Prahara di Tebing Breksi (Bagian 7)

Berkata Adinata kepada Ki Gardapati dengan sopan. "Mohon ijin Ki Gardapati, berikanlah anak muda ini sejurus dua jurus untuk menambah khazanah ilmu kanuraganku". "Hem, bagus anak muda. Kamu masih punya unggah-ungguh dengan orang yang lebih tua. Sudahkah kamu siap dengan resikonya melawanku. Aku tidak akan segan-segan melenyapkanmu" kata Ki Gardapati. "Aku sudah siap Ki, bersiaplah menerima seranganku".

Tidak berapa lama kemudian Adinata sudah berhadap-hadapan dengan Ki Gardapati di gelanggang pertandingan. Orang-orang yang tadinya ketakutan mulai mendekat karena penasaran dengan pertarungan selanjutnya yang akan terjadi. Adinata langsung saja meloncat menyerang dengan lincahnya. Ki Gardapati terkejut dengan serangan yang dilancarkan oleh Adinata. Bahkan beberapa kali ia terpaksa meloncat mundur untuk sedikit menjaga jarak. "Hem, anak muda, aku akui kamu memang punya cukup bekal ilmu. Aku tak akan segan-segan lagi menyerangmu, terimalah seranagn balasanku ini anak muda". Ki Gardapati langsung menyerang dengan ganasnya. Tendangan dan pukulannya sangat berbahaya karena dilambari dengan tenaga dalam tingkat tinggi. Namun ternyata Adinata mampu mengimbanginya. Tanpa disadari oleh Adinata, kebiasaannya selama ini berlatih dengan Induk Harimau Jawa dan Si Loreng telah melipatgandakan ilmunya. Ki Satya beserta saudara seperguruan Adinata yang lainpun takjub dengan kemampuan ilmu kanuragan yang dimiliki oleh Adinata. Sesekali adinata menghindar dan sesekali menangkis serangan dari Ki Gardapati. Benturan kekuatan diantara keduanya begitu hebat dan membuat para penonton menjadi bergidik ketakutan dan mulai agak menjauh dari arena pertandingan.

Tak terasa siangpun telah berganti malam. Namun pertandingan diantara keduanya belumlah selesai. Ki Gardapati yang sudah mulai tidak sabar mulai mempersiapkan diri untuk mengeluarkan ilmu pamungkasnya "Tapak Es Penghancur Raga". Ki Gardapati meloncat jauh ke belakang. Kemudian ia memasang kuda-kuda dan mengatur pernafasannya. Tangannya direntangkan seolah-olah sedang mengumpulkan hawa dingin disekitarnya. Perlahan-lahan namun pasti hawa dingin mulai menyelimuti kawasan disekitar padepokan tebing breksi. Butiran-butiran es mulai muncul di sekitar arena pertandingan. Adinatapun merasakan hawa dingin yang teramat sangat. Badannyapun mulai membiru karena kedinginan.  

Penonton pertandinganpun turut merasakan hawa dingin yang menusuk tulang. "Kalian menjauhlah, jangan sampai badan kalian membeku" Ki Satya memperingatkan. Para penontonpun segera menjauh dari arena peratrungan. Mereka melihat pertandingan dari jarak yang cukup jauh. "Bersiaplah menerima ajalmu anak muda" Ki Gardapati berkata kepada Adinata. Ki Satya yang melihat Adinata badannya membiru karena kedinginan menjadi khawatir. Jika terkena pukulan tapak es penghancur raga bisa-bisa badan Adinata akan langsung membeku dan dapat menemui ajal. Adinatapun menjadi khawatir. Badanya terasa beku dan seluruh tulang-belulangnya terasa sakit. Namun dalam keputusasaannya tanpa ia sadari Adinata mengeluarkan auman harimau yang sangat keras dan menggetarkan. "Hrrr..... Hrr..... Hrr......". Tiba-tiba hawa dingin yang tadi menyelimuti tebing breksi perlahan-lahan pudar dan akhirnya hilang berganti menjadi hawa hangat. Badan Adinatapun perlahan-lahan menjadi normal kembali dan sudah tidak membiru lagi. Ki Gardapati, Ki Satya, Ki Adanu, murid-murid Ki Satya dan Ki Adanupun terkejut. "Kurang ajar kamu anak muda, terimalah seranganku ini" teriak ki Gardapati.

Bersambung

0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts

Blog Archive

Diberdayakan oleh Blogger.
Copyright © Cerita Silat Harimau Merapi | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com