Menerima Tantangan (Bagian 7)

Adinata dan paman gembul segera mencari tempat duduk. Untungnya masih ada tempat kosong meskipun letaknya dipojok. Suasana warung makannya sangat nyaman, serasa makan di rumah sendiri. "Paman gembul kamu sudah tahu caranya memilih rumah makan belum?" tanya Adinata. "Apakah itu den nata?" jawab paman gembul. "Kalau kamu memilih rumah makan itu usahakan memilih warung makan yang ramai, soalnya kemungkinannya ada dua, pertama masakannya enak dan yang kedua harganya terjangkau" kata adinata. "Iya. betul sekali den nata, saya sangat setuju dengan pendapat aden" kata paman gembul mengiyakan perkataan adinata. Tidak berapa lama kemudian ada pelayan warung yang datang. "Mau makan apa den?" tanya pelayan warung. "Disini yang paling laris apa makananna?" tanya adinata. "Disini yang paling laris mangut lele sama oseng kembang pakis den" jawab pemilik warung. "Oh kalau begitu saya pesan itu saja dan minumnya wedang ronde, pesan dua porsi ya" kata adinata memesan makanan dan minuman. "Baik den, ditunggu sebentar" kata pelayan warung makan tersebut.

Adinata penasaran dengan banyaknya orang yang menuju pantai watu kodok. Iapun bertanya dengan seorang pemuda desa yang sedang mengobrol bersama teman-temannya sambil menunggu makanan siap dihidangkan. "Kakang, kalau boleh tahu, sepertinya banyak orang yang menuju pantai watu kodok memangnya disana ada acara apa ya?" tanya adinata dengan sopan. "Oh, memangnya aden tidak tahu, besok malam kan akan diadakan sayembara memilih calon suami buat putri ki bangor yang sangat terkenal akan kecantikannya, cuma syaratnya harus dapat mengalahkan putrinya tersebut karena konon katanya ilmunya sangat tinggi, dan kabarnya juga ki bangor menantang seseorang untuk bertarung melawannya, sepertinya dendam lama" jawab pemuda desa tersebut. "Oh begitu ya kakang, terimakasih ya atas beritanya. "Oh ya kakang, nanti biar aku yang bayar pesanan kakang dan teman-teman kakang, hitung-hitung sedikit berbagi" kata adinata. "Terimakasih sekali aden, bersyukur sekali ada yang traktir, karena sebenarnya kami cuma bawa bekal uang sedikit" jawab pemuda desa itu senang hatinya.

Bersambung

0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts

Blog Archive

Diberdayakan oleh Blogger.
Copyright © Cerita Silat Harimau Merapi | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com