Prahara di Tebing Breksi (Bagian 1)

Pagi harinya pertandingan segera dimulai. Lebih tepatnya latih tanding. Karena sejatinya pertandingan ini bukan untuk mencari siapa menang siapa kalah, namun lebih ke pertandingan persahabatan saja, untuk meningkatkan paseduluran diantara padepokan-padepokan yang ada di tlatah Mataram. Yang akan bertanding pertama kali adalah Indraswari murid dari padepokan lereng merapi melawan Ambarwati dari padepokan tebing breksi. Kedua-duanya sama-sama cantik dengan pesonanya masing-masing. Keduanya segera bersiap menuju gelanggang yang telah dipersiapkan. Gelanggang untuk pertandingan terletak di depan Pendopo Padepokan Tebing Breksi. Adapun peserta yang lain menonton mengitari lapangan. Ada juga penduduk desa disekitar padepokan yang turut menyaksikan pertandingan karena memang diperbolehkan oleh Ki Adanu. Ki Satya beserta Ki Adanu, dan tamu undangan yang lain duduk lesehan di Pendopo  di atas tikar yang disediakan untuk menyaksikan jalannya pertandingan dari kejauhan sambil menikmati hidangan makanan dan minuman ala kadarnya.

"Bersiaplah Nimas, jangan ragu-ragu untuk menyerangku" kata Indraswari. "Baiklah Adinda, beri petunjuk kepada sahabatmu ini" jawab Ambarwati. Kedua-duanya kemudian mengatur pernafasan dan memasang kuda-kuda. "Bersiaplah Adinda" Ambarwati langsung meloncat menyerang dengan lincahnya. Ia banyak menyerang menggunakan kekuatan kakinya yang merupakan ciri khas dari perguruannya. Indraswaripun meladeni serangan Ambarwati dengan tenangnya. Serangan Ambarwati yang bergulung-gulung mengurungnya dihindarinya dengan tangkas. Kadang-kadang iapun menangkis dengan tangannya. "Hati-hati Nimas, terimalah serangan balasan dariku" Indraswari balik menyerang dengan mengandalkan kekuatan dan kelincahan pukulan tangannya yang merupakan ciri khas dari perguruannya. Keduanyapun saling jual beli pukulan dan serangan. Pertandingan berjalan sangat seru. Penonton bersorak-sorai memberi semangat.

Setelah sekian lama bertarung, nampak bahwa Indraswari lebih unggul. Perlahan-lahan Ambarwati terdesak oleh serangan-serangan yang dilancarkan oleh Indraswari. Satu dua pukulan dan tendangan mulai bersarang di badannya. Badanya mulai lebam-lebam karena terluka. "Berhenti" teriak Ki Satya dan Ki Adanu secara hampir bersamaan. Sebelum Ambarwati mengalami cidera yang serius, Ki Satya dan Ki Adanu dengan bijaksana telah menghentikan jalannya pertandingan. Mendengar perintah dari Ki Satya, Indraswari dan Ambarwatipun segera berhenti bertarung dan masuk ke dalam bangunan yang ada di padepokan untuk bersistirahat dan mengobati luka-luka yang diperoleh selama pertandingan berlangsung.

Bersambung

0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts

Blog Archive

Diberdayakan oleh Blogger.
Copyright © Cerita Silat Harimau Merapi | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com