Menerima Tantangan (Bagian 3)

Setelah mereka bertiga selesai makan, kemudian bersih-bersih dilanjutkan beribadah di mushola, dan beristirahat Adinata melanjutkan perbincangan. "Nyi Lastri, ceritakan dengan serinci mungkin, kejadiannya seperti apa?" Adinata bertanya. "Tidak berapa lama setelah den nata pergi, tiba-tiba datanglah rombongan orang berkuda menuju kemari. Pemimpinnya yang bernama Ki Bangor bertanya dengan penuh amarah siapa pewaris ilmu sengatan lisitrik gunung api purba ciptaan Ki Wisesa. Ki Bangor berniat untuk melakukan adu ilmu kembali karena dulu kalah dalam pertarungan melawan Ki Wisesa. Nini wilis menjawab bahwa ia dan suaminya adalah pewarisnya. Namun ternyata ia kurang puas dengan jawaban nini wilis kemudian ia langsung berusaha meringkus nini wilis. Nini wilis melawan sekuat tenaga namun ia seolah tidak berdaya. Ki Bangor mempunyai jurus menyerap energi lawan dan memindahkan ketubuhnya. Ambarwati yang berusaha menolongpun bernasib sama.  Ki Bangor melihatku namun tidak berusaha untuk menangkapku. Ia cuma berpesan untuk mengingatkan den nata untuk bertarung pada bulan purnama besok di pantai watu kodok" nyi Lastri bercerita panjang lebar.

"Oh ya den, ini nini lastri sempat menitiupkan sesuatu untuk saya sampaikan kepada den nata" kata nyi lastri. "Apakah itu nyi, saya jadi penasaran?" tanya adinata. Nyi lastri tidak menjawab namun langsung mengeluarkan sarung tangan dengan warna persis seperti warna kulit manusia. Sehingga jika digunakan sama sekali tidak kelihatan jika mengenakkan sarung tangan. "Nini wilis berpesan agar den nata memakainya, terutama jika sedang berlatih ilmu silat ataupun sedang bertarung" nyi lastri menerangkan. "Baiklah nyi, sarung tangan ini saya terima dan akan saya gunakan sesuai amanah nini wilis" kata adinata sembari menerima pemberian sarung tangan pemberian nini wilis tersebut.

Setelah selesai mendengarkan cerita ketiganya segera bersiap-siap. "Kita mau kemana den?" tanya paman gembul. "Ini masih ada waktu dua pekan untuk berlatih sebelum bulan purnama, kita berlatih di nglanggeran saja dan kita menginap dirumahnya pak kerto dan mbok mirah" jawab Adinata. "Baik dan nata, saya setuju dengan pendapat den nata" sahut paman gembul. Mereka bertiga segera bergegas menuju nglanggeran dengan naik kuda.

Bersambung


0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts

Blog Archive

Diberdayakan oleh Blogger.
Copyright © Cerita Silat Harimau Merapi | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com