuanya mengalir dengan sewajarnya" jawab adinata mengerti maksud dari nasihat paman gembul. "Baik den nata, saya yakin aden memang orang yang bijaksana" kata paman gembul puas dengan jawaban adinata.

Malam harinya sayembara mencari jodoh dimulai. Siapa yang dapat mengalahkan maheswari berkesempatan menjadi jodohnya. "Den Nata, kita lihat sayembara yuk, tapi aden jangan ikut ya, kasihan ambarwati" ajak paman gembul. "Ya paman, mari kita melihat sayembara itu" jawab adinata. Sayembara dilaksanakan di halaman rumah ki bangor. Karena ki bangor merupakan orang terkaya di pantai watu kodok maka halamannya sangat luas. Tempat pertandingan sengaja tidak di diadakan dipanggung agar para pendekar lebih leluasa mengeluarkan ilmunya.

Maheswari dan para pendekar yang akan mengikuti sayembara telah bersiap-siap untuk memulai pertandingan. Maheswari menengok kekiri dan kekanan mencari adinata. Entah kenapa maheswari ingin adinata melihat pertandingan tersebut. Dengan ekor matanya ia mencari-cari. Dan akhirnya ia melihat adinata bersama paman gembul meskipun keduanya melihat dari kejauhan.

Di teras rumah, nampak ki bangor duduk dengan ditemani para tamunya melihat sayembara mencari jodoh tersebut. Ia memberikan isyarat kepada anak buahnya untuk segera memulai pertandingan. Adinata dan paman gembulpun melihat ke teras rumah. "Paman gembul, apakah orang itu adalah ki bangor?" tanya adinata. "Kemungkinan besar ia den nata" jawab paman gembul. "Lalu dimana ya kakek darma, nini wilis serta nimas ambarwati, semoga saja mereka semuanya baik-baik saja" kata adinata pada paman gembul. "Semoga saja den nata, kita doakan yang terbaik" jawab paman gembul.

Bersambung



Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Sayembara Mencari Jodoh (Bagian 1)

Adinata dan paman gembul belum selesai makan. Tiba-tiba datanglah seorang perempuan yang sangat cantik. "Mbok yem, ada nasi goreng tidak buat sarapan?" tanya perempuan tersebut. "Ada den ayu sebentar saya siapkan" jawab mbok yem antusias. "Kok tidak menyuruh orang seperti biasanya den ayu?" tanya mbok yem penasaran. "Aku ingin jalan-jalan saja mbok, bosan di rumah" jawab perempuan tersebut.

"Den ayu, namanya siapa kalau boleh tahu, den nata ingin mengajak kenalan?" kata paman gembul bertanya sedikit menggoda. " Hus, paman, orang akunya diam saja kok kamu bisa-bisanya bilang aku ingin kenalan, kan aku jadi malu" kata adinata menegur paman gembul. "Tapi kalau kenalan saja boleh kan" jawab paman gembul lagi.

"Tidak apa-apa paman, perkenalkan namaku maheswari, orang kampung sini" jawab maheswari dengan lemah lembut. "Perkenalkan nama saya paman gembul, dan ini majikan saya, namanya adinata, biasa saya panggil den nata" jawab paman gembul sambil mengajak berjabat tangan. Maheswaripun segera berjabat tangan dengan paman gembul dan adinata. "Perkenalkan, aku adinata" Adinata memperkenalkan diri. "Perkenalkan, nama saya maheswari, oh kamu ya yang terkenal dengan julukan harimau merapi, bapakku pernah bercerita akan mengundangmu bertarung, katanya ingin tanding ulang, tapi terus terang aku juga tidak begitu mengetahui urusan bapak" kata maheswari dengan ramah. "Hmm, anak ini polos sekali, sepertinya sifatnya jauh beda sekali dengan bapaknya" adinata membatin.

"Adinata, nanti malam kamu mau kan menonton sayembara memilih jodoh" kata maheswari sedikit tersipu malu. "Iya den ayu, nanti saya akan menonton" jawab adinata. "Jangan panggil aku den ayu kakang, panggil saja aku maheswari" berkata maheswari. "Baiklah, maheswari, nanti malam kami akan menonton pertandinganmu" jawab adinata lagi. "Ehm, ehm" paman gembul menggoda. "Apa sih paman gembul" kata adinata sedikit kesal.

Bersambung

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Menerima Tantangan (Bagian 8)

Pagi harinya, sampailah adinata dan paman gembul di pantai watu kodok gunungkidul. Pantai Watu Kodok memiliki pasir putih dan air laut yang berwarna biru yang sangat indah. Di pantai ini terdapat beberapa batu karang yang terjal, batu tersebut menjadi daya tarik para pengunjung dan keunikan bagi pantai itu sendiri. Sesuai dengan namanya, Pantai Watu Kodok artinya Batu Kodok. Salah satu bongkahan karang besar di pantai ini ada yang menyerupai kodok. Inilah alasan mengapa penduduk sekitar menyebut pantai ini dengan nama Pantai Watu Kodok. Dengan deretan bebatuan karang terjal dengan hamparan Pasir bisa menjadi daya tarik tersendiri untuk Pantai ini. 

Pantai watu kodok hari ini sangat ramai. Banyak orang berdatangan untuk melihat pertarungan antara ki bangor melawan murid dari ki wisesa. Banyak juga yang ingin melihat ataupun ikut serta dalam sayembara memilih calon suami buat putri ki bangor yang sangat terkenal akan kecantikannya. Melihat ramainya pengunjung, penduduk sekitar pantai banyak yang berjualan makanan yang menggugah selera seperti kacang rebus, jagung rebus, sate kambing, tongseng ayam, nasi gudek sambel, sayur kerecek, berbagai jenis olahan dari ikan,  dan masih banyak lagi. Adapun minuman yang banyak dijual adalah kelapa muda yang masih segar habis dipetik dari pohon.

"Den nata, kita sarapan dulu ya den sambil menikmati pemandangan yang indah" kata paman gembul merayu adinata. "Ah, paman yang dipikirkan hanya makan saja, tetapi ayolah, kebetulan aku juga lapar belum sarapan" jawab adinata. "Nah, begitu kan enak den" kata paman gembul sambil tersenyum. Keduanya segera memesan makanan dan minuman dan sarapan pagi di tepi pantai.

"Mbok, kalau boleh tahu, sebenarnya Ki Bangor itu siapa sih?" tanya adinata kepada mbok penjual makanan. "Ki Bangor itu pendekar yang sangat ditakuti didaerah sini nak orangnya keras dan mudah marah, dan anak buahnya banyak. Tapi setahu simbok beliau orang baik karena sering memberi bantuan kepada penduduk sekitar pantai yang sedang kekurangan" jawab simbok penjual makanan. "Oh, begitu ya mbok, kalau putri kibangor itu konon katanya sangat cantik ya, siapakah namanya?" tanya adinata lagi. "Namanya Maheswari den, ia memang cantik sekali dan baik hatinya, ia sering sarapan kesini kok den" jawab simbok penjual makanan. "Apakah aden mau mengikuti sayembara, sepertinya aden seorang pendekar berilmu tinggi?" tanya simbok penjual makanan. "Ah, tidak kok mbok, saya cuma penasaran saja" kata adinata.

Bersambung

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Popular Posts

Blog Archive

Diberdayakan oleh Blogger.
Copyright © Cerita Silat Harimau Merapi | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com