Auman Harimau Muda (Bagian 7)

Hari demi hari, bulan berganti bulan Adinata secara rutin berlatih olah kanuragan dengan induk harimau jantan. Namun ternyata tanpa disadari oleh Adinata, Si Loreng turut belajar mengikuti gerakan-gerakan induknya dan mulai belajar mengaum. Auman harimau muda Si Loreng memang belum sekeras dan sehebat induknya namun sudah mampu untuk menggetarkan hati dan membuat ciut nyali siapapun yang mendengarkannya. Setelah berlatih bersama induk harimau jantan, biasanya Adinata melanjutkannya dengan latihan ringan bersama si Loreng. Si Loreng kini sudah tumbuh semakin besar dan kelihatan tanda-tanda kegagahannya seperti induknya. Tanpa disadari oleh Adinata, ilmunya jurus kepalan geledek dengan dipadukan oleh unsur kecepatan dan kelincahan gerak harimau jawa, ia telah mencapai tataran ilmu yang sama dengan yang dimiliki oleh Ki Satya gurunya, bahkan mungkin jauh lebih tinggi. Gurunya Ki Satya dan adik-adik seperguruannya tahu bahwa Adinata berlatih ilmu beladiri di pinggir hutan untuk mempersiapkan diri menghadapi pertandingan, namun mereka tidak mengetahui bahwa Adinata memperdalam ilmunya dengan dibantu oleh induk harimau jantan bersama Si Loreng teman berlatih sekaligus kawan bermainnya.

Setelah berlatih sekian lama, suatu hari Adinata sedang berlatih bersama Si Loreng. Namun tiba-tiba datang sepasang harimau jantan dan betina induk dari Si Loreng menyerangnya dengan ganas. Keduanya menngereng dan mengaum dengan keras seperti sedang marah besar. Serangan sepasang harimau itu bergulung-gulung disekitar Adinata. Adinata terkejut sekali, ia biasanya berlatih hanya satu lawan satu namun sekarang ia harus menghadapi sepasang harimau yang sama ganasnya. Namun meskipun dihinggapi rasa khawatir, ia tetap tenang dan berusaha menghindari setiap serangan dari sepasang harimau jawa itu. Sebenarnya ia tidak ingin melukai induk Si Loreng, maka ia menahan diri untuk tidak menggunakan ilmu pamungkasnya Jurus Kepalan Geledek. Dengan lincah dan cekatan ia menghindari setiap serangan dari sepasang harimau jawa ini namun perlahan-lahan hal ini ternyata menguras tenaganya.

Untuk secepatnya menyelesaikan pertarungan sebelum tenaganya habis, ia dengan terpaksa menggunakan jurus kepalan geledek andalanya, meskipun dengan menggunakan seperempat tenaganya. Tendangan dan pukulannya menyambar-nyambar kearah sepasang harimau jawa itu namun ternyata setiap serangannya juga dapat dihindari dengan mudah. Bahkan beberapa serangan sepasang harimau jawa itu satu persatu mulai mengenai badannya. Menyadari dirinya kian terdesak, Adinatapun mundur meloncat kebelakang dan mengatur pernafasannya. Ia mulai menyiapkan diri untuk mengeluarkan jurus Kepalan geledek dengan menggunakan seluruh sisa-sisa tenagannya. Namun tiba-tiba seolah menyadari adanya bahaya, sepasang harimau jawa itu berhenti menyerangnya dan hanya memandangnya. Adinatapun teringat pesan Ki Satya gurunya agar tidak mudah marah tetap tenang dan harus mampu mengendalikan diri. Mengingat hal itu Adinatapun mengurungkan niatnya menyerang sepasang harimau jawa itu. Setelah berpikir sejenak, ternyata ia baru menyadari bahwa sepasang harimau itu hanya ingin berlatih dengannya tidak sepenuhnya benar-benar menyerangnya terbukti ia hanya mengalami luka cakar yang ringan.

Setelah pertarungan yang hebat dengan sepasang harimau jawa induk dari Si Loreng Adinatapun kelelahan dan tertidur di pinggir hutan. Si Lorengpun menemaninya dengan ikut tertidur manja di dekat Adinata. Sorenya iapun baru terbangun dan segera pergi ke sungai untuk mandi kemudian kembali ke padepokan. Adapun Si Loreng tidak pernah mau mengikuti sampai padepokan. entah kenapa ia tidak mau bertemu dengan orang lain selain Adinata.

Bersambung

0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts

Blog Archive

Diberdayakan oleh Blogger.
Copyright © Cerita Silat Harimau Merapi | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com