Pertarungan (Bagian 2)

Malam harinya datang seorang teliksandi Mataram ingin menghadap Senopati Puspanidra. Teliksandi itu diterima di teras rumah Ki Gede Aryaguna. Di teras telah ada Ki Gede Aryaguna, Senopati Puspanidra, serta Adinata. "Sampaikan laporanmu paman prajurit" kata Senopati Puyspanidra. "Daulat tuanku. saya ingin melaporkan bahwa gerombolan pemberontak berbondong-bondong menuju kemari, sepertinya akan melancarkan serangan esok pagi" lapor teliksandi. "Oh, begitu rupanya" Senopati Puspanidra mengangguk-angguk. Tidak kelihatan sama sekali raut muka gentar di wajahnya. "Bagaimana pendapat Ki Gede?" tanya Senopati Puspanidra. "Menurutku kita harus sudah bersiap sekarang. Beritahu prajurit dan para pemuda agar menyiapkan senjatanya masing-masing untuk pertempuran besok" berkata Ki Gede Aryaguna. "Kalau menurutmu bagaimana Dimas Adinata?" Senopati Puspanidra meminta pendapat Adinata. "Kalau menurutku selain kesiapan fisik mentalnya juga harus tetap dijaga. Mereka harus yakin bahwa kita akan memenangkan peperangan melawan gerombolan pemberontak ini" berkata Adinata panjang lebar. Benar sekali Dimas Adinata, untuk kesiapan fisik kita berdua bisa menanganinya, untuk kekuatan mental biar Ki Gede Aryaguna yang akan memberikan nasihat dan petuahnya".

Tidak berapa lama kemudian datanglah Ambarwati beserta nyi lastri membawa makanan dan minuman. Wedang sere hangat beserta singkong goreng dan kacang rebus menjadi makanan penunda lapar malam itu. Namun ada sesuatu yang agak aneh. Ambarwati yang biasanya ceria nampak diam seperti ada yang dikhawatirkan. Dan Adinatapun menyadarinya. "Ki Gede Aryaguna, bolehkah ananda mengobrol dengan Nimas Ambarwati, ada yang ingin kami bicarakan" Adinata meminta izin. "Silahkan Nak Adinata, Ambarwati hanya sedang mengkhawatirkan keadaanmu saja" berkata Ki Gede Aryaguna dengan bijaksana. "Terimakasih Ki Gede, mari Senopati, saya undur diri sebentar" pamit Adinata. "Oh ya, silahkan Dimas, hibur Nimas Ambarwati, sepertinya ia khawatir sekali dengan keselamatanmu" jawab Senopati Puspanidra. Adinatapun kemudian menyusul ambarwati menuju taman di samping rumah. Ki gede Aryaguna dan Senopati Puspanidrapun hanya geleng-geleng kepala dan tersenyum melihat tingkah polah dua insan lawan jenis yang sedang jatuh cinta itu.

Bersambung


0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts

Blog Archive

Diberdayakan oleh Blogger.
Copyright © Cerita Silat Harimau Merapi | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com