Mengungsi ke Ledok Sambi (Bagian 8)

Setelah hampir seharian bekerja, akhirnya tenda sementara dan dapur umum telah selesai. Warga padepokan lereng merapi pun bersuka cita. Mereka bersyukur karena mereka dapat tidur dengan nyenyak, tanpa terlalu khawatir jika sewaktu-waktu gunung merapi meletus. Karena menurut penuturan warga dusun Sambi, lahar panas ataupun awan panas letusan gunung merapi tidak sampai ke dusun mereka.

Ambarwati dan Maheswari, dengan dibantu oleh perempuan remaja dan ibu-ibu warga kampung, dengan cekatan telah menyiapkan masakan di dapur umum. Aneka makanan dan minuman hangat telah siap untuk disantap. Ada nasi megono, nila goreng, ayam goreng, ikan asin, sayur gudek, sayur asem dan masih banyak lagi. Minumannyapun tidak kalah istimewa, ada wedang sereh, wedang jahe, teh panas, kopi panas, semuanya lengkap tersedia. 

Remaja laki-laki dan bapak-bapak yang seharian bekerjapun seketika langsung merasa lapar. Namun mereka tidak berani mendekat ke dapur umum kalau belum mendapat perintah. Adinata yang paham dengan situasi itu bergegas segera menemui Ambarwati dan Maheswari. "Nimas, apakah masakannya sudah siap, kalau sudah saya akan meminta seluruh warga yang bergotongroyong untuk datang kemari makan dan minum" tanya Adinata. "Semuanya sudah siap kakang, silahkan ajak warga kemari untuk makan bersama-sama" jawab Ambarwati.

Tidak berapa lama wargapun berbondong-bondong makan. Warga makan dan minum sambil bersenda gurau dengan riang gembira. Adinatapun turut berbahagia melihat suasana itu. "Ini kakang makan siangmu, sudah kuambilkan" kata Maheswari. "Terimakasih nimas, kamu baik sekali" kata Adinata memuji. "Ah,kakang bisa saja, tadi mbak ayu ambarwati yang menyiapkannya" jawab maheswari sedikit tersipu malu. "Uhuy" goda warga dusun sambi. Adinata cuma tersenyum.

Sekitar seminggu kemudian gunung merapi benar-benar meletus, namun untungnya ledakannya tidak begitu besar sehingga tidak membahayakan warga lereng merapi. Adinata dan seluruh warga dusun sambi beserta warga padepokan merapi bersyukur sekali telah melewati bahaya dengan selamat.

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Mengungsi ke Ledok Sambi (Bagian 7)

Tidak berapa lama kemudian Ambarwati dan Maheswari membawa beragam makanan dan minuman hangat untuk warga perguruan lereng merapi. Nasi yang masih mengebul panas, sayur krecek yang menggoda selera, sayur gudek, ikan asin, dan sayur lodeh telah terhidang di atas tikar. Tidak lupa juga aneka minuman hangat seperti teh panas, kopi, serta wedang sereh. "Marilah guru, monggo dinikmati makanan dan minuman ala kadarnya ini" kata Ki Paramudyo mempersilahkan Ki Satya untuk menikmati hidangan. "Terimakasih Ki, kami seluruh warga perguruan lereng merapi mengucapkan terimakasih yang tidak terhingga atas sambutan yang sangat hangat ini" jawab Ki Satya. "Adinata, persilahkan adik-adik seperguruanmu untuk sarapan" perintah Ki Paramudyo kepada Adinata. "Baik Bopo" jawab Adinata dengan sopan. Adinatapun segera mempersilahkan adik-adik seperguruannya untuk menikmati hidangan yang telah disediakan.

Setelah selesai sarapan Ki Paramudyo berbincang-bincang dengan Ki Satya. "Guru, kalau tidak berkeberatan, kami warga dusun telah menyiapkan tempat untuk bernaung sementara sampai merapi benar-benar aman. "Oh, terimakasih sekali Ki, kalau boleh tahu, dimanakah tempatnya?" tanya Ki Satya. "Di sebelah timur pedukuhan sambi terdapat ledok atau dataran rendah di pinggir sungai kecil yang airnya mengalir jernih. Di situ warga perguruan lereng merapi bisa membuat tenda sementara. Kami seluruh warga dusun sambi akan membantu untuk membuat tenda dan mempersiapkan dapur umum" jawab Ki Paramudyo panjang lebar. "Terimakasih sekali Ki dan seluruh warga dusun sambi yang mau membantu kami, sekali lagi kami mengucapkan beribu-ribu terimakasih" kata Ki Satya. "Ah, tidak usah sungkan guru" jawab Ki Paramudyo.

Tidak berapa lama kemudian warga dusun sambi telah berdatangan berkumpul di rumah ki Paramudyo untuk membantu membuat tenda sementara dan dapur umum. Ki Paramudyo dan Adinatapun tidak lupa mempersilahkan warga dusun sambi untuk sarapan terlebih dahulu. "Wah enak sekali masakannya den Nata, siapa yang masak ini?" tanya salah seorang warga dusun sambi. "Wah, pak lek belum tahu ya kalau den nata telah mempunyai dua calon istri yang sangat cantik" sahut tetangga adinata yang lain. "Ah, lek gino bisa saja" jawab adinata sedikit tersipu malu.

Setelah selesai sarapan, seluruh warga lereng merapi beserta warga dusun segera menuju ke tanah lapang di ledok sambi. Ledok sambi tempatnya sangat indah, pohon-pohon menghijau, sungai kecil yang mengalir jernih dan banyak ikannya. Ternyata Ki Paramudyo telah mempersiapkan bahan-bahan untuk membuat tenda sementara di sana. Warga perguruan dan warga dusun bahu-membahu membangun tenda sementara dan dapur umum. Karena dikerjakan dengan bergotong-royong, belum sampai waktu dzuhur pekerjaan pembuatan tenda sementara dan dapur umum telah selesai.

Bersambung

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.
Copyright © Cerita Silat Harimau Merapi | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com