Semburat Merah Jingga Di Kalibiru (Bagian 7)

 "Tidak usah banyak cakap, majulah kalian semua" jawab adinata dengan tenangnya. Melihat ketenangan Adinata, pemimpin gerombolan itu menjadi berhati-hati. "Kakang Madhupa, biarlah kami yang menghajar dan menghabisinya" kata salahsatu anggota gerombolan itu. "Baiklah, tapi berhati-hatilah Matsara, dia sepertinya berilmu tinggi". Matsara beserta seluruh kawan-kawan gerombolannya kecuali Madhupa langsung bersiap-siap untuk menyerang Adhinata. "Ayo serang" Matsara memberi aba-aba kepada grombolannya. "Berhati-hatilah kakang" teriak Ambarwati khawatir. "Tenanglah Nimas, biar aku hajar mereka semua" jawab Adinata dengan tenangnya. Tanpa basa-basi seluruh anggota gerombolan itu kecuali Madhupa, pemimpinnya langsung menyerang Adinata dengan senjatanya. Adinata dengan tangkasnya menghindari setiap serangan dari lawan-lawannya. Dengan tangan kosong ia menghadapi anggota gerombolan yang bersenjatakan pedang, golok ataupun belati. Adinata biasanya tenang dalam berkelahi dan tidak terburu-buru untuk menyelesaikan pertandingan, namun karena hatinya sedang marah karena gerombolan itu telah mempermainkan Ambarwati, saudara seperguruannya, iapun ingin segera menyelesaikan pertandingan. Adhinata sengaja menggunakan unsur jurus silat tendangan halilintar kebanggaan padepokan tebing breksi. Dengan gerakan yang cepat, ia menendang tangan-tangan dari anggota gerombolan yang mengeroyoknya hingga senjatanya terlempar dari arena pertandingan kemudian dengan tendangan yang secepat kilat, ia menggunakan unsur jurus tendangan halilintar untuk menendang perut aggota gerombolan yang mengeroyoknya sehingga hampir bersamaan. semuanya berteriak kesakitan dan pingsan seketika. Adhinata memang sengaja tidak menggunakan seluruh kekuatannya karena memang tidak berniat membunuhnya. Madhupa yang melihat seluruh anak buahnya pingsan kaget luar biasa dan ketakutan. Iapun segera melarikan diri sambil berteriak "Tunggu pembalasannku cecunguk kecil". Adhinata hanya terdiam tanpa membalas teriakan Madhupa.

Namun ia segera menghampiri Ambarwati karena khawatir dengan keadaannya. "Kamu tidak apa-apa Nimas?" tanya Adhinata khawatir. "Aku tidak apa-apa kakang, untunglah kakang segera menolongku, kalau tidak, aku tidak tau akan seperti apa kejadiannya" jawab Ambarwati sambil menutup wajahnya dan sedikit menitikkan air mata. "Tidak usah dipikirkan lagi Nimas, yang penting kamu tidak kurang suatu apapun. Melihat baju Ambarwati yang sobek-sobek karena ulah gerombolan yang mengeroyoknya, iapun segera mengambil pakaian yang ada di bungkusan kain yang berisi perbekalannya. "Ini kamu pakai ya Nimas, karena bajumu kan sobek-sobek, tapi maaf ini pakaian laki-laki" kata Adhianta dengan lemah lembut. "Terimakasih kakang, inipun sudah cukup bagiku" jawab Ambarwati. Ambarwatipun segera memakai pakaian yang diberikan Adhinata. Melihat Ambarwati memakai pakaiannya, Adhinatapun tidak dapat menahan tawanya. "Ah, kakang, aku kan jadi malu" kata Ambarwati sambil tersipu-sipu manja. "Iya maaf ya Nimas' jawab Adinata.

"Kakang, boleh aku bertanya" kata Ambarwati. "Silahkan, ada apa?" jawab Adhinata. "Tadi aku perhatikan ketika kakang melawan gerombolan itu menggunakan unsur gerak dari tendangan halilintar, bagaimana kakang bisa menguasainya dengan sempurna, bahkan akupun belum sampai ke tingkatan itu" tanya Ambarwati penasaran. "Oh, itu karena aku telah menguasai ilmu silat Getar Bumi, yang merupakan gabungan dari jurus kepalan geledek dan tendangan halilintar" jawab Adhinata. "Oh begitu, lalu siapa yang mengajarimu kakang?" tanya Ambarwati penasaran. "Eyang Jagratara yang mengajariku.Beliau adalah guru dari Ki Satya dan Ki Adanu guru kita berdua". "Oh begitu, aku sekarang jadi paham". "Kakang, bolehkah aku punya satu permintaan" tanya Ambarwati. "Apa sih yang enggak buat kamu Nimas, semuanya akan aku penuhi" jawab Adhinata sedikit menggoda. "Ah kakang. Maukah kakang mengajariku ilmu silat getar bumi, karena aku sangat tertarik kakang" pinta Ambarwati. "Boleh, aku akan mengajarimu" jawab Adhinata. "Den Nata, bolehkah aku juga ikut belajar, aku juga pengen jadi orang hebat seperti den nata" kata Gembul. "Tentu saja boleh, tapi kamu harus belajar dulu dasar-dasar ilmu silat kepalan geledek dan tendangan halilintar" jawab Adinata. "Siap den nata" jawab gembul dengan gembira.

Bersambung

0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts

Blog Archive

Diberdayakan oleh Blogger.
Copyright © Cerita Silat Harimau Merapi | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com