Bertarung dengan pendekar Andalas (Bagian 2)

"Kakang, kita jalan-jalan yuk, sekalian makan siang, aku dengar kabar ada warung nasi yang sangat enak di daerah pasar Turi" ajak Ambarwati. "Baiklah Nimas, aku juga ingin jalan-jalan menghirup udara segar. "Aku tidak diajak ya, sudahlah, kakang memang tidak pernah peduli sama aku" kata Maheswari ngambek dan sedikit merajuk. "Ayok Nimas, kamu aku ajak kok, ikutlah bersama kami, kamu kan sudah aku sayangi seperti adiku sendiri" ajak Ambarwati menenangkan Maheswari. "Wek, aku diajak , terimakasih mbakyu" ucap Maheswari seraya sedikit meledek Adinata. Adinatapun hanya tersenyum melihat tingkah Maheswari. Ki Paramudya dan Nini Darminah yang melihatnyapun ikut geleng-geleng kepala. "Den Ayu, saya dan paman Gembul boleh ikut ya" pinta Nyi Lastri. "Boleh Mbok, jalan-jalan bersama lebih menyenangkan daripada sendirian" jawab Ambarwati.

Pasar Turi jaraknya tidak terlalu jauh dari dusun Sambi. Jika berjalan kaki dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih satu jam perjalanan. Sepanjang perjalanan mereka berlima bersenda gurau. Apalagi paman Gembul memang pintar melucu. Disepanjang perjalalan Ia terus melawak tiada henti. Adinata, Ambarwati, Maheswari dan Nyi Lastri terus tertawa tiada henti. "Sudah jangan melawak lagi, perutku sudah terasa sakit karena tertawa terpingkal-pingkal" kata Maheswari menghentikan lawakan paman gembul. "Iya nih, Kakang Gembul bikin sakit perut saja" ujiar Nyi Lastri menimpali.

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Bertarung dengan pendekar Andalas (Bagian 1)

Setelah semuanya aman terkendali, Ki Satya beserta seluruh warga padepokan lereng merapi berpamitan kepada Ki Paramudya dan Nini Darminah. Mereka segera kembali ke padepokan lereng merapi. "Ngger Adinata, kamu apakah mau tinggal disini atau langsung ikut kami ke padepokan?" tanya Ki Satya. "Ananda ingin bermalam dulu beberapa hari disini, rasa kangenku pada bopo dan biyung belum terobati" jawab Adinata dengan sopan dan hormat. "Tidak apa-apa kalau begitu, jaga diri kalian baik-baik" balas Ki Satya. "Ki, saya mewakili seluruh warga padepokan lereng merapi sekali lagi mohon pamit, terimakasih sekali selama ini sudah bersedia menampung kami, mohon maaf jika selama ini kami ada kesalahan baik tutur kata ataupun perbuatan baik yang disengaja ataupun tidak" pamit Ki Satya. "Sama-sama guru, kami seluruh warga padukuhan sambi sangat senang menyambut kalian, semoga lain kali kita dapat berjumpa lagi dalam keadaan yang lebih baik, kami juga mohon maaf jika dalam kami menerima warga padepokan lereng merapi jauh dari kata sempurna" balas Ki Paramudya. Tidak berapa lama kemudian warga padepokan lereng merapi segera berbondong-bondong kembali menuju lereng merapi.

Setelah melepas kepergian Ki Satya, Ki Paramudya berkata kepada Adinata. "Nak, kami ingin kamu menjelaskan dengan gamblang, kenapa sekarang kamu membawa dua gadis cantik ini bersamamu" tanya Ki Paramudya. Adinata menarik napas yang dalam. Kemudian setelah ia menata hatinya ia menjelaskan secara terperinci awal perkenalannya dengan Ambarwati dan Maheswari hingga mereka berdua menjadi calon istrinya. "Oh, begitu ceritanya, bopo dan biyungmu bisa menerima penjelasanmu" berkata Ki Paramudya.

Tiba-tiba ia langsung bertanya kepada Ambarwati. "Nak, dalam waktu dekat kami akan menemui kedua orangtuamu untuk melamarmu secara resmi, apakah kamu tidak berkeberatan dan sudah mantap dengan putra kami?" tanya Ki Paramudya meyakinkan. "Saya tidak berkeberatan Bopo, justru kami sekeluarga akan menyambutnya dengan riang gembira" jawab Ambarwati. "Baguslah kalau begitu" jawab Ki Paramudya. 

"Nak Maheswari, kamu tidak keberatan kan, kami melamar nimas Ambarwati terlebih dahulu?" tanya Ki Paramudya kepada Maheswari. "Saya tidak berkeberatan Bopo, justru saya sangat gembira dan bahagia, Mbakyu Ambarwati akan segera bersatu dengan kakang Adinata di pelaminan" jawab Maheswari dengan mimik muka gembira. Sama sekali tidak ada raut kesedihan diwajahnya. "Baguslah kalau begitu, kami akan segera mencari waktu yang baik untuk melamar ke Hargowilis" kata Ki Paramudya. "Sekarang kalian semua beristirahatlah" kata Ki Paramudya. "Terimakasih Bopo" ketiganya menyahut dengan serentak.

Bersambung

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Mengungsi ke Ledok Sambi (Bagian 8)

Setelah hampir seharian bekerja, akhirnya tenda sementara dan dapur umum telah selesai. Warga padepokan lereng merapi pun bersuka cita. Mereka bersyukur karena mereka dapat tidur dengan nyenyak, tanpa terlalu khawatir jika sewaktu-waktu gunung merapi meletus. Karena menurut penuturan warga dusun Sambi, lahar panas ataupun awan panas letusan gunung merapi tidak sampai ke dusun mereka.

Ambarwati dan Maheswari, dengan dibantu oleh perempuan remaja dan ibu-ibu warga kampung, dengan cekatan telah menyiapkan masakan di dapur umum. Aneka makanan dan minuman hangat telah siap untuk disantap. Ada nasi megono, nila goreng, ayam goreng, ikan asin, sayur gudek, sayur asem dan masih banyak lagi. Minumannyapun tidak kalah istimewa, ada wedang sereh, wedang jahe, teh panas, kopi panas, semuanya lengkap tersedia. 

Remaja laki-laki dan bapak-bapak yang seharian bekerjapun seketika langsung merasa lapar. Namun mereka tidak berani mendekat ke dapur umum kalau belum mendapat perintah. Adinata yang paham dengan situasi itu bergegas segera menemui Ambarwati dan Maheswari. "Nimas, apakah masakannya sudah siap, kalau sudah saya akan meminta seluruh warga yang bergotongroyong untuk datang kemari makan dan minum" tanya Adinata. "Semuanya sudah siap kakang, silahkan ajak warga kemari untuk makan bersama-sama" jawab Ambarwati.

Tidak berapa lama wargapun berbondong-bondong makan. Warga makan dan minum sambil bersenda gurau dengan riang gembira. Adinatapun turut berbahagia melihat suasana itu. "Ini kakang makan siangmu, sudah kuambilkan" kata Maheswari. "Terimakasih nimas, kamu baik sekali" kata Adinata memuji. "Ah,kakang bisa saja, tadi mbak ayu ambarwati yang menyiapkannya" jawab maheswari sedikit tersipu malu. "Uhuy" goda warga dusun sambi. Adinata cuma tersenyum.

Sekitar seminggu kemudian gunung merapi benar-benar meletus, namun untungnya ledakannya tidak begitu besar sehingga tidak membahayakan warga lereng merapi. Adinata dan seluruh warga dusun sambi beserta warga padepokan merapi bersyukur sekali telah melewati bahaya dengan selamat.

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Mengungsi ke Ledok Sambi (Bagian 7)

Tidak berapa lama kemudian Ambarwati dan Maheswari membawa beragam makanan dan minuman hangat untuk warga perguruan lereng merapi. Nasi yang masih mengebul panas, sayur krecek yang menggoda selera, sayur gudek, ikan asin, dan sayur lodeh telah terhidang di atas tikar. Tidak lupa juga aneka minuman hangat seperti teh panas, kopi, serta wedang sereh. "Marilah guru, monggo dinikmati makanan dan minuman ala kadarnya ini" kata Ki Paramudyo mempersilahkan Ki Satya untuk menikmati hidangan. "Terimakasih Ki, kami seluruh warga perguruan lereng merapi mengucapkan terimakasih yang tidak terhingga atas sambutan yang sangat hangat ini" jawab Ki Satya. "Adinata, persilahkan adik-adik seperguruanmu untuk sarapan" perintah Ki Paramudyo kepada Adinata. "Baik Bopo" jawab Adinata dengan sopan. Adinatapun segera mempersilahkan adik-adik seperguruannya untuk menikmati hidangan yang telah disediakan.

Setelah selesai sarapan Ki Paramudyo berbincang-bincang dengan Ki Satya. "Guru, kalau tidak berkeberatan, kami warga dusun telah menyiapkan tempat untuk bernaung sementara sampai merapi benar-benar aman. "Oh, terimakasih sekali Ki, kalau boleh tahu, dimanakah tempatnya?" tanya Ki Satya. "Di sebelah timur pedukuhan sambi terdapat ledok atau dataran rendah di pinggir sungai kecil yang airnya mengalir jernih. Di situ warga perguruan lereng merapi bisa membuat tenda sementara. Kami seluruh warga dusun sambi akan membantu untuk membuat tenda dan mempersiapkan dapur umum" jawab Ki Paramudyo panjang lebar. "Terimakasih sekali Ki dan seluruh warga dusun sambi yang mau membantu kami, sekali lagi kami mengucapkan beribu-ribu terimakasih" kata Ki Satya. "Ah, tidak usah sungkan guru" jawab Ki Paramudyo.

Tidak berapa lama kemudian warga dusun sambi telah berdatangan berkumpul di rumah ki Paramudyo untuk membantu membuat tenda sementara dan dapur umum. Ki Paramudyo dan Adinatapun tidak lupa mempersilahkan warga dusun sambi untuk sarapan terlebih dahulu. "Wah enak sekali masakannya den Nata, siapa yang masak ini?" tanya salah seorang warga dusun sambi. "Wah, pak lek belum tahu ya kalau den nata telah mempunyai dua calon istri yang sangat cantik" sahut tetangga adinata yang lain. "Ah, lek gino bisa saja" jawab adinata sedikit tersipu malu.

Setelah selesai sarapan, seluruh warga lereng merapi beserta warga dusun segera menuju ke tanah lapang di ledok sambi. Ledok sambi tempatnya sangat indah, pohon-pohon menghijau, sungai kecil yang mengalir jernih dan banyak ikannya. Ternyata Ki Paramudyo telah mempersiapkan bahan-bahan untuk membuat tenda sementara di sana. Warga perguruan dan warga dusun bahu-membahu membangun tenda sementara dan dapur umum. Karena dikerjakan dengan bergotong-royong, belum sampai waktu dzuhur pekerjaan pembuatan tenda sementara dan dapur umum telah selesai.

Bersambung

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Mengungsi ke Ledok Sambi (Bagian 6)

Malam harinya seluruh warga perguruan lereng merapi berkemas-kemas untuk mengungsi. Barang-barang yang dianggap berharga dan penting mereka bawa. Pakaian, uang, perhiasan mereka simpan dengan rapi. Seluruh warga perguruan lereng merapi telah bersiap mengungsi dibawah arahan Adinata, yang menjadi calon penerus perguruan lereng merapi. 

Pagi-pagi benar sehabis sholat subuh Ki Satya bersama seluruh rombongan bergerak menuju ke Ledok Sambi. Mereka semua berjalan kaki. Namun ada beberapa perbekalan terutama yang berukuran besar dibawa dengan menggunakan gerobak yang ditarik dua ekor sapi. Hawa lereng merapi yang sangat dingin tidak menyurutkan langkah mereka untuk terus bergerak menuju ke pedukuhan sambi. Di sebelah timur pedukuhan sambi terdapat ledok atau dataran rendah di pinggir sungai kecil yang airnya mengalir jernih.

Satu jam kemudian sampailah mereka di pedukuhan sambi. Sebelum menuju ke Ledok Sambi Adinata mengajak seluruh rombongan untuk mampir dulu kerumahnya. Ki Paramudyo dan Nini Darminah menyambut kedatangan Ki Satya beserta seluruh rombongan dengan ramah. "Marilah guru, kita masuk kedalam untuk sekedar beristirahat dan sarapan pagi". "Terimakasih Ki" jawab Ki Satya. "Adinata, persilahkan adik-adik seperguruanmu untuk beristirahat di pendopo, dan minta tolonglah kamu ke ibu-ibu di belakang untuk mempersiapkan segala sesuatunya" perintah Ki Paramudyo. "Baiklah Bopo, akan segera ananda laksanakan" jawab Adinata dengan sopan.

Di Dapur Ambarwati dan Maheswari menyambut Adinata dengan senyum semringah. "Nimas Ambarwati dan Nimas Maheswari, tolong dipersiapkan makanan dan minuman untuk saudara-saudara kita dari perguruan lereng merapi ya" kata Adinata. "Baik kakang" Ambarwati dan Maheswari menjawab secara bersamaan. "Ciye-ciye, Den Nata pinter memilih calon istri ini, sekaligus dua lagi, memang bang jago nih" goda ibu-ibu yang ikut gotong royong memasak di dapur. "Ah, simbok bisa saja" jawab Adinata sembari tersenyum. Ambarwati dan Maheswaripun tersipu malu.

Bersambung


Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Mengungsi ke Ledok Sambi (Bagian 5)

Adinata dan paman gembul segera bergegas menuju padepokan di lereng merapi. Karena jaraknya yang tidak begitu jauh sekitar satu jam kemudian sampailah mereka berdua di padepokan. Saat itu Ki Satya kelihatan sedang duduk kelelahan di pendopo padepokan. "Assalamualaikum guru, apa kabar, semoga kabar baik adanya" sapa Adinata. "Walaikumsalam, Oh, Ngger anakku, kamu kemana saja, gurumu ini sudah sangat kangen sama kamu" jawab Ki Satya. "Ceritanya panjang guru, nanti akan saya ceritakan panjang lebar, tapi yang terpenting sekarang, bagaimana keadaan padepokan sekarang?" tanya Adinata. "Sebenarnya keadaan padepokan baik-baik saja, namun sebetulnya seluruh warga padepokan sedang dilanda kecemasan, karena akhir-akhir ini sering terdengar bunyi gemuruh dari kawah gunung merapi, sepertinya akan meletus ngger, kami jadi tidak tenang" Ki Satya menjelaskan. "Oh begitu masalahnya, saya sebenarnya ada jalan untuk memecahkan persoalan ini, tentunya kalau guru setuju" kata Adinata. "Apakah itu ngger, semoga bisa memecahkan persoalan yang sedang dihadapi disini?" tanya Ki Satya. "Kalau guru tidak berkeberatan, seluruh warga padepokan bisa mengungsi sementara di Ledok Sambi, disana ada tempat yang lapang untuk mendirikan tenda perkemahan sementar" jawab Adinata. "Bagus sekali usulmu ngger, tapi masalah makan minumnya bagaimana, kita sebenarnya mempunyai bahan makanan dan minuman, tapi sepertinya terbatas?" tanya Ki Satya lagi. "Tenang guru, masalah itu sudah saya pikirkan, yang penting kita kesana dulu" kata Adinata. "Baiklah saya setuju dengan usulmu ngger, malam ini biar semua warga padepokan bersiap-siap untuk mengungsi, kita pergi mengungsi besok". "Ngomong-ngomong ini siapa ya, kok saya belum kenal?" tanya Ki Satya. "Oh ini paman gembul, yang sering membantu saya guru, katanya ia ingin sekali menjadi murid padepokan lereng merapi, dan mohon maaf sebelumnya guru, saya sudah lancang, ia sudah belajar beberapa jurus ciri khas perguruan kita" kata adinata. "Tidak apa-apa ngger, saya percaya kepadamu, karena kamulah calon penerus padepokan lereng merapi ini". "Perkenalkan saya gembul, ijinkan saya jadi muridmu guru" kata paman gembul memperkenalkan diri sambil mencium telapak tangan Ki Satya. "Kamu saya terima jadi murid padepokan lereng merapi gembul, ikuti semua nasihat dari ngger adinata, karena dialah calon pemimpin di padepokan ini" nasihat ki satya. "Baiklah guru, semua nasihat guru akan saya laksanakan" jawab paman gembul mantap.

Bersambung

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Mengungsi ke Ledok Sambi (Bagian 4)

Kedua orangtua Adinata sangat senang dan bahagia putra kebanggaannya datang. Mereka berdua sedikit heran karena Adinata datang bersama dua orang yang sangat cantik dan juga dua orang yang mirip pengasuh. "Perkenalkan Bopo dan Biyung, ini nimas Ambarwati, nimas Maheswari dan ini paman gembul dan bi lastri yang sudah kami anggap seperti keluarga sendiri" Adinata memperkenalkan anggota rombongannya. "Oh, begitu ngger, sudahlah, masuklah kalian semua, tentu kalian lelah, bersih-bersihlah dahulu, nanti terus kita makan bersama, biyungmu sudah masak banyak makanan untuk menyambut kedatangan kalian" jawab Ki Paramudya, bopo dari Adinata.

Setelah mandi dan beristirahat, Ki Paramudya dan Nini Darminah biyung dari Adinata segera menjamu para tamunya. Di meja makan telah terhidang nasi putih yang masih hangat ditemani sayur gudek, sayur tempe krecek, sego gudangan, trancam sayuran, jadah dan wajik khas merapi. Lauknya juga sangat lengkap ada ayam goreng, ayam bakar, gurami bakar, nila goreng, wader goreng dan masih banyak lagi. Minumannya juga tidak kalah nikmat, ada teh nasgitel (panas, legi, kentel), wedang jahe, wedang kopi.  "Mari silahkan dinikmati sepuasnya, Nini sengaja masak banyak untuk kalian" kata Ki Paramudya mempersilahkan tamunya.

Setelah selesai makan malam Adinata segera meminta ijin kepada kedua orangtuanya untuk pergi menuju perguruan lereng merapi. "Bopo, ananda minta ijin untuk malam ini juga menuju ke perguruan lereng merapi, karena terus terang saya sangat mengkhawatirkan keadaan mereka, karena sewaktu perjalanan kesini saya lihat banyak burung dan monyet turun ke bawah, saya khawatir gunung merapi akan meletus dalam waktu dekat". "Baiklah ngger, hati-hatilah, doaku selalu menyertaimu. Tolong sampaikan salamku kepada gurumu, dan sampaikan juga bahwa kami warga pedukuhan sambi bersedia menampung mereka untuk sementara sampai gunung merapi reda kembali" jawab Ki Paramudya. "Terimakasih bopo, nanti pesan bopo akan saya sampaikan pada guru saya" jawab Adinata. "Saya ikut ya den nata, saya juga kan murid dari perguruan lereng merapi, saya juga ingin membantu sebisa mungkin" kata paman gembul ingin ikut. "Boleh paman, untuk nimas ambarwati,nimas maheswari dan bi lastri, tinggal disini saja dulu ya, biarlah kami para lelaki yang menuju kesana" kata Adinata. "Baiklah kakang, kami akan menunggu di sini, tapi nanti sekiranya butuh bantuan, kami bersedia membantu" kata Ambarwati.

Bersambung
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.
Copyright © Cerita Silat Harimau Merapi | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com