Mengungsi ke Ledok Sambi (Bagian 2)

Pagi harinya Adinata beserta seluruh rombongan pamit kepada ki bangor. Maheswaripun ikut pamit karena mau mengikuti adinata berpetualang. Setelah menempuh perjalanan selama sekitar setengah hari dengan naik kuda sampailah mereka di dusun nglanggeran. Mereka langsung menuju rumah pak kerto dan mbok mirah. Nyi lastri senang sekali melihat anak asuhnya ambarwati baik-baik saja. Namun ia heran dengan adanya seorang perempuan cantik yang usianya sekitar dua tahun lebih muda dari ambarwati. "Maaf den nata, siapakah dia?" tanya nyi lastri masih canggung. "Dia nimas maheswari, sudah aku anggap seperti adik sendiri, nanti saya ceritakan ya bi lastri" ambarwati menjawab pertanyaan nyi lastri pengasuhnya. "Bi lastri, Perkenalkan nama saya maheswari" kata maheswari dengan sopan. "Saya bibi lastri, pengasuh nimas ayu ambarwati sejak kecil" jawab nyi lastri. Keduanya berjabat tangan.

"Mari silahkan masuk kedalam rumah, kebetulan istri saya sudah masak banyak untuk menyambut kedatangan kalian semua" kata pak kerto mempersilahkan dengan ramah. "Terimakasih pak kerto, maaf merepotkan" kata adinata. "Tidak apa-apa den nata, justru saya sangat senang ada banyak tamu yang berkenan mampir ke gubuk saya" jawab pak kerto.

Tidak berapa lama kemudian, datanglah serombongan tukang kayu yang sudah membawa peralatan dan bahan bangunan. Rupanya rombongan tukang itu adalah orang suruhan ki bangor. "Oh ya kakek darma, nini wilis, saya mewakili bopo saya memohon maaf atas kekilafan kemarin, dan sebagai rasa penyesalan kami akan membangun rumah kakek darma dan nini wilis lebih baik lagi dari kemarin" kata maheswari mewakili ayahnya. "Terimakasih den ayu, sesama manusia harus saling memaafkan. Kami sudah ikhlas dan terimakasih jika kami mau dibuatkan tempat tinggal lagi" jawab nini wilis.

Ketika sedang berbincang-bincang tiba-tiba berdentum suara keras. Adinata yang penasaran langsung berlari menuju gunung api purba untuk melihat keadaan. Dari sana adinata dapat melihat dengan jelas bahwa gunung merapi sedang mengeluarkan awan panas. Khawatir dengan keadaan perguruan lereng merapi adinata langsung menuju rumah pak kerto untuk berpamitan. 

"Pak kerto, mbok mirah, serta kakek darma dan nini wilis mohon maaf sekali saya harus segera pergi, karena sekarang gunung merapi mengeluarkan awan panas, sejujurnya saya mengkhawatirkan keadaan perguruan lereng merapi, guru saya beserta saudara seperguruan saya yang lain" kata adinata. "Baiklah nak, apakah ada yang bisa kami bantu?" tanya kakek darma. "Terimakasih kakek, cukup doanya saja untuk keselamatan kami" kata adinata. "Baiklah adinata, saya doakan kamu selamat diperjalanan dan sampai disana dalam keadaan sehat tidak kurang suatu apa, dan semoga warga perguruan lereng merapi juga baik-baik saja" kakek darma dan nini wilis beserta pak kerto dan mbok mirah mendoakan adinata beserta rombongan. 

"Nimas ambarwati, kamu mau ikut aku ke lereng merapi atau mau kembali ke hargowilis?" tanya adinata. "Aku ikut kakang ke lereng merapi, karena aku belum pernah kesana" jawab ambarwati. "Kalau kamu bagaimana paman gembul, mau pulang ke hargowilis atau ikut kami ke lereng merapi" tanya adinata. "Saya dan nyi lastri akan ikut den nata dan den ayu ambarwati ke lereng merapi" kata paman gembul.

Bersambung

0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts

Blog Archive

Diberdayakan oleh Blogger.
Copyright © Cerita Silat Harimau Merapi | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com