Pertarungan (Bagian 3)

Adinata melihat Ambarwati sedang duduk termenung di kursi taman. Adinatapun mendekati Ambarwati dan duduk di sebelahnya. "Nimas Ambarwati, sebenarnya ada apa gerangan sehingga wajahmu kelihatan sedih, Kakang kan jadi khawatir?" tanya Adinata. "Tidak ada apa-apa kakang" jawab Ambarwati datar. "Kamu tidak bisa membohongi aku Nimas, matamu berkata lain" berkata Adinata. Mata Ambarwati tiba-tiba berkaca-kaca. Dan ia tiba-tiba menangis. "Bersandarlah dipundakku Nimas, menangislah, biar beban dihatimu semakin berkurang" kata Adinata berusaha menghibur Ambarwati. "Kakang, sebenarnya aku sangat khawatir dengan keselamatan Bopo dan Biyung" Ambarwati menceritakan kekhawatirannya. "Tidak usah khawatir Nimas, kan ada aku, aku akan bertarung mati-matian untuk menjaga keselatan kalian" ujar Adinata. "Justru itu kakang, aku juga sangat mengkhawatirkan keselamatanmu, apalagi aku dengar pemimpin pemberontak itu adalah orang yang sangat sakti amndraguna dan sangat licik, aku jadi sangat khawatir kakang". "Tidak usah khawatir Nimas, percayalah sama kakang, selama ini kakang telah menempa diri dan sangat siap menghadapi keadaan seperti ini, dan juga serahkan semuanya kepada Tuhan, yakinlah akan kebesarannya. Semoga kita senantiasa diberi keselamatan. "Terimakasih kakang, aku jadi sedikit tenang sekarang" kata Ambarwati. "Sekarang tidurlah Nimas, biar aku melanjutkan bincang-bincang dengan Ki Gede dan Senopati Puspanidra" berkata Adinata. "Baiklah kakang, selamat malam" Ambarwati pamit menuju ke kamar untuk beristirahat.

Adinata kembali menuju ke teras rumah dimana Ki Gede Aryaguna dan Senopati Puspanidra masih duduk-duduk mengatur strategi. "Bagaimana Nak Adinata, apakah kamu sudah menemui Ambarwati?" tanya Ki Gede Aryaguna. "Sudah Ki Gede, Nimas Ambarwati cuma sedikit khawatir saja dengan pertempuran esok hari, sekarang Nimas sudah beristirahat di kamarnya" Adinata menjawab. "Oh, begitu, syukurlah kalau dia sudah sedikit tenang".

"Dimas Adinata, apa rencanamu untuk pertempuran besok?" bertanya senopati Puspanidra meminta pendapat. "Menurut saya kita harus bersiap menghadapi para pemberontak itu di tanah lapang di pinggir dusun. Supaya tidak menimbulkan kerusakan di Hargowilis ini. "Saya setuju dengan pendapatmu Nak, nanti biar anak perempuan dan anak-anak tinggal di dusun, yang laki-laki bersiap menghadapi pertempuran besok". "Oh ya Kakang Puspanidra, bolehkah saya pesan sesuatu?" tanya Adinata. "Apakah itu Adi, aku jadi penasaran?" Senopati Puspanidra keheranan. "Minta tolong untuk disampaikan kepada seluruh prajurit dan para pemuda agar besok sebelum maju berperang menyiapkan kapas untuk menutup telinga" pinta Adinata. "Baik Adi, nanti akan saya sampaikan" jawab senopati Puspanidra keheranan namun ia tidak bertanya lebih lanjut.

Setelah berbincang panjang lebar maka Adinata, Ki Gede Aryaguna dan Senopati Puspanidra segera bergerak untuk mempersiapkan segalanya untuk menghadapi pertarungan esok hari sesuai dengan rencana yang sudah dimusyawarahkan bersama.

Bersambung



0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts

Blog Archive

Diberdayakan oleh Blogger.
Copyright © Cerita Silat Harimau Merapi | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com