Dua Hati Tertaut Di Hargowilis

 Setelah selesai makan malam, acara dilanjutkan dengan berbincang-bincang santai. "Ambarwati, Bopo dan Biyung masih penasaran, bagaimana awal mula kamu dikeroyok oleh gerombolan penjahat itu? tanya Ki Gede Aryaguna, Bopo dari Ambarwati. "Begini Bopo, saya kan minta ijin kepada guru saya ki Adanu untuk menengok ke Hargowilis karena saya khawatir di sini sedang ada pemberontakan. Nah, ketika saya sudah akan sampai ke dusun Hargowilis ini tiba-tiba di tengah perjalanan saya dicegat oleh sekitar 10 orang penjahat dengan pemimpin grombolannya bernama Madhupa. Mereka mengeroyok saya dan mau melecehkan saya. Saya sudah melawan sekuat tenaga namun saya tetap kalah, karena disambing anggota gerombolan itu berilmu tinggi juga saya kalah jumlah dan kehabisan tenaga, saya sudah hampir putus asa dan untung saja kakang Adinata dan paman gembul segera datang menolong saya" jawab Ambarwati panjang lebar. "Oh, begitu ceritanya, sekali lagi saya atas nama orangtua dari Ambarwati menyampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya atas pertolongan Nak Adinata dan paman gembul terhadap anak saya" kata Ki Gede Aryaguna berterimakasih. "Ah, jangan sungkan begitu Ki Gede, setiap orang wajib tolong menolong" jawab Adinata dengan sopan. "Bagaimanapun kami tetap berterimakasih Nak" jawab ki Gede Aryaguna. "Oh ya, hari ini sudah malam, beristirahatlah kalian, perbincangannya kita lanjutkan besok karena hari sudah malam". "Ambarwati, tolong kamu antar Nak Adinata dan paman gembul ke kamarnya" perintah Ki Gede kepada Ambarwati. "Baik Bopo". "Mari Kakang, saya antar ke kamar" ajak Ambarwati. "Ehm Ehm, saya tidak diantar ini Nyi" goda Gembul. "Ah, paman bisa saja" kata Ambarwati tersenyum malu. Adinata hanya tersenyum saja melihat gembul menggoda Ambarwati.

Pagi harinya di halaman belakang rumah Ki gede Aryaguna yang cukup luas terlihat banyak anak muda yang sedang berlatih ilmu keprajuritan. Tampak seorang pemuda yang gagah memimpin jalannya latihan. Setelah selesai mandi dan berganti pakaian yang bersih Adinata dan Gembul menuju ke belakang rumah untuk melihat apa yang terjadi. "Adinata kemari, aku perkenalkan engkau dengan senopati dari Mataram" Teriak Ki Gede Aryaguna. "Baik Ki Gede" jawab Adinata dengan sopan. Adinata langsung menghampiri Ki Gede Aryaguna dan seorang pemuda yang diperkenalkan sebagai senopati mataram. "Perkenalkan, nama saya Adinata dari padepokan lereng merapi kanjeng senopati" kata Adinata dengan sopan memperkenalkan diri. "Oh, kamukah Adinata yang terkenal itu, perkenalkan namaku Puspanidra, senopati dari kerajaan mataram". "Apakah kamu yang diutus oleh tumenggung sadawira untuk membantuku menumpas pemberontakan di Kalibiru ini" tanya senopati puspanidra. "Daulat kanjeng senopati" jawab Adinata mengiyakan. "Sudahlah, panggil aku dengan nama Kakang Puspanidra saja,kita kan masih seumuran, kalau di depan prajuritku bolehlah kamu memanggilku dengan jabatanku". "Baiklah Kakang Puspanidra, aku ikuti saranmu" jawab Adinata mengiyakan permintaan senopati puspanidra.

Tidak berapa lama kemudian Ambarwati dan seorang emban yang masih muda datang membawakan makanan dan minuman ala kadarnya untuk para pemuda yang sedang berlatih olah keprajuritan. "Bopo, ini makanan dan minumannya sudah siap" kata Ambarwati kepada Ki Gede Aryaguna. "Oh, terimakasih anakku, taruhlah di meja teras belakang" jawab Ki Gede Aryaguna. Gembul langsung tertarik dengan emban yang menemani Ambarwati. Karena rasa penasarannya yang tidak tertahankan, ia memberanikan diri bertanya kepada Ki Gede Aryaguna. "Ki Gede, bolehkah aku bertanya". "Ada apa paman gembul, apa yang ingin kamu ketahui" jawab Ki Gede Aryaguna. "Siapakah gadis yang menemani Den ayu Ambarwati itu" tanya Gembul penasaran. "Ha ha ha, kamu suka ya, itu namanya Lastri, yang selalu menemani dan mengasuh Ambarwati sejak masih kecil. "Oh, Nyi Lastri ya namanya" jawab Gembul masih terbengong-bengong. "Tenang saja paman gembul, kesempatanmu masih terbuka lebar, dia belum bersuami sampai sekarang"  kata Ki Gede Aryaguna membesarkan hati Gembul. "Syukurlah kalau begitu" jawab Gembul berseri-seri. Adinata dan Puspanidra hanya tersenyum-senyum melihat tingkah polah Gembul.

 "Adinata, aku ingin tahu pendapatmu tentang para pemuda desa yang sedang berlatih ilmu keprajuritan ini?" tanya Ki Gede Aryaguna. "Sebelum saya menjawab, kalau boleh ananda tahu, dalam rangka apakah mereka berlatih ilmu keprajuritan?" jawab Adinata. "Boleh sekali, mereka sengaja dilatih untuk menghadapi gerombolan penjahat yang sedang mengganggu ketentraman di wilayah tanah perdikan kalibiru ini" jawab Ki Gede Aryaguna. "Oh begitu, ananda baru paham. Menurut ananda, gerakan jurus silat mereka sudah tepat, dan gerakannya bertenaga, namun saya perhatikan, ada sedikit yang kurang" kata Adinata. "Apakah yang kurang itu Adinata, aku jadi penasaran?" tanya Puspanidra. "Kakang, menurutku mereka kurang lincah dan sepertinya daya tahannya masih lemah, terlihat mereka menjadi kurang bertenaga setelah berlatih sekian lama" jawab Adinata dengan jelas. "Bagus sekali Adinata, memang saya perhatikan seperti itu, apakah kamu bersedia untuk melatih mereka, terutama melatih kelincahan dan daya tahan tubuh?" tanya Puspanidra. "Dengan senang hati saya bersedia kakang, kapan saya bisa mulai melatih mereka" tanya Adinata bersemangat. "Mulai besok, kamu bisa melatih para pemuda desa itu, nanti kita kelompokkan menjadi dua, satu berlatih olah keprajuritan, sebagian lagi berlatih kelincahan daya tahan tubuh denganmu" jawab Puspanidra panjang lebar. "Siap kakang" jawab Adinata. 

Pagi hari berikutnya Adinata melatih sebagian dari para pemuda itu berlatih kelincahan dan daya tahan tubuh. Dengan pengalamannya menjadi pelatih di padepokan lereng gunung merapi dan juga latih tandingnya dengan si loreng, harimau muda sahabatnya, ia tampak tidak menemui kesulitan dalam melatih para pemuda itu. Senopati Puspanidrapun puas melihat bakat yang dimiliki Adinata dan kemajuan pesat yang diperoleh para pemuda itu setelah berlatih di bawah bimbingan Adinata. "Kamu memang hebat Adinata, gerakanmu lincah seperti harimau, kamu pantas aku juluki harimau muda dari merapi" kata Puspanidra. "Kawan-kawan, setujukah kalian jika Dimas Adinata ini aku juluki Harimau Muda dari Merapi?" tanya Puspanidra meminta pendapat para pemuda desa yang sedang berlatih. "Setuju, hidup harimau merapi, hidup harimau merapi" teriak para pemuda desa itu. "Terimakasih sekali Kakang Puspanidra atas perhatiannya kepadaku" kata Adinata. "Kamu memang pantas mendapatkannya Adi" jawab Puspanidra.

"Kakang, jangan lupa ya mengajariku ilmu getar bumi seperti yang kamu janjikan waktu itu" tiba-tiba Ambarwati ada disampingnya dan menagih janjinya. "Iya, aku tidak lupa Nimas, kapan kamu siap berlatih, aku ngikut saja" jawab Adinata. "Ilmu getar bumi, ilmu apakh itu, bolehkah aku turut mempelajarinya" tanya puspanidra. "Boleh sekali kakang, nanti kita berlatih bersama". "Aku juga jadi dilatih ilmu beladiri kan den nata?"tanya gembul menagih janji. "Memangnya buat apa paman gembul, kamu kan jarang terlibat dalam perkelahian?" tanya Ambarwati. "Nanti, kalau ada yang menggoda nyi lastri, aku bisa menolongnya" jawab gembul merajuk. "Ha ha ha" Adinata dan Puspanidra tertawa. Nyi Lastri yang ada disamping Ambarwati hanyatersipu malu. "Itu bi lastri, ada yang naksir sama kamu" kata Ambarwati menggoda Lastri. "Ah. Ni Mas Ambarwati bisa saja" jawab Nyi Lastri masih saja tersipu malu.

Malam harinya Adinata benar-benar memenuhi janjinya. Salahsatu syarat untuk belajar ilmu getar bumi adalah telah menguasai dengan baik meskipun belum sempurna jurus kepalan geledek ataupun jurus tendangan halilintar. Jurus getar bumi sendiri merupakan gabungan dari jurus kepalan geledek dan tendangan halilintar yang telah dirangkai menjadi satu menjadi jurus yang dashyat. Karena Ambarwati telah menguasai jurus tendangan halilintar maka ia dapat langsung belajar jurus getar bumi. Namun untuk senopati puspanidra dan gembul, mereka harus mempelajari dasar-dasar ilmu kepalan geledek dan tendangan halilintar terlebih dahulu.

Ambarwati dapat dengan cepat belajar jurus getar bumi. Ia ternyata perempuan yang cerdas. Ia dapat melahap semua materi yang diberikan oleh Adinata dengan cepatnya. Senopati Puspanidra pun tidak kalah hebatnya. Karena sebelumnya ia memang telah menguasai ilmu kanuragan tingkat tinggi maka ia dapat dengan mudah menguasai dasar-dasar jurus kepalan geledek dan tendangan halilintar  dalam waktu singkat.

Beda lagi dengan gembul, ia belajar dasar-dasar jurus kepalan geledek dan tendangan halilintar dengan tertatih-tatih. Namun dengan semangat belajar yang tinggi perlahan-lahan namun pasti ia dapat menguasai dasar-dasar ilmu kepalan geledek dan tendangan halilintar dengan baik.

Hampir tiga bulan telah berlalu. Ambarwati telah menguasai sebagian dari jurus getar bumi dengan sempurna. Begitupun Puspanidra. Namun berbeda dengan gembul, ia belum bisa belajar jurus getar bumi karena ia belum menguasai dasar-dasar jurus kepalan geledek dan tendangan halilintar dengan sempurna. Namun gembul yang dulu bukanlah gembul yang sekarang. Ia sekarang tampak gagah dengan badan yang kekar meskipun masih sedikit kegemukan. Nyi Lastripun jadi terpana melihatnya. Sering Ambarwati melihat pengasuhnya itu mencuri-curi pandang pada paman gembul yang sedang berlatih silat.

Pada suatu malam, Adinata berbincang-bincang serius dengan Ke Gede Aryaguna bersama dengan senopati Puspanidra. Mereka mengobrol santai di teras depan rumah. Gembul juga ikut nimbrung disitu akan tetapi ia tidur rebahan di lantai beralaskan tikar. "Ki Gede, kalau boleh ananda tahu, sebenarnya siapa saja yang membikin keonaran di tanah perdikan kalibiru ini?" tanya Adinata. "Ketahuilah Ngger, yang bikin onar di tanah perdikan kalibiru ini adalah Ki Jangkung, Ki Gardapati dan Ki Saraga, beserta anak buahnya. Mereka rata-rata kejam dan berilmu tinggi." jawab Ki gede Aryaguna panjang lebar. Kalau Ki Gardapati dan Ki Saraga ananda pernah bertarung dan mengalahkannya, akan tetapi kalau Ki Jangkung ananda sama sekali belum pernah bertarung" kata Adinata sedikit berkisah. "Bagus sekali kamu bisa mengalahkan Ki Gardapati dan Ki Saraga, namun ketahuilah, Ki Jangkung itu sangat berbahaya, disamping ilmunya sangat tinggi, dia juga licik, itulah yang harus kamu waspadai." Ki Gede Aryaguna memberi nasihat. "Benar Dimas Adinata, kamu harus berhati-hati kalau berhadap-hadapan dengan Ki Jangkung, dia sangat licik dan juga berbahaya" Puspanidra turut mengingatkan. "Terimakasih kakang, ananda akan berhati-hati jika suatu saat harus menghadapinya."

Tidak berapa lama kemudian Ambarwati dan Nyi Lastri datang membawa wedang bajigur kesukaan Adinata dan ubi goreng serta kacang rebus. "Mari silahkan di nikmati kakang Adinata" kata Ambarwati mempersilahkan. "Den Ayu, kenapa cuma Den Nata yang ditawari, Ki Gede, Den Senopati sama aku nggak ditawari" goda paman gembul. "Maaf, saya lupa, mari semuanya menikmati hidangan yang telah disediakan" kata Ambarwati tersipu malu. Ki Gede Aryaguna, Puspanidra dan Adinata tersenyum melihat tingkah polah Ambarwati. "Nyi Lastri, paman gembul tolong diambilkan makanan dan minuman ini, karena kebetulan ia tiduran dilantai, katanya capek berlatih ilmu silat untuk melindungi kamu dari penjahat" goda Adinata kepada Nyi Lastri dan paman gembul. "Ah, Den Nata bisa saja, aku kan jadi mau" jawab paman gembul. "Ha ha ha" semuanya tertawa dengan tingkah polah paman gembul.

"Ngger Adinata, perlu kamu ketahui bahwa Ki Jangkung Guru dari Ki Gardapati sering menggunakan racun yang sangat berbahaya ketika bertarung" kata Ki Gede Aryaguna. "Baik Ki Gede, Ananda akan selalu ingat nasihat ki Gede" jawab Adinata. "Bukan itu maksudku Ngger, aku punya satu ilmu untuk menghilangkan racun yang ada dalam tubuh, maukah kamu mempelajarinya" tanya Ki Gede Aryaguna. "Ananda mau sekali, kapan kita bisa mulai belajar Ki Gede?" tanya Adinata penasaran. "Nanti malam saja, ketika sudah sepi kita berlatih di lapangan belakang rumah" jawab Ki Gede Aryaguna. "Senopati Puspanidra, apakah kamu tertarik untuk belajar juga" Ki Gede Aryaguna menawarkan. "Terimakasih Ki Gede, biar Dimas Adinata yang belajar dulu, ilmunya kan sangat tinggi, tentu ia dapat belajar dengan cepat" jawab Puspanidra.

Tibalah waktunya belajar. Hari sudah malam dan teramat sepi, semuanya sudah beristirahat karena kelelahan dengan kegiatan hari itu. "Ngger, jurus ini namanya Pembalik Raga Penghancur Bala, perhatikanlah" kata Ki Gede Aryaguna. Dengan badanya yang sudah kelihatan tua tapi nampak masih segar bugar, Ki Gede Aryaguna memusatkan pikiran, kemudian tiba-tiba ia berdiri terbalik dengan hanya tertopang pada satu jari saja. Badannya seolah-olah menjadi ringan seperti kapas. Adinata terkagum-kagum melihatnya. "Adinata, jika kamu terkena racun, gunakan jurus pembalik raga penghancur bala ini, rasakan organ yang terkena racun kemudian pusatkan seluruh syaraf untuk membawa racun itu lewat aliran darah menuju ke bawah dan terakhir muntahkan di mulut.

"Baik, Ki Gede, terimakasih telah berkenan mengajarkan Ananda ilmu yang sangat bermanfaat ini, mohon bimbingannya" kata Adinata berterimakasih atas kebaikan Ki Gede Aryaguna mengajarkan ilmu yang langka itu kepadanya. "Untuk mempelajari ilmu ini kamu harus menguasai ilmu meringankan tubuh, dan itu akan sekalian aku ajarkan kepadamu" kata Ki Gede Aryaguna. "Beribu terimakasih Ananda ucapkan atas kebaikan Ki gede". Berhari-hari bahkan berbulan-bulan Adinata belajar ilmu meringankan tubuh dan jurus pembalik raga penghancur bala itu, dan akhirnya pada bulan ketiga Adinata telah menguasai kedua ilmu dari Ki Gede Aryaguna itu dengan sempurna.

Pagi harinya tiba-tiba datang berbondong-bondong penduduk di tanah perdikan kalibiru menuju ke dusun Hargowilis. Mereka terdiri atas orangtua, pemuda, wanita dan anak-anak dengan membawa seluruh harta bendanya baik yang berupa baju, perhiasan, hasil bumi ataupun hewan ternak. Rupanya penduduk tanah perdikan Kalibiru sudah mengetahui bahwa dusun Hargowilis menjadi markas sementara prajurit mataram yang akan menumpas pemberontakan di Kalibiru dan juga mereka mendengar bahwa Adinata “harimau muda dari merapi” ada diantara para prajurit mataram itu. Mereka mencari perlindungan ke dusun hargowilis karena tempat tinggalnya sering di rampok oleh para penjahat yang tidak jarang menimbulkan korban jiwa.

Mengetahui hal ini Ki Gede Aryaguna menerima para pengungsi itu dengan tangan terbuka. Maka dibuatlah dengan segera tenda-tenda darurat yang dapat menampung mereka serta dibuatlah dapur umum. Para pemuda yang mengungsi diajak ikut latihan keprajuritan untuk siap menghadapi serangan sewaktu-waktu dari para pemberontak. Senopati Puspanidra dan Adinata terus menerus melatih para pemuda desa itu dengan sabar. Para pemuda desa terpaksa dilatih karena jumlah prajurit mataram yang terbatas dan juga agar para pemuda desa itu bisa melindungi dirinya dan keluarganya.

Setiap hari Ambarwati ditemani pengasuhnya Nyi Lastri menyediakan makanan dan minuman untuk para Adinata, Puspanidra dan juga paman gembul. Sedangkan para pemuda desa yang berlatih keprajuritan sudah disediakan makan dan minum di dapur umum. Karena setiap hari bertemu, lambat tapi pasti Ambarwati mulai merasakan suka yang amat sangat kepada Adinata. Begitupun juga Adinata, meskipun karena ia adalah seorang lelaki ia tidak terlalu menunjukkan rasa ketertarikannya itu. Beda lagi dengan paman gembul, ia selalu menggoda nyi lastri dan tampaknya nyi lastripun perlahan-lahan mulai ada hati dengan paman gembul

Bersambung




0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts

Blog Archive

Diberdayakan oleh Blogger.
Copyright © Cerita Silat Harimau Merapi | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com