Cinta Bersemi di Hutan Pinus Mangunan (Bagian 6)

Sekitar jam dua siang sampailah mereka bertiga di hutan pinus mangunan. Di sana terdapat rumah kecil sederhana namun tampak bersih. Suasananya tampak asri karena banyak bunga berwarna-warni yang tumbuh dalam pot di halaman rumah. Tampak Ambarwati sedang menyirami bunga di depan rumah. "Nimas ambarwati, kamukah itu" tanya adinata penasaran. Ambarwati kelihatan begitu cantik sekali. Mungkin karena sudah lama tidak bertemu, jadinya kangen sekali. "Iya kaakang, ini aku, kebapa heran, aku makin cantik ya" goda ambarwati sambil menyibakan rambutnya yang terurai. "Ah, nimas bisa saja" jawab adinata agak malu.

"Oh, ya kang mari silahkan duduk diteras, saya beritahu nini wilis dulu" kata ambarwati. "Kami tidak dipersilahkan duduk ini den ayu?" goda paman gembul. "Ah, tentu saja paman gembul, mbok lastri, silahkan" kata ambarwati mempersilahkan. Ambarwati kemudian masuk kedalam. Tidak berapa lama kemudian nini wilis muncul dari dalam menemui tamunya. "Oh, ini yang bernama adinata yang terkenal dengan julukan harimau merapi, ternyata kamu orangnya tampan dan gagah sekali, pantas saja tiap hari ambarwati tidak henti-hentinya menceritakan kisahmu" kata nini wilis. "Ah, nini wilis bisa saja, saya kan jadi malu" kata ambarwati yang muncul dari dalam dengan membawa teh hangat dan ubi rebus diatas baki dari dalam rumah. "Mari kakang, paman dan mbok lastri silahkan diminum dan dinikmati ala kadarnya" kata ambarwati menawarkan. "Terimakasih nimas" jawab adinata.

"Oh ya nini, ini ada oleh-oleh semur daging, sayur gudek dan sambal kerecek, kakek darma menyuruh nyi lastri memasak khusus untuk nini" kata adinata. "Oh, ternyata kakekmu masih ingat saja dengan apa yang aku sukai" kata nini wilis sambil tersenyum. "Kakek darma juga pesan bahwa ia selalu setia menunggu nini wilis di nglanggeran" berkata adinata lagi. "Terimakasih adinata, nanti kalau kamu kembali sampaikan padanya bahwa aku sebenarnya ingin sekali kembali ke nglanggeran, tapi kamu tahu sendiri kan sebenarnya permasalahannya apa" kata nini wilis lagi. "Iya nini, secepatnya akan saya selesaikan mempelajari ilmu dari orangtua nini, kalau bisa sampai tingkatan terakhir" kata adinata memberikan harapan. "Terimakasih Adinata, saya yakin kamu pasti bisa, saya sudah banyak mendengar tentang kisahmu, aku akan sangat bangga sekali jika kamu mewarisi ilmu dari ayahku, tentu ia akan sangat berbahagia di alam sana" kata nini wilis. "Aamiin, terimakasih nini" jawab Adinata.

Bersambung

0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts

Blog Archive

Diberdayakan oleh Blogger.
Copyright © Cerita Silat Harimau Merapi | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com