Cinta Bersemi di Hutan Pinus Mangunan (Bagian 5)

Esok paginya adinata, beserta paman gembul dan nyi lastri mohon pamit kepada kakek darma untuk mengunjungi Ambarwati di hutan pinus mangunan. "Kakek, kami bertiga mohon pamit ya, untuk mengunjungi nini wilis dan ambarwati ke hutan pinus mangunan, kami disana mungkin sekitar tiga hari" berkata adinata. "Baiklah anakku, kakek mengijinkan, semoga selamat sampai tujuan dan jangan lupa sampaikan salamku kepada nini wilis dan ambarwati" jawab kakek darma. "Terimakasih kakek, kami berangkat dulu, mohon doa restu agar kami selamat sampai tujuan dan dapat kembali tak kurang suatu apa" kata adinata sekali lagi. Ketiganya mencium tangan kakek darma kemudian berangkat menuju hutan pinus mangunan dengan hati riang gembira.

Ketiganya berjalan dengan riang gembira. Diperjalanan tidak henti-hentinya paman gembul melucu sehingga membuat adinata dan nyi lastri tertawa terpingkal-pingkal. Jalan yang dilaluipun lumayan rata, tidak berlumpur dan berlubang-lubang. Di tengah perjalanan paman gembul merasa haus dan kebetulan dipinggir jalan ada orang yang berjualan dawet. "Den, kita istirahat dulu yuk, sambil minum dawet" ajak paman gembul. Adinatapun mengiyakan, kebetulan ia juga haus. Ketiganya segera menghampiri seorang perempuan yang masih muda bersama suami dan anaknya yang berjualan dawet. "Dawetnya tiga gelas mbakyu" kata Adinata memesan dawet. "Baik den, silahkan duduk dulu lesehan di tikar yang beralaskan kepang bambu. 

Tidak berapa lama kemudian minuman dawet sudah siap. "Silahkan den, diminum dawetnya" kata mbakyu penjual dawet. "Terimakasih mbakyu, maaf kalau boleh tanya, hutan pinus mangunan masih jauh tidak ya, soalnya kami mau kesana?" tanya adinata. "Sudah dekat kok den, sekitar satu kilo dari sini, aden bertiga mau berwisata ya, soalnya disana kan tempatnya sangat indah?" tanya penjual dawet balik. "Tidak kok mbakyu, kami mau ke bertamu rumah nini wilis" jawab adinata. "Oh, kerumah nini wilis ya, dia orangnya sangat baik den, dan suka mengobati orang daerah sini yang sedang sakit" kata mbakyu penjual dawet. "Oh, begitu ya, terimakasih atas beritanya". Setelah membayar dawet ketiganya segera melanjutkan perjalanan menuju hutan pinus mangunan.

Bersambung


0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts

Blog Archive

Diberdayakan oleh Blogger.
Copyright © Cerita Silat Harimau Merapi | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com