Auman Harimau Muda (Bagian 5)

"Murid-muridku, saya telah cukup melihat apa yang kalian tampilkan dan peragakan, saya sangat bangga bahwa kalian telah sampai tataran tingkat yang cukup membuatku kagum. Namun aku ingin mengingatkan pada kalian, dari yang kulihat tadi ternyata kalian belum punya cukup sifat rendah hati dan ketenangan diri. Terbukti dengan kalian terbawa perasaan dan saling menyerang antara sesama saudara sendiri bukan lagi dalam tataran taraf latih tanding namun sudah menuju kearah adu kuat, adu kemampuan, dan saling ingin menunjukan kemampuan di atas lawan. Ketahuilah muridku, hal ini tidaklah baik. Kalian harus belajar menahan diri dan melatih ketenangan batin dalam situasi apapun. Sekarang kalian hanya berlatih melawan saudara seperguruan sendiri, namun nantinya tidak terbayangkan jika kalian bertanding dengan orang lain, kalian akan mudah terbawa emosi, terbawa nafsu jahat untuk sesegera mungkin menjatuhkan lawan, dan nantinya hanya akan menyebabkan kalian kehilangan kewaspadaan dan akan membahayakan kalian sendiri. Untuk melatih ketenangan dan pengendalian diri, perbanyaklah beribadah dan berdoa kepada Tuhan, semoga Tuhan meridhoi apa yang menjadi hajat kalian" Ki Satya memberi wejangan dan nasihat. "Baiklah guru, saya mewakili diri pribadi dan adik-adik seperguruan akan selalu mengingat nasihat dari guru dan akan berusaha semaksimal mungkin untuk melaksanakannya" jawan Adinata mewakili saudara-saudaranya.

"Satu lagi yang ingin saya tekankan disini, kalian kelihatan sekali belum menguasai teknik pernafasan yang baik sehingga pukulan dan tendangan kalian seperti kurang bertenaga, latihlah teknik pernafasan kalian dengan baik sehingga nanti dengan sendirinya akan timbul kekuatan yang besar dari diri kalian sendiri dan jika sudah sampai pada tingkatan tertentu, kalian dapat menyalurkan kekuatan itu pada bagian-bagian dari anggota badan kalian untuk menyerang ataupun bertahan" lanjut Ki Satya memberi nasihat. "Baik guru, akan kami laksanakan" kelima murid Ki Sayta menjawab serempak. "Baiklah sekarang kalian lihat peragaan jurus Kepalan Geledek tingkat 10 dariku, aku akan menyerang bongkahan batu sebesar anak kerbau itu dengan kepalan tanganku"

Ki Satya kemudian mengatur pernafasannya. Ia memasang kuda-kuda untuk menyerang batu sepesar anak kerbau yang ada di hadapannya. Tangannya mengepal erat. Seolah-olah seluruh kekuatannya dialirkan keangannya yang mengepal. Kemudian dengan secepat kilat ia memukul batu sebesar anak kerbau itu dengan cara meninjunya dengan tangan yang terkepal. Dan terkejutlah Adinata beserta keempat adik seperguruannya, batu sebesar anak kerbau itu menjadi hancur berkeping-keping. Sungguh mengagumkan sekali. Tidak terbayang jika pukulan itu mengenai badan manusia. Tidak heran jurus Ki Satya ini dinamakan kepalan geledek, karena kecepatannya dan kekuatannya. Ki Satya mengatur nafas kembali. Setelah nafasnya teratur Ia segera berujar kepada muridnya.

"Nah, kalian lihat kan, batu sebesar anak kerbau itu bisa hancur lebur ditanganku, suatu saat nanti jika kalian rajin berlatih, maka tidak mustahil kalian juga akan mampu menguasainya, bahkan lebih hebat dari saya". Adinata menjawab "Baik Guru, saya dan adik-adik seperguruan akan rajin berlatih supaya bisa mempunyai kemampuan seperti guru". "Nah, sekarang istirahatlah kalian, nanti kalau kalian sudah mandi dan berganti pakaian kita makan siang bersama-sama, kebetulan Nini tadi memasak pepes gurami kesukaan kalian" Ki Satya memberi perintah. "Baik Guru, terimakasih" jawab kelima murid Ki Satya serempak. Ternyata Ki Satya adalah orang yang sangat baik hatinya. Ia menyediakan makanan-makanan yang terbaik dan bergizi untuk kelima murid kesayangannya. Adinata dan keempat saudaranya yang lainpun dapat merasakan kasih sayang gurunya itu meskipun Ki Satya tidak pernah mengungkapkannya.

Bersambung

0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts

Blog Archive

Diberdayakan oleh Blogger.
Copyright © Cerita Silat Harimau Merapi | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com