Harimau Merapi Mengaum di Pantai Watu Kodok (Bagian 3)

Setelah mereka bertiga selesai makan, kemudian bersih-bersih dilanjutkan beribadah di mushola, dan beristirahat Adinata melanjutkan perbincangan. "Nyi Lastri, ceritakan dengan serinci mungkin, kejadiannya seperti apa?" Adinata bertanya. "Tidak berapa lama setelah den nata pergi, tiba-tiba datanglah rombongan orang berkuda menuju kemari. Pemimpinnya yang bernama Ki Bangor bertanya dengan penuh amarah siapa pewaris ilmu sengatan lisitrik gunung api purba ciptaan Ki Wisesa. Ki Bangor berniat untuk melakukan adu ilmu kembali karena dulu kalah dalam pertarungan melawan Ki Wisesa. Nini wilis menjawab bahwa ia dan suaminya adalah pewarisnya. Namun ternyata ia kurang puas dengan jawaban nini wilis kemudian ia langsung berusaha meringkus nini wilis. Nini wilis melawan sekuat tenaga namun ia seolah tidak berdaya. Ki Bangor mempunyai jurus menyerap energi lawan dan memindahkan ketubuhnya. Ambarwati yang berusaha menolongpun bernasib sama.  Ki Bangor melihatku namun tidak berusaha untuk menangkapku. Ia cuma berpesan untuk mengingatkan den nata untuk bertarung pada bulan purnama besok di pantai watu kodok" nyi Lastri bercerita panjang lebar.

"Oh ya den, ini nini lastri sempat menitiupkan sesuatu untuk saya sampaikan kepada den nata" kata nyi lastri. "Apakah itu nyi, saya jadi penasaran?" tanya adinata. Nyi lastri tidak menjawab namun langsung mengeluarkan sarung tangan dengan warna persis seperti warna kulit manusia. Sehingga jika digunakan sama sekali tidak kelihatan jika mengenakkan sarung tangan. "Nini wilis berpesan agar den nata memakainya, terutama jika sedang berlatih ilmu silat ataupun sedang bertarung" nyi lastri menerangkan. "Baiklah nyi, sarung tangan ini saya terima dan akan saya gunakan sesuai amanah nini wilis" kata adinata sembari menerima pemberian sarung tangan pemberian nini wilis tersebut.

Setelah selesai mendengarkan cerita ketiganya segera bersiap-siap. "Kita mau kemana den?" tanya paman gembul. "Ini masih ada waktu dua pekan untuk berlatih sebelum bulan purnama, kita berlatih di nglanggeran saja dan kita menginap dirumahnya pak kerto dan mbok mirah" jawab Adinata. "Baik dan nata, saya setuju dengan pendapat den nata" sahut paman gembul. Mereka bertiga segera bergegas menuju nglanggeran dengan naik kuda.

Bersambung


Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Harimau Merapi Mengaum di Pantai Watu Kodok (Bagian 2)

"Bagaimana ini paman gembul, apa pendapatmu?" tanya Adinata. Paman gembul sebenarnya juga mengkhawatirkan nasib ambarwati dan terutama istrinya, nyi lastri. "Den nata, bagaimana kalau kita ke hutan pinus dulu, untuk memastikan keadaaan, baru setelah itu kita rencanakan lebih lanjut" kata paman gembul bijaksana. "Baiklah paman, aku ikuti saranmu, marilah kita segera ke hutan pinus. Biar cepat, kita naik kuda saja" kata Adinata. "Baiklah den nata, saya akan pergi sebentar untuk mencari kuda yang boleh disewa" kata paman gembul. "Tidak usah sewa paman, ini aku ada uang, belilah dua kuda yang sehat dan kuat" kata Adinata. "Baiklah den nata" jawab paman gembul. Paman gembul segera menuju ke dusun nglanggeran untuk membeli kuda, kemudian tidak berapa lama kemudian sudah kembali ke gunung api purba nglanggeran tempat adinata menunggunya.

Keduanya segera bergegas naik kuda dengan kencang menuju ke hutan pinus mangunan. Setelah sampai disana betapa terkejutnya adinata dan paman gembul. Rumah nini wilis yang indah juga telah rata dengan tanah. Tiba-tiba datang nyi lastri yang tiba-tiba muncul dari balik pohon pinus. "Kakang gembul, kaukah itu, aku takut sekali" kata nyi lastri masih ketakutan. "Tenanglah dik, syukur kamu tidak apa-apa" nanti kita bicarakan pelan-pelan jawab paman gembul. "Iya mbok lastri, tenanglah" kata adinata. Adinata sendiripun sebenarnya sangat mengkhawatirkan keadaan ambarwati dan ingin bertanya kepada nyi lastri, akan tetapi ia menahan diri menunggu waktu yang pas.

"Paman gembul, kita sebaiknya beristirahat, membersihkan badan, dan makan dulu. Mari kita ke warung yu sum" ajak adinata. "Terimakasih den nata, tahu saja kalau saya sedang lapar" kata paman gembul. Nyi Lastri tersenyum melihat tingkah suaminya. "Maafkan suami saya ya den, dia memang orangnya suka gitu, malu-maluin" kata nyi lastri. "Ha ha ha, tenang saja mbok, saya sudah hafal betul dengan sifat paman gembul" kata adinata.

Bersambung


Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Harimau Merapi Mengaum di Pantai Watu Kodok (Bagian 1)

Adinata dan paman gembul berjalan dengan santai saat kembali ke nglanggeran. Setelah kira-kira setengah hari sampailah mereka berdua di bukit nglanggeran. Namun betapa terkejutnya mereka berdua, rumah sederhana kakek darma sibocah sakti sudah hancur berantakan rata dengan tanah. Terdapat juga sisa-sisa bekas pertarungan yang dahsyat. Pohon-pohon seperti terbakar. Sepertinya kakek darma sempat menggunakan jurus sengatan listrik gunung api purba untuk menghadapi lawan. Terdapat bekas jejak kaki yang banyak sekali sepertinya yang datang adalah satu gerombolan. Adinata khawatir sekali dengan kakek darma, ia segera membersihkan sisa-sisa reruntuhan rumah untuk mencari petunjuk. Setelah sekian lama mencari, ia menemukan buku panduan jurus sengatan listrik gunung api purba. 

Adinata segera memeriksa sekeliling rumah kakek darma, Di sebuah pohon besar di depan rumah, ia menemukan secarik kertas yang sengaja ditempelkan untuk memberi pesan. Adinata segera membaca pesan tersebut.

Adinata

Jika kamu ingin calon istrimu ambarwati selamat, kamu harus melawanku dengan jurus sengatan listrik gunung api purba. Oh ya, si bocah bengek dan istrinya turut aku bawa serta. Temui aku di pantai watu kodok saat malam bulan purnama.

Persiapkan dirimu, jangan buat aku kecewa.

Ki Bangor

Bersambung

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Cinta Bersemi di Hutan Pinus Mangunan (Bagian 8)

Setelah makan siang selesai, kemudian mereka berempat kembali kerumah nini wilis di hutan pinus mangunan. Selama kurang lebih tiga hari Adinata menginap di rumah nini wilis. Selama tiga hari itu ambarwati dan adinata sangat bahagia sekali. Mereka terlihat sering bersenda gurau terkadang serius. Waktu mereka sering dihabiskan bersama menikmati keindahan hutan pinus mangunan. Setelah tiga hari adinata mohon pamit kepada nini wilis untuk kembali ke gunung api purba nglanggeran. "Nini, kami bertiga mohon pamit akan kembali ke nglanggeran". "Baiklah adinata, saya izinkan kamu kembali ke nglanggeran. jangan lupa dengan janjimu. Dan ini ada sedikit oleh-oleh, tolong kamu berikan pada kakek darma" jawab nini wilis. "Kakang, kalau boleh, aku ingin ditemani mbok lastri disini" kata ambarwati merajuk. "Bagaimana paman gembul, apakah kamu mengizinkan?" tanya adinata. "Saya mengijinkan den nata asal dik lastri bersedia" kata paman gembul. "Bagaimana mbok, mau kan menemainiku disini?" tanya ambarwati. "Iya den ayu, saya bersedia" jawab nyi lastri mantap. "Baiklah kalau sudah sepakat, kakang sama paman gembul pamit, nini, sekali lagi kami mohon pamit, mohon maaf jika selama disini kami banyak berbuat salah" pamit adinata sekali lagi. "Iya, adinata, doa nini wilis menyertaimu, semoga selamat sampai tujuan" jawab nini wilis. 

Bersambung

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Cinta Bersemi di Hutan Pinus Mangunan (Bagian 7)

"Nini, bolehkah kami berdua berjalan-jalan?" tanya Ambarwati. "Boleh, silahkan, tapi pulangnya jangan terlalu sore" kata nini wilis. "Terimakasih nini" jawab ambarwati. "Den ayu, bolehkah saya dan istriku nyi lastri ikut jalan-jalan?" paman gembul memberanikan diri untuk ikut serta jalan-jalan. "Oh, boleh sekali, mari mbok, paman kita jalan-jalan. Ayo kakang" kata ambarwati. "Baiklah nimas, tapi terus terang aku masih lapar sehabis perjalanan jauh, bagaimana kalau kita cari tempat makan dulu" kata Adinata. "Baik kakang, nanti aku tunjukkan tempat makan yang paling terkenal disini.

"Wah, indah sekali tempat ini nimas" kata adinata kagum. Hutan Pinus Mangunan memang memiliki suasana yang dapat membuat pengunjung merasa damai, sangat asri, masih alami, serta dapat membuat hati tenang. Terdapat banyak deretan pohon pinus yang tumbuh subur di sepanjang hutan tersebut. "Mari kakang, kita duduk di kursi kayu sambil menikmati keindahan alam" ajak ambarwati. Setelah menikmati keindahan alam dengan duduk-duduk di kursi kayu tersebut, berempat mereka menaiki gardu pandang yang dibangun oleh penduduk desa. "Wah, kakang gembul, kita bisa leluasa ya melihat pemandangan sekitar hutan yang indah" kata nyi lastri kagum. "Iya dik, kita juga bisa melihat rindangya pepohonan yang masih hijau serta bukit-bukit yang masih terlihat asri dari jauh" kata paman gembul mengiyakan.

Setelah puas menikmati pemandangan alam ambarwati mengajak adinata dan pengasuhnya untuk makan siang. "Kakang, kita makan nasi tiwul lauk ayam goreng kampung yuk di warung makan mbok sum, disini sudah sangat terkenal lho" kata ambarwati. "Ah, aku sudah tak sabar makan ayam goreng" kata paman gembul kegirangan. "Maafkan suami hamba den ayu, dia memang suka gitu" kata nyi lastri agak malu melihat tingkah suaminya. "Tidak apa-apa mbok, justru aku suka orang yang apa adanya" jawab ambarwati.

Tidak berapa lama kemudian mereka berempat sudah sampai di warung makan mbok sum. Mereka segera memesan nasi tiwul dan ayam goreng menu spesial di tempat tersebut. Bahkan konon kabarnya banyak para pembesar kerajaan mataram yang sedang berwisata mampir di warung makan tersebut untuk sekedar santap siang. Mereka berempat menikmati menu yang disediakan dengan lahap. Ambarwati memilih gasebo sebagai tempat makan karena tempatnya nyaman dan tidak terlalu ramai.

Bersambung.

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Cinta Bersemi di Hutan Pinus Mangunan (Bagian 6)

Sekitar jam dua siang sampailah mereka bertiga di hutan pinus mangunan. Di sana terdapat rumah kecil sederhana namun tampak bersih. Suasananya tampak asri karena banyak bunga berwarna-warni yang tumbuh dalam pot di halaman rumah. Tampak Ambarwati sedang menyirami bunga di depan rumah. "Nimas ambarwati, kamukah itu" tanya adinata penasaran. Ambarwati kelihatan begitu cantik sekali. Mungkin karena sudah lama tidak bertemu, jadinya kangen sekali. "Iya kaakang, ini aku, kebapa heran, aku makin cantik ya" goda ambarwati sambil menyibakan rambutnya yang terurai. "Ah, nimas bisa saja" jawab adinata agak malu.

"Oh, ya kang mari silahkan duduk diteras, saya beritahu nini wilis dulu" kata ambarwati. "Kami tidak dipersilahkan duduk ini den ayu?" goda paman gembul. "Ah, tentu saja paman gembul, mbok lastri, silahkan" kata ambarwati mempersilahkan. Ambarwati kemudian masuk kedalam. Tidak berapa lama kemudian nini wilis muncul dari dalam menemui tamunya. "Oh, ini yang bernama adinata yang terkenal dengan julukan harimau merapi, ternyata kamu orangnya tampan dan gagah sekali, pantas saja tiap hari ambarwati tidak henti-hentinya menceritakan kisahmu" kata nini wilis. "Ah, nini wilis bisa saja, saya kan jadi malu" kata ambarwati yang muncul dari dalam dengan membawa teh hangat dan ubi rebus diatas baki dari dalam rumah. "Mari kakang, paman dan mbok lastri silahkan diminum dan dinikmati ala kadarnya" kata ambarwati menawarkan. "Terimakasih nimas" jawab adinata.

"Oh ya nini, ini ada oleh-oleh semur daging, sayur gudek dan sambal kerecek, kakek darma menyuruh nyi lastri memasak khusus untuk nini" kata adinata. "Oh, ternyata kakekmu masih ingat saja dengan apa yang aku sukai" kata nini wilis sambil tersenyum. "Kakek darma juga pesan bahwa ia selalu setia menunggu nini wilis di nglanggeran" berkata adinata lagi. "Terimakasih adinata, nanti kalau kamu kembali sampaikan padanya bahwa aku sebenarnya ingin sekali kembali ke nglanggeran, tapi kamu tahu sendiri kan sebenarnya permasalahannya apa" kata nini wilis lagi. "Iya nini, secepatnya akan saya selesaikan mempelajari ilmu dari orangtua nini, kalau bisa sampai tingkatan terakhir" kata adinata memberikan harapan. "Terimakasih Adinata, saya yakin kamu pasti bisa, saya sudah banyak mendengar tentang kisahmu, aku akan sangat bangga sekali jika kamu mewarisi ilmu dari ayahku, tentu ia akan sangat berbahagia di alam sana" kata nini wilis. "Aamiin, terimakasih nini" jawab Adinata.

Bersambung

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Cinta Bersemi di Hutan Pinus Mangunan (Bagian 5)

Esok paginya adinata, beserta paman gembul dan nyi lastri mohon pamit kepada kakek darma untuk mengunjungi Ambarwati di hutan pinus mangunan. "Kakek, kami bertiga mohon pamit ya, untuk mengunjungi nini wilis dan ambarwati ke hutan pinus mangunan, kami disana mungkin sekitar tiga hari" berkata adinata. "Baiklah anakku, kakek mengijinkan, semoga selamat sampai tujuan dan jangan lupa sampaikan salamku kepada nini wilis dan ambarwati" jawab kakek darma. "Terimakasih kakek, kami berangkat dulu, mohon doa restu agar kami selamat sampai tujuan dan dapat kembali tak kurang suatu apa" kata adinata sekali lagi. Ketiganya mencium tangan kakek darma kemudian berangkat menuju hutan pinus mangunan dengan hati riang gembira.

Ketiganya berjalan dengan riang gembira. Diperjalanan tidak henti-hentinya paman gembul melucu sehingga membuat adinata dan nyi lastri tertawa terpingkal-pingkal. Jalan yang dilaluipun lumayan rata, tidak berlumpur dan berlubang-lubang. Di tengah perjalanan paman gembul merasa haus dan kebetulan dipinggir jalan ada orang yang berjualan dawet. "Den, kita istirahat dulu yuk, sambil minum dawet" ajak paman gembul. Adinatapun mengiyakan, kebetulan ia juga haus. Ketiganya segera menghampiri seorang perempuan yang masih muda bersama suami dan anaknya yang berjualan dawet. "Dawetnya tiga gelas mbakyu" kata Adinata memesan dawet. "Baik den, silahkan duduk dulu lesehan di tikar yang beralaskan kepang bambu. 

Tidak berapa lama kemudian minuman dawet sudah siap. "Silahkan den, diminum dawetnya" kata mbakyu penjual dawet. "Terimakasih mbakyu, maaf kalau boleh tanya, hutan pinus mangunan masih jauh tidak ya, soalnya kami mau kesana?" tanya adinata. "Sudah dekat kok den, sekitar satu kilo dari sini, aden bertiga mau berwisata ya, soalnya disana kan tempatnya sangat indah?" tanya penjual dawet balik. "Tidak kok mbakyu, kami mau ke bertamu rumah nini wilis" jawab adinata. "Oh, kerumah nini wilis ya, dia orangnya sangat baik den, dan suka mengobati orang daerah sini yang sedang sakit" kata mbakyu penjual dawet. "Oh, begitu ya, terimakasih atas beritanya". Setelah membayar dawet ketiganya segera melanjutkan perjalanan menuju hutan pinus mangunan.

Bersambung


Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Cinta Bersemi di Hutan Pinus Mangunan (Bagian 4)

Beberapa hari kemudian Adinata telah menerima surat balasan dari Ambarwati. Tadi sore kakek darma sehabis berlatih memberikan surat itu kepadanya.

Kakang adinata

Terimakasih ya kakang telah mau membalas suratku. Jujur saja aku sangat senang setelah membaca surat balasanmu. Aku jadi tak sabar ingin bertemu. Oh ya, aku sudah minta ijin sama nini wilis agar memperbolehkan kakang adinata beserta paman gembul dan mbok lastri untuk menjengukku. Dan ternyata nini wilis sangat baik hati, ia mengijinkan kakang, cuma mengingatkan agar kakang tidak lupa akan janji untuk menyelesaikan mempelajari ilmu warisan dari orangtua nini wilis. Kakang juga diijinkan untuk menginap beberapa hari di sini. Sudah, itu dulu ya kakang, aku tunggu kedatanganmu di hutan pinus mangunan.

Salam sayang dan kangen dariku

Ambarwati

Adinatapun tersenyum-senyum seperti anak kecil. Kemudian ia segera bergegas menemui kakek darma. "Kakek ada yang ingin aku sampaikan" berkata adinata. "Ada apa anakku adinata?" tanya kakek darma. Sebenarnya ia sudah mengetahui arah pembicaraan adinata namun ia pura-pura tidak tau. "Bolehkan jika saya beserta paman gembul dan nyi lastri menjenguk nimas ambarwati di hutan pinus mangunan untuk beberapa hari?" tanya Adinata memberanikan diri. "Boleh sekali anakku, sampaikan salamku pada nini wilis ya, bilang aku selalu setia menunggunya disini" kata kakek darma. "Baiklah kakek, nanti akan saya sampaikan" jawab Adinata. "Oh ya, kalian berangkatnya besok pagi saja, dan tolong nyi lastri untuk membuat masakan yang enak-enak buat oleh-oleh, nini wilis paling suka semur daging, sayur gudek dan sambal kerecek" pesan kakek darma. "Baiklah kakek, semua petuah dan pesan kakek, insyaaloh akan kami laksanakan" jawab adinata. Tidak berapa lama kemudian adinata segera memberitahu paman gembul dan nyi lastri untuk bersiap-siap mengunjungi ambarwati di hutan pinus mangunan esok pagi.

Bersambung

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Cinta Bersemi di Hutan Pinus Mangunan (Bagian 3)

Tidak jauh dari gunung api purba nglanggeran, Ambarwati berharap-harap cemas suratnya akan dibalas oleh Adinata. Sepanjang hari ia mondar-mandir kesana kemari tanpa ada tujuan pasti. Nini wilis yang pernah muda maklum dengan apa yang sedang dialami ambarwati. Iapun berusaha menenangkan. "Ambarwati anakku, tenanglah, aku tahu apa yang sedang engkau pikirkan. pasti kamu sedang gelisah menunggu surat balasan dari Adinata calon suamimu bukan?" tanya Nini Wilis. "Ia nini, aku sebenarnya agak cemas karena aku telah mengutarakan perasaanku lebih dahulu, apa tanggapannya nanti" jawab Ambarwati. "Tenanglah Nduk, aku yakin Adinata akan memahami semua yang engkau pikirkan dan sampaikan lewat surat, tunggu saja, pasti nanti sebentar lagi ada kurid datang dari nglanggeran" hibur nini wilis. 

Dan benar saja, tidak berapa lama kemudian datang seorang kurir membawa surat balasan dari adinata. Tak sabar ambarwati menerima surat dari kurir tersebut kemudia ia segera bergegas masuk kamar membaca surat balasan dari Adinata. Nini wilispun geleng-geleng kepala melihat tingkah laku ambarwati namun ia bisa memakluminnya. Ambarwati membacasurat adinata dengan riang gembira. Bahkan iamenjadi senyum-senyum sendiri. Ternyata apa yang dipikirkan adinata sama dengan yang ia pikirkan. Tidak berapa lama kemudian ia keluar dari kamar dan menemui nini wilis. 

"Tadi sedih, sekarang gembira, ada apa nduk cah ayu?" tanya nini wilis. "Nini, bolehkah aku bertanya?" tanya ambarwati sedikit ragu-ragu. "Bertanyalah, apa yang ingiun kamu ketahui" jawab nini wilis. "Kakang adinata, beserta paman gembul dan nyi lastri ingin menjenguk kemari karena khawatir akan keadaanku. Bolehkah mereka datang kemari nini?" tanya ambarwati. "Boleh saja, bahkan mereka saya ijinkan kalau mau menginap beberapa hari disini. Tapi saya ingatkan sekali lagi, ia harus mampu menguasai jurus sengatan listrik gunung api purba ciptaan orangtuaku agar adinata bisa membawamu pulang ke kalibiru" jawab nini wilis. "Terimakasih nini, aku dan kakang adinata tentu tidak akan pernah melupakan janji itu, sekali lagi terimakasih banyak" ucap ambarwati riang. "Sama-sama nduk, ini semua aku lakukan hanyalah semata-mata agar ilmu peninggalan orangtuaku ada yang mewarisi, apalagi seorang pendekar hebat seperti adinata, tentu akan membuatku sangat bangga.

Bersambung.

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Cinta Bersemi di Hutan Pinus Mangunan (Bagian 2)

Adinatapun mulai menulis surat balasan sambil sesekali ia membaca ulang surat dari Ambarwati sambil tersenyum sendirian. Kakek dara, paman gembul serta nyi lastri dibuat geleng-geleng dibuatnya.

Untuk Nimas Ambarwati

Nimas Ambarwati, alhamdulilah kakang di sini baik-baik saja. Kakang disini ditemani sama paman gembul dan nyi lastri. Kakek darma juga baik sekali orangnya. Sekarang saya sudah menguasai tingkatan pertama dari jurus sengatan listrik gunung api purba dan kakang tidak menemui kesulitan yang berarti. Doakan kakang bisa menyelesaikan belajarnya dengan cepat dan kita bisa cepat bersatu kembali. Oh ya Nimas, tolong tanyakan pada nini wilis apakah aku diijinkan mengunjungimu di hutan pinus mangunan, terus terang aku sangat ingin menemuimu walaupun cuma sebentar untuk mengobati rasa kangenku.

Salam rindu dan sayang

Adinata

Setelah selesai menulis surat ia segera menyerahkannya kepada kakek darma. "Kek, tolong disampaikan suratku ini ke Nimas Ambarwati ya" kata Adinata. "Baiklah Adinata nanti biar disampaikan sama kurir yang aku percaya". Tiga hari sekali ia selalu datang kemari. "Terimakasih sekali kakek" Adinata berterimakasih. 

Bersambung


Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Cinta Bersemi di Hutan Pinus Mangunan (Bagian 1)

Ketika sedang beristirahat, Adinata tidak sabar membaca surat dari Ambarwati. "Makan siang dulu Den Nata" kata paman gembul sedikit menggoda Adinata yang sedang asyik membaca. "Kamu duluan paman, saya belum lapar" kata Adinata. "Lapar atau sudah tak sabar baca surat dari den ayu?" kata nyi lastri menggoda. "Ah, bibi bisa saja" jawab adinata tersipu malu. Pipinya menjadi kemerahan. "Sudah jangan diganggu, mari kita makan terlebih dahulu" ajak kakek darma. "Baik kek" jawab paman gembul.

Untuk kakang Adinata

Kakang, bagaimana kabarnya, aku disini baik-baik saja. Sekarang aku sedang dalam masa penyembuhan. Aku kamngen sekali sama kamu kakang, meskipun baru beberapa minggu kita tidak bertemu. Oh ya, kamu yang rajin berlatih ya kakang, segera kuasai ilmu dari orangtua Nini Wilis, biar kita cepat bersatu kembali.

Salam Sayang, Ambarwati

Adinata senyum-senyum sendiri setelah membaca surat dari Ambarwati. Kakek darma beserta paman gembul dan nyi lastri cuma bisa tersenyum-senyum saja. mereka maklum anak muda yang sedang dimabuk asmara. Adinatapun bergegas mengambil pena. Ia tak sabar mau membuat surat balasan untuk ambarwati

Bersambung


Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Menemui bocah sakti ke gunung api purba nglanggeran (bagian 8)

Pagi harinya Adinata berlatih bersama kakek darma. "Adinata, sebelum kamu mempelajari jurus sengatan listrik gunung api purba, kamu lihatlah peragaan jurus itu dulu" kata kakek darma. "Baiklah guru" jawab Adinata. Kakek darma segera bersiap-siap mengeluarkan ilmu puncak jurus sengatan listrik gunung api purba. Kakek darma membuat gerakan-gerakan yang aneh dimata adinata. Namun tidak berapa lama kemudian badan kakek darma seperti berkilat-kilat dan seperti dipenuhi aliran listrik. Tiba-tiba ditangannya seolah olah muncul api kecil. Kemudian dengan tangannya ia seolah-olah membuat api kecil itu menjadi sebuah bola kecil yang makin lama makin besar menjadi sebesar buah kelapa. Lalu ia melontarkan bola api kecil itu ke dinding bukit dan terjadilah ledakan besar, terbentuk lobang besar didinding bukit dan menghitam karena panasnya.

Adinata terkagum-kagum melihatnya. "Nah kamu sudah melihat kadahsyatan jurus ini, namun kamu perlu tahu, saya belum menguasai secara penuh ilmu ini karena ada dua bab terakhir yang belum dapat aku selesaikan hingga kini" berkata kakek darma sambil menunjukan sebuah buku jurus sengatan listrik gunung api purba. Nah kamu pelajarilah ini sambil kita berlatih bersama" berkata kakek darma panjang lebar. "Baiklah guru, saya berjanji akan berlatih sungguh-sungguh, supaya dapat segera menguasai jurus ini" jawab Adinata dengan mantap. "Bagus Adinata, saya yakin dengan kemampuanmu, kamu akan dapat menguasai jurus ini dengan cepat. 

"Oh ya Adinata, ada kabar yang ingin aku sampaikan kepadamu" kata kakek darma. "Apakah itu guru?' tanya Adinata penasaran. "Saya telah mengirim kurir ke hutan pinus di mangunan untuk memberitahukan tentang kedatanganmu. Nini Wilis dan Ambarwati sangat senang sekali. Dan Ambarwati menuliskan surat ini untukmu" kata kakek darma sambil menyerahkan sebuah surat yang ditulis di kertas yang indah warna warni. "Terimakasih sekali kakek, kakek tahu saja tentang anak muda" jawab Adinata berseri-seri sembari menerima surat dari Ambarwati. "Bocah sakti gitu loh" jawab kakek darma sambil bercanda.

Bersambung

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Menemui bocah sakti ke gunung api purba nglanggeran (bagian 7)

Tidak berapa lama kemudian makanan dan minuman sudah siap. Nyi Lastri segera menyajikannya ke teras rumah. "Mari silahkan dinikmati" Nyi Lastri mempersilahkan Kakek Darma dan Adinata beserta paman gembul untuk menikmati makanan dan minuman yang sudah tersaji. "Mari Nak, kita bercerita sambil makan, kamu juga nyi lastri, mari kita makan bersama" Kakek Darma mempersilahkan. "Terimakasih kakek, saya nanti makan di dalam saja" jawab Nyi Lastri. Kakek Darma bersama Adinata dan paman gembul segera menikmati hidangan yang telah disediakan dengan lahapnya. "Wah, kamu pintar memasak sekali Nyi" puji kakek darma. "Terimakasih kakek, nanti saya buatkan lagi hidangan yang lebih enak" kata Nyi Lastri bangga masakannya dipuji. 

"Kek, tempat ini nyaman dan indah sekali, kalau boleh tahu, kenapa tempat ini bisa dinamakan gunung api purba nglanggeran, padahal setahu saya ini hanyalah perbukitan biasa saja?" bertanya Adinata. "Setau kakek, Gunung Nglanggeran berasal dari Gunung api dasar laut yang terangkat dan kemudian menjadi daratan jutaan tahun lalu. Gunung ini memiliki bebatuan besar yang menjulang tinggi sehingga biasanya digunakan sebagai jalur pendakian dan tempat untuk pertapaan warga.Puncak gunung tersebut adalah Gunung Gedhe di ketinggian sekitar 700 meter dari permukaan laut, dengan luas kawasan pegunungan mencapai 48 hektar" oh begitu ceritanya kek, saya baru tahu.

"Kek, kalau boleh saya tanya, kakek mempunyai bahan makanan banyak sekali darimana kek, apakah kakek membelinya?" tanya nyi lastri penasaran. "Tidak nak, orang-orang kampung yang ngasih. Kebetulan kakek suka mengobati orang yang sakit dan mereka memberi kakek bahan makanan, dan kakek suruh menaruh di dapur" jawab kakek darma. "Oh, begitu kek ceritanya, saya baru paham" kata nyi lastri sambil manggut-manggut.

"Kek, mohon maaf sebelumnya, bisakah kakek menceritakan tentang nasib nimas ambarwati sekarang?" tanya Adinata. "Ha ha ha, kamu memang calon suami yang baik, begitu menghawatirkan calon istrinya" kakek darma tertawa. Adinata sebenarnya heran darimana kakek darma tahu bahwa ia calon suami dari ambarwati. namun ia tidak bertanya lebih lanjut."Ketahuilah nak, saat ini nimas ambarwati sedang dalam proses penyembuhan. Tapi ia tidak berada disini, tapi ditempat nini wilis, istriku, ia sekarang bertempat tinggal di hutan pinus, di wilayah mangunan sana". Kakek darma menjelaskan panjang lebar. "Jauhkah tempatnya kakek, kami akan kesana" kata Adinata. "Tempatnya sebenarnya tidak jauh, hanya sekitar setengah hari dari sini. Namun percuma jika kalian kesana, ia pasti tidak akan mau menanggapi" kata kakek darma. "Kenapa kakek, kalau kami boleh tahu?" tanya adinata.

"Ia sebenarnya sedang marah denganku, makanya ia pergi ke rumah saudaranya di hutan pinus. Ia sudah bilang tidak akan menyerahkan ambarwati kepada siapapun sebelum aku mampu memenuhi syarat darinya" berkata kakek darma. "Syarat apakah itu, siapa tahu kami bisa membantu?" tanya Adinata. "Untuk kalian ketahui, mertuaku adalah seorang pendekar hebat yang telah tiada. Ia terkenal dengan ilmunya jurus sengatan listrik gunung api purba. Dan aku sudah menguasainya, namun belum tuntas. Nini wilis memintaku untuk mencari seorang murid yang mampu menguasai jurus itu baru ia mau menyerahkan ambarwati dan kembali kepadaku. Ambarwatipun sudah mengetahui syarat itu dan iapun tidak berkeberatan karena yakin kamu bakal bisa menguasainya. Nah pertanyaannya adinata, apakah kamu sanggup belajar jurus sengatan listrik gunung api purba dan membantuku agar nini wilis bersedia pulang kerumah?" tanya Kakek darma. "Saya sanggu pkek, saya akan mematuhi semua nasihat kakek" jawab Adinata dengan mantap. "Baguslah, kita bisa mulai berlatih besok" Kakek darma puas dengan jawaban Adinata.

Bersambung

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Menemui bocah sakti ke gunung api purba nglanggeran (bagian 6)

Adinata dan paman gembul beserta nyi lastri bergegas menuju gunung api purba nglanggeran, jaraknya dari dusun nglanggeran tidak begitu jauh. Setelah sekitar satu jam berjalan kaki akhirnya tibalah mereka bertiga ke puncak gunung api purba nglanggeran. Di puncak gunung nampak ada sebuah rumah sederhana berdinding gedek bambu dan beratapkan daun jerami.

Di depan rumah nampak seorang kakek-kakek yang berpakaian aneh seperti layaknya anak kecil. Melihat kedatangan Adinata, paman gembul dan nyi lastri, orang itu nampak terkejut. "hai anak muda, ada apa kalian kemari?" tanya kakek itu. "Kami sedang mencari kawan kami, Nimas Ambarwati, apakah kakek tahu?" bertanya Adinata. "Oh, aku tahu tentang gadis itu, aku akan memberitahu tapi ada syaratnya" kata kakek itu. 

"Mari kesini, duduklah dulu" kakek-kakek itu mempersilahkan tamunya untuk duduk di lincak bambu. "Terimakasih kakek" jawab Adinata beserta paman gembul dan nyi lastri. "Perkenalkan, saya Adinata, dan ini kawan saya paman gembul dan nyi lastri" kata Adinata memperkrnalkan diri. "Hmm, saya sebenarnya sudah tahu siapa kalian dan maksud kalian datang kemari" kata kakek-kakek itu. "Perkenalkan namaku Darma, dan orang-orang banyak memanggilku bocah sakti, mungkin karena pakaianku ini ya" Kakek Darma memperkenalkan diri. "Terus, bagaimana kabar Nimas Ambarwati sekarang kek, kami sangat khawatir?" tanya Adinata tidak sabar.

"Tenang-tenang, kita nanti bisa bercerita panjang lebar, Nyi Lastri, apakah kamu bisa membuatkan sekedar makanan dan minuman hangat untuk kami, di dapur sudah ada bahan-bahannya, tinggal dimasak saja" berkata Kakek Darma. "Bisa kek, saya akan segera mempersiapkannya. Nyi Lastri segera memasuki rumah dan menuju ke dapur. Rumah kakek darma cukup sederhana namun sangat bersih. Nyi Lastri segera menuju kedapur. Ternyata bahan-bahan untuk memasak sangat lengkap. Nyi lastri segera memasak dengan cekatan.

Bersambung
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Menemui Bocah Sakti Ke Gunung Api Purba Nglanggeran (bagian 5)

Paginya Adinata, paman gembul dan nyi lastri berbincang-bincang dengan suami mbok mirah, pak kerto. "Sebenarnya, aden-aden dan nyai ini mau pergi kemana?" tanya pak kerto. "Kami sedang mencari seorang kakek dengan julukan Si Bocah Sakti, kabarnya ia bertempat tinggal di Gunung Api Purba Nglanggeran, apakah bapak tahu?" tanya Adinata. "Oh, kamu mau bertemu dengan kakek penunggu gunung purba, ia memang rada-rada aneh tapi ia seorang yang sangat baik hati. Ia suka mengobati orang yang sedang sakit" jawab pak kerto. "Anehnya bagaimana bapak, kami jadi penasaran?" tanya Adinata penasaran. "Ia memang suka menolong, tapi ia seperti anak kecil yang harus dibujuk dulu. Sudahlah nanti kamu juga tahu" jawab pak kerto panjang lebar. "Oh, begitu pak, gunung api purba nglanggeran dari sini masih jauh tidak?" bertanya lagi Adinata. "Sudah dekat nak, itu gunungnya kelihatan" jawab pak kerto sambil menunjuk sebuah perbukitan kapur. "Terimakasih bapak, kami akan segera menuju kesana, kami mohon pamit dulu" kata Adinata. 

"Eh, sarapan dulu den, ini sudah simbok persiapkan" tiba-tiba mbok mirah muncul dari dapur. "Eh, terimakasih mbok, kami takut merepotkan" jawab Adinata berbasa-basi. "Den, sarapan dulu ya" berkata paman gembul penuh harap. "Hus, malu-maluin saja kamu paman" kata Adinata. "Tidak merepotkan, kami malah senang sekali, mari kita sarapan bersama-sama" ajak pak kerto. Kali ini adinata tidak bisa menolak. Karena lapar, mereka bertiga makan dengan lahap. Pak kerto dan mbok mirahpun senang tamunya mau menikmati hidangan ala kadarnya. "Terimakasih pak kerto, mbok mirah, kami mau menemui kakek penunggu gunung api purba nglanggeran, kami mau mencari kabar saudara kami Nimas Ambarwati" pamit Adinata. "Iya, silahkan denm hati-hati, saya doakan semoga maksudnya tercapai, dan jangan lupa mampir kemari, pintu rumah kami selalu terbuka lebar untuk kalian". Jawab pak Kerto. Dan Adinata beserta paman gembul dan nyi lastri melanjutkan perjalanan menuju gunung api purba nglanggeran.

Bersambung

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Menemui Bocah Sakti Ke Gunung Api Purba Nglanggeran (bagian 4)

Sore harinya Adinata beserta paman gembul dan nyi lastri sudah sampai ke jalan yang menanjak yaitu irung petruk. Perlahan-lahan mereka bertiga berjalan menuju ke arah Patuk dimana Gunung Purba Nglanngeran berada. "Aduh, kakang Gembul, aku sudah tak kuat berjalan" berkata Nyi Lastri mengeluh pada paman gembul. "Digendong saja paman, kamu kuat kan?" kata Adinata sedikit menggoda paman gembul. "Kamu mau nyi, saya gendong?" tanya paman gembul kepada Nyi Lastri istrinya. "Mau kakang" kata Nyi Lastri sambil sedikit mengangguk malu-malu. Adinatapun tersenyum namun pura-pura tidak melihat kemesraan antara paman gembul dan Nyi Lastri. "Ah, kenapa aku jadi teringat Ambarwati, semoga ia baik-baik saja" batin Adinata.

Malam harinya tibalah mereka bertiga di dusun nglanggeran patuk. Mereka bertiga kemudian menuju ke sebuah warung nasi yang masih buka. Mereka bertiga segera duduk di lincak mengelilingi sebuah meja makan sederhana yang terbuat dari kayu jati. "Mau makan apa tuan?" tanya seorang wanita separuh baya dengan ramah. "Disini ada menu apa saja mbok?" tanya Adinata. "Disini menunya ada Soto ayam, sate ayam, belalang goreng, sayur lombok ijo dan nasi merah, nasi tiwul, dan bakmi jawa" kata Mbok penjual warung. "Wah lengkap sekali, kalau minumannya ada apa saja?" tanya adinata lagi. "Disini ada Wedang teh nasgitel, wedang jahe susu, wedang sereh den" kata Mbok penjual nasi. "Minumannya juga lengkap ya Den Nata" kata paman gembul. Adinatapun mengangguk meniyakan perkataan paman gembul. "Nama simbok siapa ya kalau boleh tahu?" tanya Nyi Lastri. "Nama saya Mbok Mirah cah ayu" jawab simbok penjual nasi. "Oh mbok mirah, kenalkan saya lastri, dan ini suami saya gembul dan ini den adinata majikan kami" Nyi Lastri menerangkan identitas mereka dengan panjang lebar. 

"Mbok Mirah, kami pesan semua makanan dan minuman yang ada disini, tapi hangatkan dulu ya mbok" kata Adinata. "Iya Den, saya siapkan dulu silahkan beristirahat dulu. Mbok mirah kemudian segera menyiapkan makanan dan minuman. Sekitar setengah jam kemudian makanan dan minumannya sudah siap. Adinata, paman gembul dan nyi lastri segera menikmati makanan dan minuman itu dengan lahap karena sangat lapar setelah menempuh perjalanan yang sangat jauh.

Setelah selesai makan Adinata bertanya pada Mbok Mirah. "Mbok adakah tempat penginapan disini, karena kami sangat kelelahan dan ingin beristirahat?" tanya Adinata. Disini tidak ada tempat penginapan den, tapi kalau mau, aden bertiga boleh menginap dirumah saya. Tentu saja saya sangat senang sekali jika kalian mau menginap dirumah saya yang sederhana" kata Mbok Mirah panjang lebar. "Tentu saja kami sangat mau mbok, dimana ya letak rumah Mbok Mirah?" tanya Adinata. "Oh, tempatnya agak masuk kedalam dusun den, mari ikuti saya. Kebetulan saya juga sudah mau tutup" berkata Mbok Mirah mengajak Adinata, paman gembul serta Nyi Lastri. Dan malam itu mereka bertiga beristirahat dirumah Mbok Mirah di dusun nglanggeran.

Bersambung

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Menemui Bocah Sakti Ke Gunung Api Purba Nglanggeran (bagian 3)

Tiga hari kemudian, diselenggarakanlah pesta pernikahan yang meriah. Pernikahan diselenggarakan di rumah Ki Gede Aryaguna. Semua biaya ditanggung oleh Ki Gede Aryaguna. Dalam pernikahan itu ada hiburan paginya jathilan dan malamnya wayangkulit semalam suntuk dengan mengundang dalang yang sangat terkenal di wilayah Mataram. Warga kalibirupun sangat bergembira dan berbahagia dengan adanya hiburan gratis tersebut. Paman gembul dan Nyi Lastripun sangat berbahagia dengan kemeriahan acara pernikahannya dan tidak henti-hentinya mengucapkan terimakasih yang tidak terhingga kepada Ki Gede Aryaguna. Paman Gembul dan Nyi Lastri juga sangat berterimakasih kepada Adinata dan Senopati Puspanidra yang telah mendukung terselenggaranya pernikahan dadakan tersebut.

Pada suatu pagi, setelah sepasaran manten, Adinata, paman gembul dan Nyi Lastri mohon pamit kepada Ki Gede Aryaguna untuk mencari Ambarwati ke Gunung Purba Nglanggeran untuk menemui Si Bocah Sakti. Adapun senopati Puspanidra kembali ke Kuthagedhe Ibukota kerajaan Mataram dengan membawa tawanan gerombolan penjahat yang tertangkap.

Perjalanan ke Gunung Purba Nglanngeran berjalan dengan lancar. Disepanjang perjalanan paman gembul yang sedang senang hatinya tak henti-hentinya melucu dan membuat Adinata dan Nyi Lastri tidak berhenti tertawa sampai sakit perutnya. Siang harinya sudah separuh perjalanan, Adinata beserta paman gembul dan nyi lastri mampir makan siang di warung nasi mbah Kromo. Warung itu sangat terkenal di Mataram. Di warung tersebut tersedia semua makanan yang enak-enak dan berbagai minuman yang juga tak kalah segarnya. Ada nasi putih, nasi merah, nasi tiwul, nasi jagung; sayurnya ada  gudek, krecek, pare, bayam, asem-asem, dan masih banyak lagi; minumnya ada teh panas, jahe, wedang uwuh, wedang bajigur, legen dan masih banyak lagi. Karena lapar ketiganya makan dengan lahap. Setelah selesai makan, beristirahat sebentar dan beribadah, mereka melanjutkan perjalanan.

Bersambung

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Menemui Bocah Sakti Ke Gunung Api Purba Nglanggeran (bagian 2)

Di hari berikutnya Adinata berbincang-bincang dengan Ki GedeAryaguna dan Senopati Puspanidra. Paman Gembul juga ada di teras namun tidak ikut bergabung dalam perbincangan. Adinata melihat Ki Gede Aryaguna kelihatan nampak sedih. "Ki Gede, ada apa gerangan Bopo bersedih, adakah yang bisa saya bantu?" bertanya Adinata. "Terimakasih Ngger, sudah perhatian dengan Bopo. Sebenarnya Bopo sedih karena Nimas Ambarwati belum jelas nasibnya sampai sekarang". "Oh, begitu Bopo, saya bersedia untuk mencarinya sampai ketemu karena saya juga sangat mengkhawatirkannya, tapi adakah petunjuk Bopo saya harus mencari kemana?" bertanya Adinata. "Carilah ke Gunung Purba Nglanggeran, karena terakhir saya lihat dia dibawa oleh Si Bocah Sakti" saran Ki Gede Aryaguna. "Baiklah Bopo, saya akan segera mencari Nimas Ambarwati secepatnya, kalau perlu hari ini juga saya berangkat" jawab Adinata dengan mantap. 

Tidak berapa lama kemudian Nyi Lastri datang membawakan wedang jahe dan peyek kacang. "Mari silahkan diminum, monggo Adi Senopati dan Ngger Adinata" Ki Gede Aryaguna mempersilahkan. "Paman Gembul, mari ikut minum disini, ini lho ada peyek kacang kesukaanmu" ujar Adinata menawarkan makanan dan minuman untuk paman Gembul. "Terimakasih Den Nata, saya nanti saja di dapur, emm bolehkah saya bertanya?" tanya paman Gembul ragu-ragu. "Silahkan paman, ada apa?" jawab Adinata mempersilahkan. "Bolehkah paman ikut den nata mencari den ayu Ambarwati, karena saya juga mengkhawatirkannya?" tanya paman gembul. "Iya Den Nata, bolehkah jika saya juga ikut mencari Den Ayu Ambarwati, karena saya yang merawatnya sejak kecil, jadi saya juga kepikiran terus dengan keselamatan Den Ayu" kata Nyi Lastri. "Hmm, bagaimana ini Bopo?" tanya Adinata meminta pertimbangan. "Sudah ijinkan saja Adi, tapi sayaratnya mereka harus dinikahkan dulu" saran Ki Senopati. 

"Benar sekali saran dari Senopati Puspanidra, ijinkan saja mereka ikut mencari Nimas Ambarwati, tapi memang sebaiknya mereka dinikahkan dulu, supaya tidak timbul fitnah" kata Ki Gede Aryaguna membenarkan saran dari senopati Puspanidra. "Bagaimana paman gembul dan nyi Lastri, apakah kalian bersedia untuk dinikahkan dalam waktu dekat ini?" tanya Ki Gede Aryaguna. "Alhamdulilah, kami berdua sangat setuju kalau dinikahkan, tapi terus terang kami belum ada persiapan biaya Ki Gede" jawab paman gembul dengan jujur. "Sudahlah, kalau masalah itu kamu tidak usah memikirkan, biar nanti saya berembug dengan orangtua kalian bagaimana sebaiknya" kata Ki Gede menenangkan paman gembul. "Sekarang silahkan kalian bilang dulu kepada orangtua kalian masing-masing biar nanti tidak kaget" nasihat Ki Gede Aryaguna. "Baik Ki Gede, terimakasih sekali, mari Den Nata, Den senopati, kami berdua pamit kebelakang" ujar paman gembul pamit. "Mari Nyi kita kebelakang" ajak paman gembul pada Nyi Lastri. "Paman gembul, Nyi Lastrinya digandeng jangan sampai jatuh" kata Adinata menggoda. "Ah, den nata bisa saja" jawab paman gembul malu-malu. Nyi Lastri yang mendengar godaan Adinata ikut tertunduk malu namun ada rasa sangat bahagia dihatinya karena sebentar lagi akan dilamar oleh paman gembul.

Bersambung

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Menemui Bocah Sakti Ke Gunung Api Purba Nglanggeran (bagian 1)

Ki Gede Aryaguna mengoleskan minyak kayu putih ke hidung dada dan punggung Adinata. Tidak berapa lama kemudian Adinatapun tersadar dari pingsannya. "Alhamdulilah kamu sudah sadar ngger" berkata Ki Gede Aryaguna dengan lemah lembut. "Dimanakah aku Ki Gede ?" kata Adinata masih agak bingung karena baru terbangun dari pingsannya. Kamu masih di lapangan dusun Hargowilis Ngger, untung kamu tidak kurang suatu apa. Marilah kita beristirahat dirumah biar kamu bisa diobati lebih lanjut" berkata Ki Gede Aryaguna panjang lebar. "Terimakasih Ki Gede" jawab Adinata. "Anakmas Senopati, kamu minta tolonglah kepada adik seperguruan ananda Adinata untuk memapah Adinata kerumahku, dan sekalian umumkan kepada seluruh prajurit dan para pemuda kalbiru untuk beristirahat dan makan dirumahku" kata Ki Gede. "Baiklah Ki Gede, lalu bagaimana dengan para prajurit dan pemuda yang gugur, juga penjahat yang tewas" tanya Senopati Puspanidra. "Kuburkanlah dengan cara yang wajar dan selayaknya"saran Ki Gede Aryaguna. "Baiklah Ki Gede, saran dan nasihat Ki Gede akan segera saya kerjakan" jawab Senopati Puspanidra.

Setelah prosesi pemakaman selesai kemudian para prajurit dan pemuda kalibiru serta orangtua dan anak-anak bersama-sama menuju rumah Ki Gede Aryaguna. Di rumah Ki GedeAryaguna telah disediakan berbagai makanan dan minuman yang telah dimasak di dapur umum. Ada gudek, Sate Klatak, Bakpia, sayur krecek, geplak, gatot, nasi tiwul, tengkleng, jadah tempe dan nasi pondoh. Untuk minuman ada wedang bajigur, wedang sereh, wedang uwuh, kopi, teh, air kelapa muda dan masih banyak lagi.

"Warga Kalibiru sekalian, marilah kita doakan para prajurit mataram dan para pemuda kalibiru yang telah gugur melawan gerombolan penjahat yang akan memberontak terhadap kerajaan Mataram agar amal baiknya diterima disisi-Nya, dan disini kita juga bersyukur bahwa kita mampu mengalahkan gerombolan para penjahat itu dengan korban yang sedikit. Mari sebelum menikmati hidangan kita berdoa terlebih dahulu agar keberkahan selalu menyertai kita semua" berkata Ki Gede Aryaguna kemudian memimpin doa.

Setelah itu seluruh warga Kalibiru menikmati semua hidangan yang telah disediakan. Semuanya bersuka cita karena telah mampu mengalahkan gerombolan penjahat yang selalu meresahkan warga kalibiru. Para prajurit mataram dan warga tanah perdikan Kalibiru asyik bercerita tentang pertarungan di lapangan pinggir desa hargowilis. Warga dan prajurit mataram sangat kagum dengan para pemuda yang sudah berilmu tinggi seperti Adinata dan senopati Puspanidra. Banyak yang kemudian berencana menuntut ilmu silat diperguruan lereng merapi.

Bersambung

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Bangkitnya Ksatria Mataram (Bagian 8)

Ki Jangkung segera mempersiapkan diri. Dengan tangan kiri memegang tombak obar abir yang mengeluarkan hawa panas yang luar biasa sementara tangan kanannya diangkat keatas seolah sedang menyerap hawa dingin disekitarnya, inilah ilmu puncak Ki Jangkung yang sangat dahsyat, tangan kiri memegang tombak dengan hawa panas yang berkobar-kobar membakar kulit, sedangkan tangan kanan mengeluarkan hawa dingin yang luarbiasa sampai menimbulkan butiran-butiran es. Di sekitar Ki Jangkung seolah-olah ada dua musim yang berbeda dan saling berdampingan, musim beku dan musim panas. Panas dan dingin yang silih berganti ini untuk orang biasa bisa menghancurkan tubuhnya.

Penontonpun bergerak semakin menjauh. Mereka tidak kuat merasakan hawa panas dan hawa dingin yang silih berganti menyerang. Namun mereka tetap penasaran. Penontonpun tetap melihat pertarungan yang sangat menegangkan dan mengerikan itu dari jauh.

Namun bukanlah Adinata jika harus panik dan takut melihat ilmu lawan. Adinatapun berkonsentrasi. Kemudian dengan gerakan yang tidak terduga, Adinata seolah-olah telah membelah diri menjadi tiga orang. Inilah yang dinamakan jurus bayangan, hasil pengembangan ilmu meringankan tubuh yang diajarkan Ki Gede Aryaguna. Adinata memang suka menyerap ilmu dan menciptakan ilmu baru berdasarkan pengalaman yang sudah ada. Adinata dan bayangannya kemudian mempersiapkan diri untuk mengeluarkan jurus getar bumi yang sudah mencapai sempurna. 

Ketika Adinata sedang membangkitkan jurus getar bumi andalannya, bumi tiba-tiba bergetar hebat seolah-olah sedang terjadi gempa bumi, burung-burungpun beterbangan kesana kemari, pohon-pohon disekeliling arena pertarungan menjadi roboh seolah tertiup angin, hawa panas dan hawa dingin akibat dari jurus tapak api birupun menjadi buyar seketika, dan cuaca kembali normal.

Tidak berapa lama kemudian, sambil berteriak Ki Jangkung langsung menyerang Adinata dengan ilmu puncaknya tapak api biru, "matilah kau bocah tengik" teriak Ki Jangkung. Namun yang cukup mengagumkan, Ki Jangkung seolah-olah menjadi tiga bayangan dan masing-masing menyerang bayangan dari Adinata. Mendapat serangan dari Ki Jangkung Adinatapun sama sekali tidak menghindar. Ia memang berniat membenturkan ilmunya. Tanpa dapat dihindari, akhirnya benturan dua ilmu yang dahsyat itu terjadi. Telapak kanan Ki Jangkung dengan tapak api birunya bertemu dengan telapak kanan Adinata yang menggunakan pukulan telapak geledek.

Seolah-olah terjadilah ledakan yang luar biasa, keduanya terlempar kebelakang. Ki Jangkung tidak bisa berdiri tegak, demikian juga dengan Adinata. Tidak berapa lama kemudian keduanya jatuh tumbang kebumi. Namun tiba-tiba datanglah sekelebat bayangan yang menyambar tubuh Ki Jangkung dan langsung menghilang. Ki Gede Aryaguna melihatnya dan mengenal orang itu. "Hmm itu kan guru Ki Jangkung, rupanya ia masih hidup" batin Ki Gede Aryaguna. Namun ia tidak berlama-lama termangu dan segera menolong Adinata yang jatuh pingsan.

Bersambung

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Bangkitnya Ksatria Mataram (Bagian 7)

"Hentikan Ki Jangkung, akulah lawanmu yang sebenarnya" teriak Adinata berusaha menghentikan pertarungan antara Ki Jangkung dengan Ki Gede Aryaguna. Ki Jangkungpun meloncat kebelakang dan menhentikan pertarungan. Iapun menengok ke arah Adinata yang kelihatan segar bugar. ki Jangkungpun terheran-heran dengan keadaan Adinata itu. "Hmm, dia kan sudah terkena jarum beracun yang sangat ganas, ternyata ia masih hidup dan bahkan kelihatan segar bugar" suara batin Ki Jangkung. "Hebat juga kamu anak muda, tapi mohon maaf, kamu akan segera mampus ditanganku" berkata Ki Jangkung masih dengan kesombongannya meskipun batinnya agak keder juga.

Ki Jangkung langsung melompat menyerang Adinata dengan senjata tombak obar-abirnya yang mempunyai pamor berwarna-warni dan mengeluarkan hawa panas yang membakar kulit. Namun Adinata hanya mampu menghindar saja karena ia tidak membawa senjata. Namun tiba-tiba Bhadrika datang mendekati Adinata dan berusaha menyerahkan sepasang pedang kembar tipis yang kelihatannya sangat tajam sekali. "Kakang, ini guru menitipkan pedang ini untuk kakang" teriak Bhadrika. Adinatapun meloncat mundur kebelakang dan menerima pedang dari Bhadrika. "Terimakasih Adi Badrika" ucap Adinata. Mengetahui hal tersebut Ki Jangkung membiarkannya. "Bagus sekali anak muda, gunakanlah senjatamu biar pertarungan kita serasa adil" berkata Ki Jangkung sok bijaksana.

Ki Jangkungpun kembali menyerang Adinata dengan tombaknya. Namun kali ini Adinata tidak berusaha menghindar namun berusaha menangkis dengan pedang tipisnya. Pertarunganpun semakin seru. Keduanya saling jual beli serangan. Perlahan-lahan kedua pendekar yang bertarung itu mulai terluka karena terkena goresan senjata lawan. Namun kembali ada sesuatu yang aneh, hawa panas yang dikeluarkan oleh tombak obar-abir itu justru terasa hangat di badan Adinata dan bahkan perlahan-lahan memberikan tambahan energi yang semakin lama semakin menguat. 

Inilah yang dinamakan ilmu energi bara api yang sudah dilatih Adinata sejak bertarung dengan Ki jagratara. Sebenarnya Adinata melatihnya agar mampu menyerap energi dari hawa dingin yang ditimbulkan dari ilmu tapak es. Namun ternyata ilmu itu justru bereaksi terhadap serangan hawa panas dari lawan. Perlahan-lahan keduanyapun kelelahan dan tampaknya Ki Jangkung sudah tidak sabar bermain-main dengan senjata dan bersiap-siap untuk melepaskan ilmu puncaknya, tapak api biru.

Bersambung

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Bangkitnya Ksatria Mataram (Bagian 6)

Melihat muridnya tewas dalam pertarungan, seketika kemarahan Ki Jangkung menggelegak. Ia marah sekali dengan senopati Puspanidra dan ingin sekali membunuhnya dengan tangannya sendiri. "Kurang ajar kamu antek mataram, mampuslah kamu di tangan tombakku ini". Ki Jangkung mengeluarkannya tombak andalannya dimana mata atau kepala tombaknya dapat mengeluarkan pamor berwarna-warni. Menyadari hal ini Ki Gede Aryaguna berteriak memperingatkan Senopati Puspanidra. "Hati-hati Anakmas, Ki Jangkung menggunakan senjata yang sangat berbahaya yaitu tombak obar-abir, tombak itu bisa membuatmu kulitmu serasa terbakar". "Baik Ki Gede" jawab Senopati Puspanidra.

Ki Jangkung lalu dengan ganasnya menyerang senopati puspanidra dengan tombak andalannya. Dan benar lingkungan disekitar arena pertarungan menjadi panas tidak terkira. Senopati Puspanidrapun mengeluh. Kulitnya serasa terbakar. Tombak Ki Jangkung itu seperti berkeliaran disekeliling badannya dan berusaha untuk melukai dan menusuknya. Senopati Puspanidra benar-benar kehilangan konsentrasi karena hawa panas yang dikeluarkan oleh tombak obar-abir itu.

Penonton pertarungan yang semula berkerumun kemudian menjauh karena menghindari hawa panas yang keluar dari tombak Ki Jangkung. Meskipun begitu penonton dari sisi gerombolan penjahat yang berniat memberontak terhadap kerajaan mataram bersorak-sorai karena merasa pemimpinnya akan berhasil mengalahkan senopati Puspanidra.

Di sisi lain Adinata yang sedang berusaha mengeluarkan racun dari badannya justru merasakan hal yang aneh. Hawa panas yang dikeluarkan oleh tombak obar-abir itu justru mampu menghangatkan badannya dan membantunya lebih cepat untuk mengeluarkan racun dari dalam tubuhnya. "Bersabarlah sebentar Kakang Puspanidra, aku akan segera menggantikanmu untuk bertarung melawan Ki Jangkung" berkata Adinata dalam hatinya.

Keadaanpun menjadi semakin genting. Senopati Puspanidra benar-benar sudah putus asa. Kulitnya mulai memerah dan mengelupas karena saking panasnya tombak obar-abir. Bahkan tombak itu telah berhasil menggores pinganggnya. "Aduh panas sekali" teriak Senopati Puspanidra sambil meloncat jauh kebelakang. Melihat Senopati Puspanidra terluka Ki Jangkung semakin bernafsu untuk membunuhnya.

Namun tiba-tiba Ki Gede Aryaguna menyerang Ki Jangkung dengan tangan kosong. Merasa niatnya diganggu oleh Ki Gede Aryaguna iapun menjadi marah. Iapun langsung menyerang menggunakan tombak obar-abir ditangannya. Ki Gede Aryaguna yang menguasai jurus meringankan tubuh hanya bisa menghindar dari setiap serangan Ki Jangkung sambil berharap ada suatu keajaiban yang bisa membalikan keadaan.

Menyadari bahwa calon mertuanya maju melawan Ki Jangkung yang sangat berbahaya Adinata menjadi sangat khawatir. Ia memusatkan seluruh konsentrasinya dan dengan sekuat tenaga ia berhasil memuntahkan racun yang sangat mematikan itu keluar dari mulutnya. Kemudian dengan serta merta ia bangkit dari tidurnya lalu dengan gerak cepat Adinata berdiri terbalik dengan hanya menggunakan satu jari saja dan memusatkan seluruh racun yang tersisa agar dapat keluar dari mulutnya. Inilah inti dari jurus pembalik raga penghancur bala yang diajarkan oleh Ki Gede Aryaguna.

Bersambung

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Popular Posts

Blog Archive

Diberdayakan oleh Blogger.
Copyright © Cerita Silat Harimau Merapi | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com