Prahara di Tebing Breksi (Bagian 2)

Pertandingan berikutnya adalah Wilalung yang bertubuh tinggi besar melawan Danurdara. Keduanya segera masuk ke gelanggang pertandingan dan masing-masing segera mempersiapkan diri. "Bersiaplah Kangmas Wilalung, aku tidak akan segan-segan untuk menyerangmu" kata Danurdara memperingatkan. "Baiklah Adi Danurdara, aku sudah siap menerima seranganmu" jawab Wilalung dengan penuh percaya diri. Tanpa banyak basa-basi Danurdara langsung menyerang Wilalung dengan dashyatnya. Danurdara lebih banyak mengandalkan serangan lewat tendangan kakinya sesuai dengan ciri khas perguruannya yaitu Tendangan Geledek. Dengan tubuhnya yang tinggi besar, Wilalung agak kesulitan dalam menghindari setiap serangan dari Danurdara. Untuk itu Ia lebih banyak bertahan dengan cara menangkis setiap serangan dari Danurdara. Tidak terelakan, diantara keduanya sering terjadi benturan kekuatan. perlahan-lahan, keduanyapun mulai diliputi kelelahan.

Setelah sekian lama bertahan, Wilalung mulai kehilangan kesabarannya. Iapun meloncat kebelakang untuk mempersiapkan diri menggunakan ilmu pamungkasnya. Ia mengatur pernapasannya. Meskipun Wilalung baru mencapai tingkat ketiga dari jurus Kepalan Geledek namun Ia tidak bisa diremehkan. "Bersiaplah Adi Danurdara" teriak Wilalung. Menyadari Wilalung telah menyiapkan jurus pamungkasnya Danurdarapun tidak mau ketinggalan segera memasang kuda-kuda untuk mengeluarkan jurus andalannya "Tendangan Geledek". Tidak berapa lama kemudian Wilalungpun telah mulai menyerang dengan pukulan tangannya yang telah dilambari dengan ilmu Kepala Geledek". Serangannya meskipun agak lambat namun cukup bertenaga. Menyadari bahwa akan sangat fatal jika ia sampai terkena pukulan kepalan geledek dari wilalung maka Danurdarapun berusaha menghindari setiap serangan dari wilalung. Danurdara dengan lincahnya berloncatan kesana kemari menghindari pukulan-pukulan yang berbahaya dari Wilalung. Namun meskipun begitu beberapa kali telah terjadi benturan kekuatan diantara keduanya dan Danurdarapun mulai merasakan nyeri di sekujur badannya.

Lambat namun pasti, serangan Wilalungpun semakin lama semakin mengendor. Rupanya ia mulai kehilangan banyak tenaga. Tidak menyia-nyiakan kesempatan itu dengan secepat kilat Danurdara menendang  bagian pinggang dari Wilalung dan iapun tidak sempat menghindar. "Aduh, sakit" teriak Wilalung tanpa sengaja. Iapun meloncat mundur dan merasakan nyeri dipinganggnya. "Aku mengaku kalah Adi" kata Wilalung kepada Danurdara. "Berhenti, pertandingan kalian sudah cukup" teriak Ki Adanu. Penontonpun bersoraksorai menyemangati keduanya. "Bagaimaka Kakang wilalung, tidak terluka parah kan?" tanya Danurdara. "Tidak Adimas, kamu memang hebat, suatu saat nanti kamu bisa menjadi pendekar yang tangguh" puji Wilalung kepada Danurdara. "Terimakasih Kakang. Kangmas juga hebat, saya juga terluka ini, mari kita ke pendopo biar kita bisa beristirahat dan dapat segera diobati lukannya" ajak Danurdara. "Mari Adi Danurdara" jawab Wilalung. Keduanyapun berjalan agak tertatih-tatih menuju ke pendopo padepokan.

Bersambung

0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts

Blog Archive

Diberdayakan oleh Blogger.
Copyright © Cerita Silat Harimau Merapi | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com