Bangkitnya Ksatria Mataram

 Ambarwati masih terus menangis khawatir dengan keadaan Adinata, kekasihnya. Melihat itu Ki Jangkung tertawa-tawa kegirangan. "Ha ha ha, sebentar lagi kekasihmu akan memasuki pintu neraka" ejeknya kepada Ambarwati. "Kurang ajar kamu Ki Jangkung, akan aku balas kamu" teriak Ambarwati dengan marah. Ambarwati segera berdiri. Ia berniat untuk bertarung dengan ki Jangkung sampai titik darah penghabisan. Adinata sebenarnya tidak pingsan. Ia masih sadar dengan semua yang terjadi. Ia khawatir sekali dengan Ambarwati yang akan melawan Ki Jangkung. Namun ia harus menahan diri. Perlahan-lahan ia berusaha memulihkan dirinya. Meskipun tidak dalam posisi yang sempurna, ia berusaha menggunakan jurus pembalik raga penghancur bala yang diperolehnya dari Ki Gede Aryaguna.

Dalam tingkat kemarahannya yang amat sangat, ia langsung akan menyerang Ki Jangkung dengan ilmu andalannya Jurus getar bumi. Namun sebelum ia menyerang Ki Jangkung, Ki Saraga telah melompat masuk ke gelanggang pertarungan. "Ki Jangkung, injinkanlah aku bermain dengan gadis cantik ini, aku ingin membawanya ke pulau Nusakambangan untuk bersenang-senang" berkata Ki Saraga. "Ha ha ha, apa kamu belum puas Saraga, bukanlah kamu sudah mempunyai selir yang sangat banyak" tertawa Ki Jangkung melihat ulah Ki Saraga. "Tapi biarlah kamu bertarung dengannya, supaya kamu senang"

Seperti sebelumnya, Ki Saraga langsung menyerang dengan senjata andalanya rantai panjang yang ujungnya terdapat mata kampak yang sangat tajam. Ki Saraga memutar-mutar senjatanya dengan cepat dan sesekali seperti mematuk dengan derasnya menuju badan Ambarwati. "Sayang sekali bocah ayu, sebenarnya aku tidak ingin melukai kulit cantikmu ini, menyerahlah, dan ikutlah denganku bersenang-senang ke pulau Nusakambangan" rayu Ki Saraga, Si pemetik Bunga. "Cuih, akan aku binasakan mulut kotormu itu saraga" jawab Ambarwati. Tidak mau berlama-lama bertarung, ia ingin segera menyelesaikan pertempuran, Ambarwati segera meloncat jauh ke belakang. Ia akan langsung mengeluarkan jurus getar buminya. Ambarwatipun memasang kuda-kuda. Ia memusatkan pikiran dan tenaganya untuk mengeluarkan jurus getar bumi. Tidak berapa lama kemudian tanah tempat terjadinya pertarungan bergetar hebat, seolah-olah sedang ada gempa yang sangat dashyat. Pohon-pohon bergoyang, burung-burung beterbangan. Genteng rumahpun banyak yang melorot. Meskipun belum sehebat Adinata, tapi jurus getar bumi yang telah dikuasai Ambarwati tidak dapat dianggap remeh.

Para prajurit, pemuda desa dan gerombolan pemberontak berhenti dari pertarungannya. Mereka lalu berkelompok sesuai sekutunya masing-masing. Secara perlahan namun pasti, seolah-olah mereka membentuk lingkaran melihat pertarungan yang sangat dahsyat itu. "Bersiaplah kamu Saraga, pintu neraka sudah terbuka lebar menyambut kehadiranmu" teriak Ambarwati penuh kemarahan. Ki Saragapun terkejut dengan jurus getar bumi yang diperagakan Ambarwati. Ia sama sekali tidak mengira bahwa Ambarwati telah menguasai Jurus yang sudah lama hilang dari bumi Mataram itu. Ia sebenarnya ketakutan. Namun ia malu untuk mundur. 

"Aku sama sekali tidak takut, menhindarlah kalau bisa dari senjata andalanku ini" teriak Ki saraga sambil mengayun-ayunkan rantai panjang yang ujungnya terdapat mata kampak yang sangat tajam. Namun Ambarwati, dalam kemarahannya yang memuncak, dengan cepatnya menghindari setia serangan dari Ki Saraga, dan pada satu kesempatan ketika Ki Saraga agak lengah, ia telah menendang perut dari Ki Saraga dengan derasnya dengan dilambari oleh jurus tendangan halilintar. Ki Saraga berteriak melolong kesakitan dan iapun terhuyung-huyung, namun Ambarwati tanpa ampun langsung memukul dada ki saraga dengan pukulan kepalan geledek. Ki Saragapun langsung terkapar seketika dan tidak bernafas lagi.

Para penontonpun terdiam seketika, namun kemudian sorak sorai terdengar dari kubu Kalibiru. Dan gerombolan penjahatpun seperti kebingungan melihat salahsatu pemimpinnya mati ditangan Ambarwati. Saudara seperguruan Adinatapun bingung kenapa Ambarwati dapat menguasai jurus Kepalan geledek. Namun seperti pernah diceritakan di depan, bahwa dengan menguasai jurus getar bumi yang merupakan gabungan dari jurus kepalan geledek dan tendangan halilintar, maka secara tidak langsung akan menguasai pula jurus kepalan geledek dan tendangan halilintar. 

Ambarwati masih berdiri termangu melihat Ki saraga mati terbujur kaku dihadapannya. Namun tiba-tiba dengan secepat kilat, Ki Jagratara telah menyerang Ambarwati menggunakan jarum beracun. Sama dengan yang digunakan Ki Jangkung. Ambarwati yang lengah tidak sempat menghindar. Ia berteriak mengaduh kesakitan. Ia langsung terhuyung-huyung sempoyongan. Ki gede yang melihat putrinya terkena jarum beracun langsung cemas. "Kurang ajar kau Jagratara, kamu sama saja dengan gurumu, berbuat curang untuk mencapai kemenangan" maki Ki gede Aryaguna. Ki Jangkung dan ki Jagratara hanya tertawa mendengar ucapan Ki Gede Aryaguna. "Ha ha ha, salah sendiri, putrimu telah membunuh sahabat karibku ki Saraga" balas Ki Jagratara. "Biar dia sekalian mampus mengikuti kekasihnya harimau ompong itu" tambah Ki Jangkung. Gerombolan pemberontakpun bersorak-sorai atas tumbangnya Ambarwati.

Ki Gede Aryaguna khawatir sekali dengan keadaan Ambarwati. Badan Ambarwatipun langsung membiru dan menghitam karena terkena racun yang sangat ganas. Ki GedeAryaguna bingung sekali. Ia sama sekali belum menyiapkan penangkal racun yang tepat. Konon racun yang dimiliki oleh Ki Jangkung dan muridnya itu belum ditemukan penangkalnya hinga kini. Adinatapun yang sedang terluka karena racun dari Ki Jangkung juga begitu khawatir dengan keadaaan Ambarwati. Ia sama sekali tidak bisa menolongnya karena ia sendiri sedang berkonsentrasi untuk mengeluarkan racun itu dari badannya.

Tiba-tiba, dengan kecepatan yang mengagumkan bagai kilatan petir, nampak sesosok kakek berbaju putih namun berpenampilan seperti anak-anak langsung menyambar Ambarwati dan membawanya pergi. Ki Jangkung dan Ki Jagratarapun kaget dengan kedatangan tamu tak diundang itu. "Kurang ajar bocah gemblung, berani turut campur urusanku" umpat Ki Jangkung. Mendengar nama Bocah gemblung, Ki Gede Aryagunapun menjadi sedikit lebih tenang. Dan ia tidak begitu khawatir lagi.

Melihat Ki Gede Aryaguna menjadi tenang, Senopati Puspanidrapun menjadi keheranan. "Siapakah kakek itu guru, kenapa guru sekarang sudah jauh lebih tenang, tidak khawatir seperti tadi?" tanya Senopati Puspanidra. "Ketahuilah Anakmas Puspanidra, dia adalah Bocah Sakti dari gunung purba Nglanggeran, dan dia selain berilmu tinggi juga merupakan ahli pengobatan yang sudah cukup terkenal. Aku sangat yakin ia akan dapat menyembuhkan putriku, Ambarwati" berkata Ki Gede Aryaguna. "Dia tokoh jahat atau baik Ki Gede, mohon maaf jika saya lancang bertanya?" tanya Puspanidra penasaran. "Tenang saja, meskipun tingkahnya rada aneh seperti bocah, namun ia adalah seorang pendekar yang baik, tidak pernah berbuat jahat, dan saya dengar-dengar, ia sering menolong orang" panjang lebar Ki Gede Aryaguna menerangkan. 

Setelah berbincang dengan Senopati Puspanidra, Ki Gede kemudian berpaling menatap Ki Jagratara. "Kamu sungguh licik Ki Jagratara, aku akan menuntut balas akan kelicikanmu ini" berkata Ki Gede Aryaguna sambil menahan kemarahannya. "Tahan Ki Gede, biarlah aku yang akan melawan orang licik ini" berkata Senopati Puspanidra menahan Ki Gede Aryaguna yang akan melawan Ki Jagratara. "Kamu yakin Anakmas Senopati?" kata Ki Gede Aryaguna ragu. "Yakin sekali Ki Gede, silahkan anda beristirahat" ujar Senopati Puspanidra meyakinkan. Ki Gede Aryagunapun mengangguk. "Majulah kamu Senopati, aku sudah tak sabar mengirimmu ke neraka menemani harimau ompong itu" teriak Ki Jagratara sambil mengejek Adinata. Adinatapun mendengar ejekan itu, namun ia sadar ia masih dalam pengaruh jarum racun. Namun dengan ilmunya yang sudah sangat tinggi, berlahan-lahan ia mampu menetralisir racun tersebut. Namun ia tetap berpura-pura pingsan sebelum ia benar-benar pulih dari pengaruh jarum beracun. Dengan ilmu pembalik raga penghancur bala, secara perlahan-lahan ia mengalirkan racun yang sudah dinetralkan itu untuk dapat dimuntahkannya.

Tanpa berbasa-basi, Ki Jagratara langsung mengeluarkan jurus andalannya tapak es. Namun ternyata ilmunya sekarang sudah meningkat dengan pesat dibandingkan saat terakhir kali melawan Adinata di lereng merapi. Ketika ia mempersiapkan jurus tapak es sampai puncak tertinggi, udara sekeliling pertempuran menjadi serasa membeku. Butiran-butiran es mulai berjatuhan. Para penonton pertarungan itu baik dari kubu Kalibiru maupun gerombolan pemberontak badannya menggigil kedinginan. Bahkan tidak berapa lama kemudian, ada yang badannya mulai membiru serta mengeluarkan darah segar dari hidung ataupun telinganya.

Senopati Puspanidrapun tidak luput terkena pengaruh dari ilmu sakti tapak es tersebut. Badanya juga mulai membiru. Giginya menggeretak, menggigil kedinginan. Darah segar juga mulai menetes dari hidung dan telinganya. Sungguh betapa hebat sekali jurus tapak es tersebut. Dengan secepat kilat, Ki Jagratara langsung menyerang Adinata dengan jurus Tapak Es andalannya tersebut. Senopati Puspanidra yang kehilangan akal karena hawa dingin yang amat sangat hanya dapat menghindari setiap serangan dari Ki Jagratara. Melihat hal ini Ki Gede Aryaguna tidak tinggal diam. "Senopati, gunakan jurus getar bumi untuk menahan serangan jurus tapak es" teriak Ki Gede Aryaguna.

Senopati Puspanidra tersadar dari kebingungannya. Ia segera meloncat jauh ke belakang untuk mempersiapkan jurus pamungkasnya, getar bumi. Dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya ia mengumpulkan seluruh kekuatan untuk membangkitkan jurus getar bumi yang dikuasainya. Meskipun jurus getar bumi yang dimilikinya belum sempurna, namun itu ternyata sudah cukup untuk melawan Ki jagratara. Ketika Senopati Puspanidra sedang membangkitkan jurus getar bumi tersebut, seketika bumi disekeliling arena pertarungan tersebut menjadi bergetar hebat seperti sedang ada gempa bumi, pohon-pohon bergoyang bahkan ada yang roboh, burung-burung berterbangan. 

Namun, aneh tapi nyata, hawa dingin yang sangat menyiksa itu secara perlahan-lahan memudar sehingga dinginnya sudah tidak terasa lagi. Bahkan terasa menyejukkan saja. Menyadari pengaruh dari jurus tapak es sudah mulai berkurang, Ki jagratara tanpa membuang-buang waktu langsung  menyerang Senopati Puspanidra dengan jurus andalannya. Tapi, kali ini Senopati Puspanidra tidak menghindar, ia menyambut pukulan tapak es dari Ki Jagratara dengan jurus telapak geledek ciri khas padepokan lereng merapi.

Dua kekuatan berbenturan diudara. Keduanya sama-sama terlempar dan terdorong kebelakang. Namun dengan cepat Senopati Puspanidra sudah dapat menguasai keseimbangannya dan langsung menyerang Ki Jagratara yang masih terhuyung-huyung dengan jurus tendangan halilintar, ciri khas perguruan tebing breksi. Tendangan halilintar Puspanidra, dengan telak mengenai uluhati Ki Jagratara yang tidak sempat untuk menghindar. Ki Jagratara terjatuh terlentang sambil berteriak kesakitan dan tidak berapa lama kemudian tidak bersuara. Namun ternyata ia masih hidup. Dengan merintih-rintih kesakitan ia memohon-mohon kepada senopati Puspanidra agar diampuni. "Tuan senopati, tolong, ampunilah aku, aku janji tidak akan berbuat onar lagi" berkata Ki Jagratara dengan memelas. Senopati Puspanidra sedikit luluh hatinya. Namun ia tetap waspada. Ia menghunuskan pedangnya dan mendekati Ki Jagratara. "Benarkah kamu mau tobat dan menyerahkan diri ke Mataram?" tanya senopati puspanidra. "Mau tuan senopati, aku dan seluruh anak buahku akan menyerahkan diri ke mataram untuk diadili" berkata Ki Jagratara dengan suara lemah. "Tolong bantu aku untuk berdiri tuan". Ki Jangkungpun berteriak. "Hei, jangan bodoh kau Jagratara, ingat janji perjuangan kita". "Maaf guru, aku sudah berjanji untuk kembali ke jalan yang benar" berkata Ki Jagratara membalas teriakan gurunya. 

"Hati-hati Anakmas Puspanidra" teriak Ki Gede Aryaguna mengingatkan. Senopati Puspanidra hanya mengangguk. Ia secara berlahan-lahan mendekati ki jagratara. Ketika ia akan mengulurkan tangannya, tiba-tiba secepat kilat Ki jagratara melemparkan puluhan jarum beracun ke arah Senopati Puspanidra. Puspanidra yang sedari tadi sudah waspada dengan kelicikan Ki jagratara segera bertindak sigap. Dengan pedang yang masih terhunus, ia menangkis puluhan jarum beracun yang menuju kearahnya dan sebagian jarum beracun terjatuh dan sebagian berbalik arah menyerang Ki jagratara. Ki Jagratarapun tidak sempat menghindar dan berteriak kesakitan terkena senjata makan tuan. Tidak berapa lama kemudian badannya mulai membiru dan menghitam. Dan tidak berapa lama kemudia, ia sudah tidak bernapas lagi. Ki Jagratarapun benar-benar mati terkena jarum beracunnya sendiri.

Melihat muridnya tewas dalam pertarungan, seketika kemarahan Ki Jangkung menggelegak. Ia marah sekali dengan senopati Puspanidra dan ingin sekali membunuhnya dengan tangannya sendiri. "Kurang ajar kamu antek mataram, mampuslah kamu di tangan tombakku ini". Ki Jangkung mengeluarkannya tombak andalannya dimana mata atau kepala tombaknya dapat mengeluarkan pamor berwarna-warni. Menyadari hal ini Ki Gede Aryaguna berteriak memperingatkan Senopati Puspanidra. "Hati-hati Anakmas, Ki Jangkung menggunakan senjata yang sangat berbahaya yaitu tombak obar-abir, tombak itu bisa membuatmu kulitmu serasa terbakar". "Baik Ki Gede" jawab Senopati Puspanidra.

Ki Jangkung lalu dengan ganasnya menyerang senopati puspanidra dengan tombak andalannya. Dan benar lingkungan disekitar arena pertarungan menjadi panas tidak terkira. Senopati Puspanidrapun mengeluh. Kulitnya serasa terbakar. Tombak Ki Jangkung itu seperti berkeliaran disekeliling badannya dan berusaha untuk melukai dan menusuknya. Senopati Puspanidra benar-benar kehilangan konsentrasi karena hawa panas yang dikeluarkan oleh tombak obar-abir itu.

Penonton pertarungan yang semula berkerumun kemudian menjauh karena menghindari hawa panas yang keluar dari tombak Ki Jangkung. Meskipun begitu penonton dari sisi gerombolan penjahat yang berniat memberontak terhadap kerajaan mataram bersorak-sorai karena merasa pemimpinnya akan berhasil mengalahkan senopati Puspanidra.

Di sisi lain Adinata yang sedang berusaha mengeluarkan racun dari badannya justru merasakan hal yang aneh. Hawa panas yang dikeluarkan oleh tombak obar-abir itu justru mampu menghangatkan badannya dan membantunya lebih cepat untuk mengeluarkan racun dari dalam tubuhnya. "Bersabarlah sebentar Kakang Puspanidra, aku akan segera menggantikanmu untuk bertarung melawan Ki Jangkung" berkata Adinata dalam hatinya.

Keadaanpun menjadi semakin genting. Senopati Puspanidra benar-benar sudah putus asa. Kulitnya mulai memerah dan mengelupas karena saking panasnya tombak obar-abir. Bahkan tombak itu telah berhasil menggores pinganggnya. "Aduh panas sekali" teriak Senopati Puspanidra sambil meloncat jauh kebelakang. Melihat Senopati Puspanidra terluka Ki Jangkung semakin bernafsu untuk membunuhnya.

Namun tiba-tiba Ki Gede Aryaguna menyerang Ki Jangkung dengan tangan kosong. Merasa niatnya diganggu oleh Ki Gede Aryaguna iapun menjadi marah. Iapun langsung menyerang menggunakan tombak obar-abir ditangannya. Ki Gede Aryaguna yang menguasai jurus meringankan tubuh hanya bisa menghindar dari setiap serangan Ki Jangkung sambil berharap ada suatu keajaiban yang bisa membalikan keadaan.

Menyadari bahwa calon mertuanya maju melawan Ki Jangkung yang sangat berbahaya Adinata menjadi sangat khawatir. Ia memusatkan seluruh konsentrasinya dan dengan sekuat tenaga ia berhasil memuntahkan racun yang sangat mematikan itu keluar dari mulutnya. Kemudian dengan serta merta ia bangkit dari tidurnya lalu dengan gerak cepat Adinata berdiri terbalik dengan hanya menggunakan satu jari saja dan memusatkan seluruh racun yang tersisa agar dapat keluar dari mulutnya. Inilah inti dari jurus pembalik raga penghancur bala yang diajarkan oleh Ki Gede Aryaguna.

"Hentikan Ki Jangkung, akulah lawanmu yang sebenarnya" teriak Adinata berusaha menghentikan pertarungan antara Ki Jangkung dengan Ki Gede Aryaguna. Ki Jangkungpun meloncat kebelakang dan menhentikan pertarungan. Iapun menengok ke arah Adinata yang kelihatan segar bugar. ki Jangkungpun terheran-heran dengan keadaan Adinata itu. "Hmm, dia kan sudah terkena jarum beracun yang sangat ganas, ternyata ia masih hidup dan bahkan kelihatan segar bugar" suara batin Ki Jangkung. "Hebat juga kamu anak muda, tapi mohon maaf, kamu akan segera mampus ditanganku" berkata Ki Jangkung masih dengan kesombongannya meskipun batinnya agak keder juga.

Ki Jangkung langsung melompat menyerang Adinata dengan senjata tombak obar-abirnya yang mempunyai pamor berwarna-warni dan mengeluarkan hawa panas yang membakar kulit. Namun Adinata hanya mampu menghindar saja karena ia tidak membawa senjata. Namun tiba-tiba Bhadrika datang mendekati Adinata dan berusaha menyerahkan sepasang pedang kembar tipis yang kelihatannya sangat tajam sekali. "Kakang, ini guru menitipkan pedang ini untuk kakang" teriak Bhadrika. Adinatapun meloncat mundur kebelakang dan menerima pedang dari Bhadrika. "Terimakasih Adi Badrika" ucap Adinata. Mengetahui hal tersebut Ki Jangkung membiarkannya. "Bagus sekali anak muda, gunakanlah senjatamu biar pertarungan kita serasa adil" berkata Ki Jangkung sok bijaksana.

Ki Jangkungpun kembali menyerang Adinata dengan tombaknya. Namun kali ini Adinata tidak berusaha menghindar namun berusaha menangkis dengan pedang tipisnya. Pertarunganpun semakin seru. Keduanya saling jual beli serangan. Perlahan-lahan kedua pendekar yang bertarung itu mulai terluka karena terkena goresan senjata lawan. Namun kembali ada sesuatu yang aneh, hawa panas yang dikeluarkan oleh tombak obar-abir itu justru terasa hangat di badan Adinata dan bahkan perlahan-lahan memberikan tambahan energi yang semakin lama semakin menguat. 

Inilah yang dinamakan ilmu energi bara api yang sudah dilatih Adinata sejak bertarung dengan Ki jagratara. Sebenarnya Adinata melatihnya agar mampu menyerap energi dari hawa dingin yang ditimbulkan dari ilmu tapak es. Namun ternyata ilmu itu justru bereaksi terhadap serangan hawa panas dari lawan. Perlahan-lahan keduanyapun kelelahan dan tampaknya Ki Jangkung sudah tidak sabar bermain-main dengan senjata dan bersiap-siap untuk melepaskan ilmu puncaknya, tapak api biru.

Ki Jangkung segera mempersiapkan diri. Dengan tangan kiri memegang tombak obar abir yang mengeluarkan hawa panas yang luar biasa sementara tangan kanannya diangkat keatas seolah sedang menyerap hawa dingin disekitarnya, inilah ilmu puncak Ki Jangkung yang sangat dahsyat, tangan kiri memegang tombak dengan hawa panas yang berkobar-kobar membakar kulit, sedangkan tangan kanan mengeluarkan hawa dingin yang luarbiasa sampai menimbulkan butiran-butiran es. Di sekitar Ki Jangkung seolah-olah ada dua musim yang berbeda dan saling berdampingan, musim beku dan musim panas. Panas dan dingin yang silih berganti ini untuk orang biasa bisa menghancurkan tubuhnya.

Penontonpun bergerak semakin menjauh. Mereka tidak kuat merasakan hawa panas dan hawa dingin yang silih berganti menyerang. Namun mereka tetap penasaran. Penontonpun tetap melihat pertarungan yang sangat menegangkan dan mengerikan itu dari jauh.

Namun bukanlah Adinata jika harus panik dan takut melihat ilmu lawan. Adinatapun berkonsentrasi. Kemudian dengan gerakan yang tidak terduga, Adinata seolah-olah telah membelah diri menjadi tiga orang. Inilah yang dinamakan jurus bayangan, hasil pengembangan ilmu meringankan tubuh yang diajarkan Ki Gede Aryaguna. Adinata memang suka menyerap ilmu dan menciptakan ilmu baru berdasarkan pengalaman yang sudah ada. Adinata dan bayangannya kemudian mempersiapkan diri untuk mengeluarkan jurus getar bumi yang sudah mencapai sempurna. 

Ketika Adinata sedang membangkitkan jurus getar bumi andalannya, bumi tiba-tiba bergetar hebat seolah-olah sedang terjadi gempa bumi, burung-burungpun beterbangan kesana kemari, pohon-pohon disekeliling arena pertarungan menjadi roboh seolah tertiup angin, hawa panas dan hawa dingin akibat dari jurus tapak api birupun menjadi buyar seketika, dan cuaca kembali normal.

Tidak berapa lama kemudian, sambil berteriak Ki Jangkung langsung menyerang Adinata dengan ilmu puncaknya tapak api biru, "matilah kau bocah tengik" teriak Ki Jangkung. Namun yang cukup mengagumkan, Ki Jangkung seolah-olah menjadi tiga bayangan dan masing-masing menyerang bayangan dari Adinata. Mendapat serangan dari Ki Jangkung Adinatapun sama sekali tidak menghindar. Ia memang berniat membenturkan ilmunya. Tanpa dapat dihindari, akhirnya benturan dua ilmu yang dahsyat itu terjadi. Telapak kanan Ki Jangkung dengan tapak api birunya bertemu dengan telapak kanan Adinata yang menggunakan pukulan telapak geledek.

Seolah-olah terjadilah ledakan yang luar biasa, keduanya terlempar kebelakang. Ki Jangkung tidak bisa berdiri tegak, demikian juga dengan Adinata. Tidak berapa lama kemudian keduanya jatuh tumbang kebumi. Namun tiba-tiba datanglah sekelebat bayangan yang menyambar tubuh Ki Jangkung dan langsung menghilang. Ki Gede Aryaguna melihatnya dan mengenal orang itu. "Hmm itu kan guru Ki Jangkung, rupanya ia masih hidup" batin Ki Gede Aryaguna. Namun ia tidak berlama-lama termangu dan segera menolong Adinata yang jatuh pingsan.

Bersambung

0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts

Blog Archive

Diberdayakan oleh Blogger.
Copyright © Cerita Silat Harimau Merapi | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com